Dentmas.id — Kabar mengejutkan tiba-tiba menggelegar dari jagat teknologi global ketika platform raksasa desain favorit jutaan orang, Canva, secara tak terduga mengumumkan badai restrukturisasi masif yang merombak total jajaran organisasi mereka dan secara mendadak mengancam nasib lebih dari 1.200 karyawan yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Badai Perombakan Masif: Momen Terberat Sepanjang 13 Tahun Sejarah Canva
Sebagai dampaknya, manajemen Canva secara resmi mengonfirmasi bahwa terdapat 1.271 pekerja yang langsung terdampak badai efisiensi ini, di mana angka spektakuler tersebut mewakili sekitar 22 persen dari keseluruhan total angkatan kerja global mereka. Oleh karena itu, sebagian besar dari pekerja malang ini terpaksa menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara tiba-tiba, sedangkan sebagian staf lainnya mendapatkan perintah tegas untuk segera memboyong hidup mereka menuju hub-hub kantor terpusat yang telah ditentukan perusahaan.
Sementara itu, Sang CEO sekaligus pendiri Canva, Melanie Perkins, dengan raut penuh penyesalan terang-terangan menyebut bahwa keputusan yang amat memilukan hati ini merupakan fase paling kelam dan paling berat sepanjang 13 tahun sejarah perjalanan mereka dalam merajai industri kreatif digital.
“Bahkan tanpa keraguan sedikit pun, momen menyakitkan ini benar-benar menjadi ujian tersulit dan paling menantang dalam 13 tahun perjalanan panjang kami,” ungkap Melanie Perkins secara emosional melalui surat elektronik internal yang dikirimkan langsung kepada seluruh karyawannya, sebagaimana dilaporkan secara eksklusif oleh media terkemuka The Guardian pada Rabu (4/11/2026).
Selanjutnya, sosok pimpinan perempuan tersebut juga menambahkan kalimat yang menyayat hati dalam pesan resminya, “Bagi sebagian staf, skenario pahit ini menuntut pergeseran peran secara drastis atau kewajiban untuk segera merelokasi diri menuju hub kantor utama. Niat hati ingin terus berjalan bersama, tetapi sayangnya kami terpaksa harus mengikhlaskan perpisahan dengan para sahabat hebat serta rekan seperjuangan yang telah mendedikasikan keringat mereka untuk membesarkan Canva hingga mencapai titik kejayaan sekarang ini.”
Kendati demikian, pihak manajemen puncak Canva hingga detik ini sengaja memilih untuk menyembunyikan rincian pasti mengenai berapa jumlah pasti dari 1.271 karyawan tersebut yang murni terkena eksekusi PHK dan berapa banyak pekerja yang sekadar mendapatkan mandat relokasi tempat tinggal.
Padahal, jika membedah dari sudut pandang strategi bisnis, Canva beralasan bahwa perombakan ekstrem ini terpaksa mereka jalankan demi memangkas birokrasi organisasi yang terlalu gemuk atau istilah kerennya collapsing layers, sehingga para staf dapat kembali bertatap muka serta bekerja memeras otak secara langsung di ruang kantor yang sama.
Lebih lanjut, Melanie Perkins menyadari betul bahwa memindahkan basis kehidupan ke tempat baru bukanlah urusan sepele yang mudah bagi para stafnya. Oleh sebab itu, Canva mengeklaim sudah menyiapkan jaring pengaman serta berbagai paket bantuan komprehensif bagi seluruh karyawan yang tengah diuji untuk mempertimbangkan opsi relokasi tersebut.
Hujan Kompensasi Fantastis: Pesangon Minimal 6 Bulan Gaji dan Hibah Modal Usaha
Tak hanya melepas karyawan dengan tangan kosong, Canva ternyata diam-diam merancang deretan paket kompensasi bernilai fantastis guna meredam kekecewaan para pekerja yang terpaksa melangkahkan kaki keluar dari gerbang perusahaan.
Oleh karena itu, setiap individu yang masuk ke dalam daftar eksekusi PHK dipastikan bakal mengantongi uang pesangon segar dengan nominal minimum sebesar enam bulan gaji pokok mereka.
Bahkan di berbagai negara yang memiliki aturan jaminan kesehatan berbasis korporasi, Canva secara royal berjanji untuk tetap membayarkan polis asuransi kesehatan para mantan karyawannya hingga 12 bulan penuh pasca-pemutusan hubungan kerja resmi berlaku.
Menariknya lagi, para pekerja yang angkat kaki ini juga mendapatkan kebebasan penuh untuk memboyong pulang serta memiliki secara permanen perangkat laptop kerja mahal yang selama ini menemani aktivitas harian mereka.
Bukan cuma itu saja, sebagai kejutan penutup yang sangat menggiurkan, eks karyawan yang berniat menjajal peruntungan baru diperbolehkan mengajukan hibah dana segar sebesar 10.000 dollar AS atau setara Rp 181,6 juta sebagai modal awal mendirikan bisnis impian mereka sendiri.
Perlu publik pahami, Canva sendiri merupakan salah satu mahakarya startup paling fenomenal dan paling sukses dalam sejarah Australia, yang mana selama beberapa tahun belakangan senantiasa digadang-gadang bakal segera menggelar aksi korporasi besar berupa penawaran saham perdana (IPO) di bursa saham bergengsi Nasdaq, Amerika Serikat.
Bayang-bayang ‘SaaS-pocalypse’: Ketika Monster AI Mengguncang Raksasa Software
Meskipun demikian, kenyataan pahit restrukturisasi Canva ini seolah semakin memperpanjang daftar kelam depresi industri teknologi global yang tiada henti memangkas puluhan ribu tenaga kerja berbakat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Sebelum petaka Canva melanda, raksasa pengembang perangkat lunak asal Negeri Kanguru lainnya, Atlassian, sudah lebih dulu merumahkan sekitar 1.600 karyawannya, disusul gelombang pemangkasan serupa dari Block selaku induk korporasi Afterpay, serta perusahaan teknologi ternama WiseTech Global.
Secara bersamaan, badai perombakan besar di tubuh Canva ini meletus persis di tengah titik krisis industri software yang tengah terguncang hebat akibat ledakan evolusi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Alhasil, ratusan pengembang perangkat lunak kini seperti kesetanan berlomba memasukkan beragam fitur kecerdasan buatan ke dalam platform milik mereka, seraya harus gemetar meladeni ancaman startup AI generasi baru yang sanggup menyajikan fungsi serupa dengan biaya berlangganan jauh lebih murah.
Bahkan, fenomena mengerikan ini melahirkan istilah horor di kalangan investor yang dikenal sebagai “SaaS-pocalypse”, sebuah ketakutan massal bahwa kecanggihan AI yang makin liar bakal memusnahkan keberadaan software-software khusus di masa depan.
Biarpun atmosfer industri sedang mencekam, Canva secara tegas enggan menuding kemajuan AI sebagai kambing hitam di balik keputusan mengejutkan tersebut.
Berdasarkan rilis resmi perusahaan, pimpinan Canva justru melempar fokus utama pada rasionalisasi struktur internal, efisiensi rantai manajemen yang terlalu tebal, serta ambisi besar untuk mengumpulkan seluruh tim ahli agar bisa saling bertukar pikiran secara tatap muka di lokasi fisik yang homogen.
Tentu hal ini cukup unik, mengingat Canva sendiri sebenarnya tergolong sangat agresif dan gencar menyuntikkan berbagai inovasi kecerdasan buatan tingkat tinggi ke dalam ekosistem desain digitalnya selama beberapa tahun belakangan ini, persis seperti yang berhasil dirangkum oleh jurnalis The Guardian.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










