Dentmas.id – Suasana mencekam mendadak menyelimuti Prancis saat kerumunan massa nekat menerobos masuk dan menjarah dua toko resmi Apple Store pada Sabtu (17/10/2026) waktu setempat.
Aksi kriminal yang menghebohkan publik ini sejatinya terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar, di mana warga meluapkan kemarahan akibat lonjakan biaya hidup yang meluas ke kota-kota Prancis.
Jika mengutip laporan resmi kantor berita AFP beserta media lokal, dua gerai Apple yang menjadi sasaran amukan penjarah berlokasi di kota Lille dan Bordeaux.
Tak butuh waktu lama, beberapa warganet di platform X—salah satunya akun @gautierbonhour—segera membagikan rekaman video yang merekam detik-detik saat Apple Store Bordeaux digedor massa.
Apabila masyarakat menyaksikan tayangan video viral tersebut, publik melihat dengan jelas puluhan orang berlarian masuk ke area dalam toko tanpa hambatan.
Kendati demikian, rekaman amatir itu sejujurnya belum bisa mengonfirmasi deretan barang yang berhasil digondol maupun mengalkulasi jumlah pasti perangkat yang dicuri.
Alhasil, pihak otoritas maupun manajemen toko hingga detik ini belum mempublikasikan informasi resmi terkait total gawai yang hilang atau besaran kerugian materi akibat penjarahan massal tersebut.
Akan tetapi, imbas kerusakan parah ini secara otomatis menghentikan operasional toko, sehingga pelanggan terpaksa gigit jari karena gerai tidak melayani pembelian maupun purnajual.
Selain kehancuran di Lille dan Bordeaux, rumor liar di media sosial juga mengklaim bahwa gerai Apple Store di kawasan Opera, Paris, turut dibobol massa.
Kendati isu tersebut menyebar cepat, laporan mengenai kejadian di Paris rupanya belum memperoleh konfirmasi resmi, sehingga belum dapat dipastikan sebagai bagian dari insiden kerusuhan ini.
Di sisi lain, pihak korporasi Apple sendiri sejauh ini masih memilih bungkam dan belum mempublikasikan siaran pers resmi guna merespons aksi penjarahan yang merusak dua gerai mereka.
Padahal, jika mengacu data resmi Apple, Prancis sejatinya memiliki sekurang-kurangnya 20 gerai Apple Store yang beroperasi aktif di seluruh penjuru negeri.
Bikin Syok! Gerai Apple Lille Terpaksa Tutup Total Hingga 21 Oktober
Aksi pengrusakan dan penjarahan ini tentu saja langsung menghantam keras roda bisnis dan operasional harian di kedua toko Apple tersebut.
Berdasarkan ulasan media teknologi Prancis, Consomac, gerai Apple di Lille terpaksa mengambil keputusan untuk menutup pintu rapat-rapat hingga Rabu (21/10/2026).
Sementara itu, tim pengelola Apple Store di Bordeaux membutuhkan tenggat waktu guna membersihkan puing-puing peninggalan penjarah serta menata ulang toko sebelum beroperasi kembali.
Oleh karena itu, pihak manajemen akhirnya menjadwalkan pembukaan kembali gerai Bordeaux pada Senin (19/10/2026) tepat pukul 14.00 waktu setempat.
Lebih lanjut, jurnalis Consomac menyoroti lokasi toko Apple yang menjadi mangsa massa, di mana toko yang menjadi korban kerusuhan ini—maupun aksi masa lalu—pada umumnya berdiri di sepanjang jalan perbelanjaan terbuka di pusat kota.
Sebaliknya, gerai Apple yang bersarang di dalam pusat perbelanjaan atau mal biasanya mengantongi perlindungan ekstra, mengingat pengelola gedung dapat memblokir akses masuk begitu situasi darurat bergejolak.
Di samping masalah ini, korporasi Apple sebenarnya telah lama menggodok rencana membuka cabang ketiga di kota Lyon dengan membidik lokasi strategis di Rue de la Republique.
Padahal, kawasan bisnis yang menjadi incaran Apple tersebut justru tak luput dari amuk massa pada 17 Oktober 2026, walaupun belum ada sinyal apakah insiden ini bakal mengubah rencana ekspansi Apple atau tidak.
Rangkaian kerusuhan ini pada akhirnya menempatkan Apple sebagai salah satu brand global ternama yang menanggung kerugian langsung akibat kemerosotan keamanan di Prancis.
Tak hanya menyasar Apple, kerumunan penjarah di kota-kota lain juga nekat merusak dan menguras isi gerai fesyen mewah seperti Louis Vuitton dan Hermès, serta menyasar supermarket, toko elektronik, hingga apotek lokal.
Tragis! Jeritan Protes Biaya Hidup Tinggi Malah Berujung Aksi Penjarahan Masal yang Mencekam
Pada mulanya, gelombang aksi unjuk rasa yang membakar berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (17/10/2026) meletus murni untuk meluapkan amarah publik terhadap meroketnya biaya hidup, harga bahan bakar, ketimpangan sosial, serta memburuknya layanan publik seperti pendidikan.
Namun sayangnya, aksi penyampaian pendapat rakyat tersebut mendadak berubah brutal lantaran meletusnya bentrokan fisik yang tak terhindarkan antara kubu demonstran dan polisi.
Menurut pengamatan lapangan, kelompok-kelompok bertopeng secara provokatif menghancurkan etalase pertokoan, menyulut api pada kendaraan, menguras barang di pusat perbelanjaan, hingga merusak gedung publik di beberapa kota Prancis.
Merespons situasi panas ini, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengonfirmasi melalui laporan AFP bahwa aparat kepolisian telah meringkus sedikitnya 1.200 perusuh hingga Sabtu malam, sementara 150 personel kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka akibat hantaman kerusuhan.
Terkait estimasi massa, Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat partisipasi sekitar 550.000 demonstran di seluruh negeri, sedangkan serikat pekerja CGT mengklaim jumlah pengunjuk rasa sebenarnya mencapai 800.000 orang.
Melihat situasi negara yang kian panas, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan kecaman keras terhadap segala bentuk perusakan fasilitas dan aksi penjarahan liar yang merusak jalannya demonstrasi.
Selanjutnya, Presiden Macron menegaskan dengan nada mantap bahwa setiap oknum yang terbukti menyerang sektor usaha, merusak fasilitas publik, dan menjarah toko akan diseret untuk menjalani proses hukum yang berlaku.
Senada dengan ketegangan tersebut, Perdana Menteri Sebastien Lecornu turut mengutuk keras gelombang kekerasan yang terjadi, seraya menegaskan bahwa aksi penjarahan dan vandalisme ini sangat merugikan karena telah melenceng jauh serta mengalihkan perhatian publik dari tuntutan ekonomi murni yang awalnya diusung oleh gerakan aksi damai warga.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










