Jakarta, Dentmas.id – Dunia teknologi dan keuangan kembali diguncang oleh kabar mengejutkan dari perusahaan kecerdasan buatan paling bergengsi di dunia, OpenAI. Beredar informasi kuat bahwa raksasa AI di balik keajaiban ChatGPT ini berniat menawarkan sebanyak 5 persen saham perusahaan kepada Pemerintah Amerika Serikat. Jika dihitung dengan kurs saat ini, nilai jualnya fantastis, mencapai 42,6 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp 765 triliun! Angka ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan kalkulasi serius yang didasarkan pada valuasi OpenAI pasca putaran pendanaan raksasa pada Maret 2026 yang menyentuh angka 852 miliar dolar AS (sekitar Rp 15.306 triliun).
Bocoran dari Financial Times: Ini Bukan Sekadar Rumor
Fakta mengejutkan ini pertama kali dibocorkan oleh media terkemuka asal Inggris, Financial Times. Dalam laporannya, mereka mengutip secara eksklusif dari dua orang sumber internal yang benar-benar memahami situasi di dalam ruang rapat para petinggi OpenAI. Lantas, apa sebenarnya yang melatarbelakangi langkah nekat namun penuh perhitungan ini? Mengapa Sam Altman, sang CEO visioner, rela melepas sebagian kecil kepemilikan perusahaannya kepada tangan pemerintah?
Para analis langsung ramai-ramai menebak, dan jawabannya ternyata sangat politis. Langkah ini ditempuh OpenAI sebagai jurus jitu untuk meredakan tekanan politik yang kian membara di Negeri Paman Sam. Ya, pemerintahan di Washington saat ini sedang sangat getol mengawasi pergerakan industri AI yang tumbuh super cepat, dan OpenAI merasa perlu mengambil inisiatif sebelum terlambat.
Menurut penuturan sumber terpercaya itu, Sam Altman berpandangan sangat cerdas bahwa membagi kepentingan finansial kepada publik adalah jalan terbaik untuk menciptakan rasa memiliki. Dengan cara ini, OpenAI tidak hanya dianggap sebagai perusahaan swasta yang serakah, melainkan mitra strategis pemerintah yang siap berbagi keuntungan masif dari revolusi AI. Ini adalah cara Altman untuk berkata, “Kami tumbuh bersama Amerika,” sehingga resistensi dari para regulator bisa diredam secara halus.
Bukan Hanya OpenAI, Raksasa Lain Juga Terancam Ikut Andil
Lebih menariknya lagi, usulan pembagian saham OpenAI ini ternyata hanya bagian kecil dari wacana besar yang sedang hangat diperbincangkan di kalangan kampus dan gedung parlemen. Diskusi awal tentang regulasi baru sedang mengarah pada pembentukan aturan yang akan menetapkan bahwa badan pemerintah AS berhak memegang 5 persen saham dari setiap perusahaan AI ternama di AS. Bayangkan, ini bukan hanya menyasar OpenAI sendirian!
Wacana besar ini kemungkinan besar juga akan mencakup raksasa teknologi lain seperti Anthropic yang digawangi oleh para mantan petinggi OpenAI, Google yang tak pernah ketinggalan dalam inovasi AI, hingga Meta milik Mark Zuckerberg. Artinya, jika kebijakan ini benar-benar terwujud, maka selain OpenAI, ketiga maharaja teknologi AI AS tersebut juga bakal diwajibkan untuk membagikan porsi sahamnya kepada sang regulator. Ini adalah lompatan besar yang akan mengubah peta kekuasaan di Silicon Valley secara dramatis!
Namun, kepastian soal kesepakatan ini masih menggantung di udara. Belum diketahui secara gamblang apakah persentase 5 persen yang diusulkan OpenAI akan mendapatkan lampu hijau dari semua pihak terkait atau justru akan memicu perdebatan sengit. Pihak Gedung Putih saat ini masih memilih bungkam, demikian pula dengan juru bicara OpenAI, Google, dan Meta yang belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan yang merebak ini. Di sisi lain, kabar terbaru menyebutkan bahwa pihak Anthropic tampaknya belum ikut mendiskusikan perkara pelik tersebut dengan pemerintah AS, sehingga posisi mereka masih menjadi tanda tanya besar.
Ancaman Siber dan Saingan China: Alasan di Balik Gercepnya Pemerintah AS
Kronologi ini tentu tidak muncul begitu saja. Isu ini muncul tepat di tengah meningkatnya perhatian pemerintah AS yang super intens terhadap industri kecerdasan buatan. Washington, D.C., dikabarkan sangat khawatir terhadap potensi risiko keamanan siber yang mengintai dari model AI canggih. Bayangkan, jika model-model ini jatuh ke tangan yang salah, bisa jadi bencana digital! Selain itu, kekhawatiran juga dipicu oleh meningkatnya persaingan ketat dari model AI open source asal China yang dinilai memiliki kemampuan mendekati model-model unggulan AS, namun dengan biaya pengembangan yang sangat rendah. Ini jelas menjadi tamparan keras bagi industri AS yang terbiasa menghabiskan dana milyaran dolar.
Bukan tanpa alasan, belum lama ini Anthropic bahkan sempat mengambil langkah drastis dengan menonaktifkan akses ke model AI terbarunya. Mereka terpaksa melakukan itu semata-mata demi mematuhi aturan pengendalian ekspor yang ditetapkan pemerintah AS. Kabar baiknya, akses tersebut akhirnya dipulihkan setelah perusahaan tersebut mengambil langkah-langkah ketat yang diminta oleh regulator. Ini menunjukkan betapa kerasnya genggaman pemerintah terhadap perkembangan AI saat ini.
Fakta menarik lainnya, gagasan pemerintah AS memiliki saham di OpenAI ternyata bukan barang baru yang muncul tiba-tiba dari angin segar. Media CNBC sebelumnya telah melaporkan bahwa Sam Altman sudah menyampaikan ide brilian ini kepada pemerintahan Trump sejak awal tahun 2025. Jadi, ini adalah strategi jangka panjang yang sudah dimatangkan sejak setahun lebih lalu. Bahkan, pada April 2026 lalu, OpenAI kembali mengusulkan pembentukan public wealth fund, yaitu sebuah dana publik yang akan memiliki aset di berbagai perusahaan AI. Tujuannya mulia: agar keuntungan ekonomi dari perkembangan AI yang melesat dapat dinikmati oleh masyarakat luas secara lebih merata, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya di puncak piramida.
Melihat sejarahnya, pemerintahan Trump sebelumnya memang bukanlah hal aneh untuk mengambil kepemilikan saham di sejumlah perusahaan swasta. Mereka pernah melakukan hal serupa pada raksasa teknologi seperti Intel dan IBM. Bahkan, dalam sebuah pernyataan yang sempat terekam, Trump pernah menyebut kepemilikan pemerintah di perusahaan AI sebagai “hal yang indah”. Argumennya sederhana namun menggugah: hal itu dapat membuat warga Amerika menjadi “mitra dalam revolusi AI” dan merasakan langsung manfaat dari ledakan teknologi yang akan mengubah dunia.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










