Dentmas.id – Coba bayangkan masa lalu yang gemilang! Dulu, pernah ada satu masa ketika setiap atlet olahraga ekstrem, peselancar tangguh, pesepeda gunung pemberani, dan juga kreator konten keren pasti memiliki satu kamera yang sama persis, yaitu kamera yang mereka tempelkan di helm mereka. Mereknya pun terkenal, yakni GoPro.
Selama bertahun-tahun lamanya, nama GoPro nyaris identik dengan kategori action camera itu sendiri. Pada masa jayanya, tidak ada pesaing serius yang mampu menantangnya. Bahkan, tidak ada ancaman nyata yang terlihat di depan mata.
Namun, bagaimana dengan kondisinya sekarang? Pelopor kamera aksi yang legendaris ini ternyata sedang berjuang keras, bahkan sekadar untuk bisa bertahan hidup di industri yang keras!
Baru-baru ini, GoPro mengeluarkan peringatan resmi yang dalam dunia bisnis lazim disebut sebagai going concern warning. Dalam laporan keuangan terbarunya yang mereka ajukan ke otoritas pasar modal AS, yaitu Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan ini secara gamblang mengakui adanya “keraguan substansial” mengenai kemampuan mereka untuk terus menjalankan operasional. Selain itu, auditor independen mereka, yaitu PricewaterhouseCoopers, pun turut mencatatkan peringatan serius ini.
Sederhananya, Mereka kini mengakui bahwa mereka mungkin tidak akan sanggup bertahan dalam 12 bulan ke depan, kecuali ada suntikan dana segar yang masuk atau ada perusahaan besar yang bersedia membeli mereka. Kondisi ini sungguh kritis!
Angka-angka Suram di Laporan Keuangan
Mari kita bedah angka-angka dalam laporan keuangan GoPro yang memang tampak suram! Total pendapatan perusahaan ini anjlok hingga 19 persen sepanjang tahun fiskal terakhir, yaitu dari angka yang sebelumnya jauh lebih besar menjadi cuma 652 juta dolar AS atau sekitar Rp 11,5 triliun. Selain itu, GoPro juga harus menelan kerugian bersih sebesar 93,5 juta dolar AS (sekitar Rp 1,63 triliun) pada tahun yang sama.
Yang paling mengerikan adalah kondisi kas perusahaan! Setahun lalu, GoPro masih memegang kas yang lumayan. Namun, sekarang jumlahnya tinggal separuh, yakni hanya tersisa 49,7 juta dolar AS atau sekitar Rp 870 miliar. Untuk perusahaan global yang memiliki ratusan karyawan dan operasi di banyak negara, jumlah kas segitu jelas tidak cukup untuk berbuat banyak.
Yang membuat situasi ini semakin runyam, GoPro ternyata masih memiliki utang ke berbagai bank senilai 88,6 juta dolar AS (sekitar Rp 1,55 triliun). Kontrak utang itu dengan tegas menyatakan bahwa peringatan going concern otomatis dianggap sebagai pelanggaran perjanjian atau default. Karena utang-utangnya saling terkait satu sama lain, default di satu utang akan memicu default di semua utang lainnya. Jika bank tiba-tiba menagih semuanya sekaligus, jelas GoPro tidak memiliki uang untuk membayarnya. Kini, manajemen GoPro sedang berusaha mati-matian bernegosiasi dengan para pemberi pinjaman untuk meminta keringanan, sebelum semuanya berubah menjadi lebih parah.
Dulu Sempat Bernilai Ratusan Triliun!
Kondisi GoPro yang memprihatinkan sekarang ini jelas jauh berbeda dari era keemasan mereka. GoPro pertama kali didirikan pada tahun 2002. Sepanjang dekade 2010-an, perusahaan ini benar-benar mendominasi pasar kamera aksi tanpa lawan. Para atlet ekstrem, peselancar, snowboarder, pesepeda gunung, pelancong, hingga kreator konten sangat mengandalkan kamera mungil tahan banting buatan GoPro untuk merekam pengalaman menegangkan mereka dari sudut pandang orang pertama. Bahkan, pengaruh GoPro merembet hingga ke industri musik dan budaya festival. Banyak kreator konten dan penggemar memakai kamera ini untuk mendokumentasikan penampilan musisi idolanya, festival meriah, hingga momen-momen seru di belakang panggung.
Semua itu terjadi sebelum kamera smartphone mampu menghasilkan kualitas video yang setara. Pada puncak kejayaannya, valuasi pasar GoPro melebihi 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp 175 triliun! Mereka pun dianggap sebagai salah satu merek elektronik konsumen paling inovatif di dunia. Namun, sekarang valuasi itu sudah jauh panggang dari api.
DJI dari China Melibas Habis Pasar!
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada GoPro? Faktor pertama adalah datangnya kamera smartphone. Kualitas kamera ponsel meningkat drastis dalam satu dekade terakhir, sehingga perlahan menyerap sebagian besar kebutuhan fotografi dan video yang dulu hanya mengandalkan kamera aksi. Namun, ada pesaing lain yang jauh lebih nyata, lebih agresif, dan lebih sulit untuk dilawan: yaitu DJI, perusahaan teknologi asal Shenzhen, China.
Awalnya, DJI dikenal sebagai produsen drone. Akan tetapi, DJI tidak puas hanya bermain di pasar drone. Mereka pun masuk ke pasar kamera aksi lewat seri Osmo Action, lalu seri Osmo Pocket, dan kini Osmo 360. Strategi DJI terbilang sederhana namun jitu: mereka menawarkan kamera dengan spesifikasi yang setara atau bahkan lebih bagus dibanding GoPro, tetapi dengan harga yang lebih bersaing.
Ditambah lagi, integrasi yang mulus dengan ekosistem perangkat DJI lainnya, terutama gimbal dan drone. Hasilnya, satu per satu, DJI berhasil mengambil pasar yang dulu menjadi milik GoPro. Para kreator konten dan vlogger mulai berbondong-bondong pindah karena menilai pilihan DJI lebih value for money. Para penggemar olahraga ekstrem yang dulu begitu setia dengan GoPro pun kini banyak yang beralih ke Osmo Action, karena fitur layar depan yang lebih praktis untuk vlogging dan harganya yang lebih masuk akal.
GoPro sebenarnya bukannya tanpa perlawanan. Mereka terus merilis produk baru, termasuk Mission 1, platform kamera terbaru mereka. Namun, peluncurannya tidak berjalan mulus. Salah satu produk terbaru mereka, yaitu Max 2, malah molor dari jadwal dan melewatkan musim penjualan liburan yang biasanya menjadi puncak omzet tahunan.
Masalah Memori Jadi Pukulan Berikutnya!
Selain pesaing yang semakin galak, GoPro juga terkena hantaman masalah lain: kenaikan harga memori. Industri kamera sangat bergantung pada flash memory untuk menyimpan rekaman video resolusi tinggi. Sejak akhir tahun 2025, harga memori di pasar global melonjak tajam karena permintaan dari infrastruktur AI dan pusat data yang meningkat drastis. Ketika produsen memori memprioritaskan pasokan untuk industri AI, perusahaan elektronik seperti GoPro yang sangat tergantung pada memori menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Akibatnya, biaya produksi kamera ikut melonjak, margin keuntungan pun tergerus, sementara pendapatan terus turun. Kombinasi maut untuk perusahaan yang sudah kesulitan keuangan!
PHK 23 Persen Karyawan, Strategi Penyelamatan Dimulai!
Untuk mencoba bertahan, GoPro sudah mengambil sejumlah langkah penyelamatan. Langkah pertama adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 23 persen karyawannya. Sekitar 145 posisi terpaksa mereka hilangkan untuk menekan beban gaji. Selain itu, GoPro juga menyewa penasihat keuangan untuk mencari jalan keluar. Para penasihat ini saat ini sedang mempertimbangkan dua kemungkinan besar: menjual seluruh perusahaan atau mencari mitra bisnis yang lebih besar. Awal tahun ini, dewan direksi GoPro juga secara resmi mengumumkan peninjauan terhadap “alternatif strategis”—istilah halus untuk kemungkinan penjualan, merger, atau transaksi lain yang bisa menyelamatkan nilai saham. GoPro juga mulai berusaha diversifikasi bisnis dengan melirik peluang di sektor pertahanan dan aerospace, dua bidang yang sedang membutuhkan banyak kamera tahan banting dengan kualitas tinggi.
Akankah GoPro Selamat dari Badai Ini?
Meskipun sudah mengeluarkan peringatan going concern, GoPro tetap beroperasi untuk saat ini. Produk-produk baru masih terus mereka rilis, dan karyawan yang tersisa masih bekerja keras. Namun, situasinya jelas tidak menggembirakan. Kisah GoPro hari ini adalah cerita klasik tentang perusahaan teknologi yang pernah menjadi raja tanpa pesaing, lalu jatuh karena tiga hal sekaligus: serbuan smartphone, aksi agresif DJI yang mengambil pasar, serta kenaikan biaya komponen. Dan ini bukanlah cerita yang aneh di industri teknologi. Banyak merek besar yang pernah merajai kategori produk tertentu akhirnya tergerus oleh pesaing baru yang lebih lincah. Sebut saja Nokia, BlackBerry, dan Kodak. Daftarnya panjang.
Sekarang, GoPro berdiri di posisi yang sama. Nasibnya akan segera ditentukan dalam beberapa bulan ke depan, sebagaimana dihimpun dari EDMTunes dan Gizchina. Apakah mereka akan bangkit kembali atau justru tumbang? Kita tunggu saja kelanjutan dramanya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










