Dentmas.id – Dunia teknologi dan pasar saham global dikejutkan oleh ambrolnya valuasi raksasa chip Nvidia yang mencapai angka fantastis 1 triliun dolar AS atau setara dengan Rp 18.046 triliun hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan! Penurunan dramatis ini berhasil mengembalikan posisi saham perusahaan ke level terendah yang terakhir kali terlihat sebelum era kejayaan kecerdasan buatan (AI) melambungkan harga sahamnya.
Saham Merosot 16 Persen, Valuasi Kembali ke Level 2019
Berdasarkan catatan resmi Bloomberg, saham Nvidia pada 8 Juli 2026 tercatat telah merosot sekitar 16 persen dari puncak tertinggi sepanjang masa yang berhasil diraih pada 14 Mei 2026. Para investor pun mulai bertanya-tanya, apakah ini pertanda berakhirnya euforia AI?
Koreksi yang cukup dalam ini menyebabkan valuasi Nvidia kini diperdagangkan di kisaran 18 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan (forward price-to-earnings/P/E), sebuah level yang terakhir kali terlihat pada awal 2019, sebelum AI menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri.
Sebagai perbandingan, indeks acuan S&P 500 saat ini diperdagangkan di atas 20 kali proyeksi laba, sementara indeks teknologi Nasdaq 100 bahkan berada di kisaran 23 kali. Fakta ini secara gamblang menunjukkan bahwa saham Nvidia kini justru terbilang lebih murah dibandingkan rata-rata perusahaan yang tergabung dalam kedua indeks bergengsi tersebut.
Namun demikian, para analis keuangan pun segera memberikan penjelasan bahwa penurunan valuasi ini sama sekali tidak mencerminkan memburuknya prospek bisnis Nvidia. Sebaliknya, fenomena ini justru terjadi karena pertumbuhan laba Nvidia melesat lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan harga sahamnya. Dengan kata lain, fundamental perusahaan sebenarnya masih sangat solid dan mengesankan.
Investor Mulai Beralih, Micron dan AMD Jadi Primadona Baru
Menurut analisis mendalam dari Bloomberg, pelemahan harga saham Nvidia lebih banyak dipicu oleh pergeseran strategi investasi para pemodal besar di sektor AI. Jika sebelumnya dana investasi mengalir deras ke Nvidia sebagai raja chip AI, kini para investor mulai mendiversifikasi portofolio mereka ke perusahaan semikonduktor lainnya. Mereka terutama melirik produsen chip memori seperti Micron Technology yang saat ini tengah panen keuntungan besar dari melonjaknya harga chip memori. Di samping Micron, saham pesaing Nvidia seperti AMD dan Intel juga telah menunjukkan kinerja cemerlang dengan melonjak dua hingga tiga kali lipat sepanjang tahun 2026.
“Sentralitas pasar kini mulai bergeser. Perusahaan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian seperti Micron justru kini menjadi primadona baru,” ungkap Michael Bailey, Direktur Riset Fulton Breakefield Broenniman, dalam wawancara eksklusifnya.
Meskipun harga sahamnya tertekan cukup dalam, posisi dominasi Nvidia di industri AI sebenarnya masih kokoh dan tidak banyak berubah. Perusahaan yang dipimpin langsung oleh pendirinya, Jensen Huang ini masih menguasai porsi pasar yang luar biasa besar, mencapai sekitar 97 persen pasar GPU server global pada akhir tahun 2025. Angka ini bahkan naik dari 95 persen pada tahun sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg Intelligence.
Proyeksi Laba Tetap Gemilang, Harga Saham Justru Terlihat Murah
Permintaan terhadap produk GPU Nvidia juga tetap berada pada level yang sangat tinggi seiring dengan maraknya pembangunan pusat data AI di berbagai penjuru dunia. Bloomberg pun memperkirakan Nvidia mampu membukukan laba sekitar 228 miliar dolar AS (sekitar Rp 4.119 triliun) dengan total pendapatan mencapai 393 miliar dolar AS (sekitar Rp 7.104 triliun) pada tahun fiskal 2027 yang berakhir Januari 2027. Angka-angka fantastis ini masing-masing meningkat sekitar 90 persen dan 82 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Yang lebih menarik, proyeksi laba Nvidia justru telah direvisi naik sekitar 13 persen hanya dalam tiga bulan terakhir, menunjukkan bahwa para analis tetap optimis terhadap kinerja perusahaan ke depan.
Randy Hare, Direktur Riset Ekuitas Huntington Bank, turut memberikan pandangannya bahwa harga saham Nvidia saat ini justru terlihat sangat murah bila dibandingkan dengan prospek pertumbuhan bisnisnya yang masih sangat cerah. “Pada akhirnya, harga saham pasti akan mengikuti pertumbuhan laba. Nvidia masih menunjukkan kinerja yang sangat konsisten dan mengesankan,” ujar Hare dengan penuh keyakinan, seperti dihimpun dari Yahoo Finance pada Kamis (9/7/2026).
Samsung Mengintai Peluang di Tengah Perubahan Pasar
Di tengah penurunan valuasi Nvidia, euforia kecerdasan buatan (AI) ternyata masih menjadi mesin pertumbuhan utama bagi perusahaan semikonduktor lainnya. Salah satu yang paling menonjol adalah Samsung Electronics, raksasa teknologi asal Korea Selatan yang baru saja mencetak rekor kinerja keuangan.
Samsung memproyeksikan laba operasional kuartal II-2026 mencapai angka mencengangkan 89,4 triliun won atau sekitar Rp 1.066,9 triliun. Kenaikan spektakuler ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap chip memori berkapasitas tinggi (High Bandwidth Memory/HBM) yang menjadi komponen krusial pada server-server AI.
Proyeksi tersebut bahkan melampaui ekspektasi para analis dan melonjak sekitar 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan Samsung juga diperkirakan meningkat sekitar 129 persen menjadi 171 triliun won atau sekitar Rp 2.039 triliun, sebuah pencapaian yang benar-benar luar biasa.
Kinerja gemilang ini dengan jelas menunjukkan bahwa belanja infrastruktur AI global masih terus meningkat pesat. Namun yang berubah adalah fokus perhatian para investor. Jika sebelumnya dana investasi mengalir deras ke Nvidia sebagai pemasok utama GPU AI, kini perusahaan pembuat chip memori seperti Samsung dan Micron mulai menikmati pertumbuhan permintaan yang lebih besar seiring dengan meningkatnya kebutuhan HBM untuk mendukung pusat data AI modern.
Meskipun terjadi pergeseran sentimen ini, para pengamat industri menegaskan bahwa Samsung belum mengambil alih posisi dominasi Nvidia di pasar AI. Nvidia masih memegang kendali penuh atas pasar GPU server, sementara Samsung lebih diuntungkan dari meningkatnya permintaan chip memori yang menjadi komponen vital dalam sistem AI. Keduanya memiliki peran penting dan saling melengkapi dalam ekosistem AI yang terus berkembang.
Pasar pun kini menantikan langkah selanjutnya dari Nvidia dan para pemain utama lainnya dalam industri semikonduktor yang terus bertransformasi ini. Apakah Nvidia akan mampu bangkit kembali atau justru tren penurunan ini akan berlanjut? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang pasti persaingan di industri ini semakin panas dan menarik untuk disimak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










