Dentmas.id – Siapa sangka, negara di Timur Tengah ini kini menjelma menjadi “pemburu” raksasa industri game global! Arab Saudi sedang menunjukkan gigi taringnya di panggung dunia maya. Bukan main-main, ambisi mereka untuk menguasai industri game benar-benar nyata dan sudah terbukti dengan deretan akuisisi fantastis yang baru saja mereka lakukan.
Negara yang dikenal dengan kekayaan minyaknya ini ternyata memiliki visi besar untuk masa depan. Mereka tidak hanya berhenti sebagai konsumen game, tetapi juga ingin menjadi pemain utama yang mengatur panggung industri hiburan digital dunia. Untuk mewujudkan mimpi besar ini, Arab Saudi membentuk lembaga khusus yang bertugas menangani urusan game, yaitu melalui dana investasi negara bernama Public Investment Fund (PIF) dan anak perusahaannya, Savvy Games Group.
Melalui lembaga inilah, kerajaan Arab Saudi dengan percaya diri menggelontorkan dana triliunan rupiah. Uang sebanyak puluhan miliar dolar AS mereka siapkan khusus untuk membeli perusahaan-perusahaan game ternama. Target bidikan mereka sangat beragam, mulai dari pengembang (developer) yang menciptakan game, penerbit (publisher) yang mendistribusikannya, hingga penyelenggara turnamen e-sports yang meramaikan kompetisi.
Langkah agresif ini merupakan bagian dari rencana induk mereka yang ambisius, yaitu Program Visi 2030. Arab Saudi tidak ingin lagi dikenal hanya sebagai negara pengekspor minyak. Mereka bercita-cita menjadi salah satu pusat industri game dunia yang baru, dan akuisisi ini adalah jalan pintas untuk mewujudkannya.
Strategi yang mereka pilih sangat cerdik dan tepat sasaran. Alih-alih membangun studio game dari nol yang memakan waktu bertahun-tahun, mereka memilih untuk mengakuisisi perusahaan yang sudah mapan. Dengan cara ini, mereka langsung mendapatkan game-game populer yang sudah memiliki basis pemain besar dan setia di seluruh dunia. Investasi ini bukan sekadar membeli perusahaan, tetapi juga membeli komunitas dan ekosistem yang sudah terbentuk.
Nah, penasaran perusahaan game besar apa saja yang sudah berhasil “diboyong” oleh Arab Saudi? Yuk, kita intip lima daftar raksasa game yang kini berada di bawah kendali mereka, dirangkum dari berbagai sumber terpercaya!
1. Electronic Arts (EA): Gosip Hangat yang Berujung Fakta!
Akuisisi terbesar dan paling mencengangkan baru saja mereka rampungkan! Lewat konsorsium yang dipimpin oleh PIF, Arab Saudi berhasil mengambil alih perusahaan penerbit game raksasa, Electronic Arts atau yang lebih akrab disapa EA. Bayangkan, nilai transaksi fantastis ini mencapai angka 55 miliar dolar AS. Jika dirupiahkan, jumlahnya tembus sekitar Rp 990 triliun! Angka ini bukan main-main dan langsung mencatatkan sejarah sebagai salah satu akuisisi terbesar yang pernah terjadi di industri game.
Melalui transaksi monumental ini, PIF sekarang menguasai sekitar 93,4 persen saham EA. Sisanya berada di tangan firma investasi Silver Lake dan Affinity Partners. Setelah semua proses selesai, EA resmi keluar dari bursa saham Nasdaq. Mereka kini berubah status menjadi perusahaan privat yang sepenuhnya berada di bawah kendali investor baru.
EA sendiri bukanlah perusahaan sembarangan. Mereka adalah salah satu publisher game terbesar di dunia yang menaungi berbagai waralaba super populer. Mulai dari game sepak bola legendaris EA Sports FC, seri perang epik Battlefield, balapan liar Need for Speed, hingga liga American Football Madden NFL. Kini, semua mahakarya itu berada di bawah “payung” kepemilikan baru.
2. Moonton: “Sang Raja” Mobile Legends Resmi Pindah Tangan!
Kabar besar lainnya datang dari ranah game mobile. Pada Maret 2026, Savvy Games Group mengumumkan kesepakatan penting untuk mengakuisisi Moonton. Ini adalah pengembang di balik game fenomenal Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) yang sangat populer. Mereka membeli Moonton dari pemilik sebelumnya, yaitu raksasa teknologi asal China, ByteDance.
Nilai transaksi pembelian ini dikabarkan mencapai sekitar 6 miliar dolar AS. Jika dikonversi, angkanya kurang lebih setara dengan Rp 101 triliun. Akuisisi ini langsung menyita perhatian publik, terutama di Asia Tenggara. Pasalnya, Mobile Legends bukan sekadar game biasa. Game ini adalah raja di ranah mobile dan menjadi bagian dari keseharian jutaan pemain di negara kita, Indonesia.
Yang membuat akuisisi ini semakin menarik adalah, Moonton sebelumnya baru saja diakuisisi oleh ByteDance pada tahun 2021. Kini, hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, mereka kembali berpindah tangan ke penguasa baru dari Timur Tengah. Dengan kepemilikan Moonton, Arab Saudi secara otomatis mendapatkan salah satu properti intelektual (IP) game mobile terbesar di dunia. Mereka juga mendapatkan akses ke ekosistem e-sports yang masif melalui turnamen bergengsi seperti MPL dan M-Series yang selalu dinanti-nantikan para penggemar.
3. Divisi Game Niantic: Pokemon GO Berganti Seragam!
Tahun 2025 menjadi tahun sibuk bagi Savvy Games Group. Melalui anak perusahaannya, Scopely, mereka berhasil mengakuisisi divisi bisnis game milik Niantic. Nilai transaksi untuk “pembelian” ini adalah 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 57 triliun.
Akuisisi ini mencakup beberapa game berbasis augmented reality (AR) yang sangat populer. Ikon utamanya adalah Pokemon GO, game yang pernah menghebohkan dunia dan membuat jutaan orang keluar rumah untuk menangkap monster saku. Selain itu, ada juga Pikmin Bloom dan Monster Hunter Now yang juga memiliki basis pemain loyal di berbagai negara.
Meskipun bisnis game-nya kini telah berpindah tangan, Niantic tidak serta merta lenyap. Mereka tetap melanjutkan bisnis lainnya yang berfokus pada teknologi geospasial dan kecerdasan buatan (AI) melalui perusahaan baru. Namun, untuk urusan game, semua kendali kini berada di tangan Arab Saudi.
4. SNK: Legenda Game Lawas Jepang Pun “Takluk”!
Bukan hanya game modern yang menjadi incaran, Arab Saudi juga membidik perusahaan game klasik asal Jepang. Mereka kini menguasai SNK, perusahaan di balik berbagai seri game pertarungan legendaris. Siapa yang tak kenal The King of Fighters, Samurai Shodown, Fatal Fury, atau Metal Slug? Game-game ini adalah bagian dari sejarah emas industri arcade dan konsol.
Proses akuisisi SNK sendiri tidak terjadi dalam semalam. Yayasan milik Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yaitu MiSK Foundation, sudah mulai membeli saham SNK sejak tahun 2020. Kemudian, mereka terus meningkatkan kepemilikan sahamnya hingga pada tahun 2022 akhirnya resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan menguasai lebih dari 90 persen saham.
Dengan kendali penuh atas SNK, Arab Saudi menunjukkan bahwa strategi mereka sangat komprehensif. Mereka tidak hanya menyasar game-game kontemporer, tetapi juga menghargai IP klasik yang masih memiliki basis penggemar besar dan fanatik di seluruh penjuru dunia. Ini adalah langkah cerdas untuk memiliki portofolio yang beragam dan bernilai sejarah.
5. ESL Gaming: Panggung E-sports Global Dikuasai!
Sebelum “memburu” para publisher game, Arab Saudi sudah terlebih dahulu masuk ke industri e-sports. Langkah awal ini dilakukan dengan mengakuisisi ESL Gaming pada tahun 2022. Nilai transaksinya pun tidak main-main, diperkirakan mencapai hingga 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 26,8 triliun.
Setelah akuisisi, ESL kemudian digabungkan dengan platform kompetitif lainnya, FaceIT. Merger ini melahirkan sebuah entitas raksasa baru bernama ESL Faceit Group, yang kini menjadi salah satu operator turnamen e-sports terbesar di dunia. Mereka mengelola berbagai kompetisi internasional untuk game-game populer seperti Counter-Strike, Dota 2, StarCraft II, dan PUBG. Dengan ini, Arab Saudi secara langsung menguasai panggung utama kompetisi e-sports global.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










