Dentmas.id — Bayangkan komputer yang bisa meniru seluruh planet Bumi. Bukan cuma mimpi, karena Nvidia benar-benar mewujudkannya lewat platform bernama Earth-2. Kembaran digital Bumi ini bukan sekadar mainan teknologi canggih, melainkan senjata ampuh melawan bencana alam. Yang lebih bikin merinding? Sistem ini berhasil menciptakan skenario banjir yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia!
Mesin Waktu Cuaca yang Bikin Siapa Pun Kaget
Sejak diumumkan pada 18 Maret 2024, Earth-2 beroperasi sebagai platform cloud yang meniru serta menampilkan kondisi cuaca di mana saja. Contohnya, Nvidia memanfaatkan sistem ini untuk memodelkan banjir di Sungai Elbe, Eropa. Hasilnya mengejutkan: dampaknya terhadap penduduk mencapai tiga kali lipat lebih parah dibanding banjir sungguhan yang pernah melanda kawasan itu.
Lebih mengagumkan lagi, skalanya super fleksibel. Earth-2 bisa memotret cuaca di seluruh dunia sekaligus, namun juga mampu memperbesar detail hingga satu tutupan awan di atas satu kota atau memetakan jalur topan tertentu. Luar biasa, kan?
Alasan di Balik Proyek Raksasa Ini
Jensen Huang, pendiri sekaligus CEO Nvidia, membuka kartu alasan mereka menggarap proyek ambisius ini. Menurutnya, dunia sedang menghadapi kenyataan pahit.
“Bencana sekarang jadi hal biasa. Kekeringan bersejarah, badai dahsyat, dan banjir sekali seumur hidup muncul di berita dengan frekuensi yang bikin waswas,” ujar Huang.
Selain itu, penting dipahami bahwa Earth-2 bukanlah satu model tunggal. Sebaliknya, platform ini menggabungkan beragam model AI, simulasi fisika yang dipercepat kartu grafis (GPU), data hasil pengamatan lapangan, serta perangkat visualisasi. Dengan kata lain, Nvidia merakit ekosistem lengkap, bukan sekadar aplikasi cuaca biasa.
Tiga Model Sakti yang Dilepas Gratis
Menariknya, di awal 2026 Nvidia merilis keluarga model terbuka Earth-2 yang berisi tiga model utama. Pertama, Earth-2 Medium Range yang mampu meramal lebih dari 70 variabel cuaca hingga 15 hari ke depan. Kedua, Earth-2 Nowcasting yang menangani jangka sangat pendek, yakni 0 sampai 6 jam, dengan ketelitian sampai skala kilometer. Terakhir, Earth-2 Global Data Assimilation yang menyusun kondisi awal atmosfer hanya dalam hitungan detik di GPU — padahal pekerjaan serupa memakan waktu berjam-jam di superkomputer biasa!
Bahkan, ketiganya dibagikan secara gratis lewat Hugging Face dan GitHub. Bukti nyatanya, Brightband, penyedia layanan ramalan cuaca berbasis AI, sudah memanfaatkan model-model tersebut.
Dari Gambar Burik Jadi Foto Super Tajam
Nah, ini bagian paling krusial: downscaling. Singkatnya, model cuaca global membagi atmosfer menjadi kotak-kotak besar sehingga hasilnya terasa kasar. Sayangnya, pemerintah kota, perusahaan listrik, dan petugas darurat membutuhkan informasi yang jauh lebih detail dari itu.
Untungnya, model bernama CorrDiff hadir menjawab masalah tersebut. Nvidia mencontohkan penajaman dari area 25 kilometer menjadi 2 kilometer. Klaimnya luar biasa: CorrDiff menghasilkan keluaran 12,5 kali lebih tajam, bekerja 1.000 kali lebih cepat, dan 3.000 kali lebih hemat energi dibanding model numerik pembanding.
Bukan cuma itu, dompet ikut tertolong. Biaya tahunan yang semula menyentuh angka 3 juta dollar AS (sekitar Rp 54 miliar) kini bisa ditekan menjadi sekitar 60.000 dollar AS (sekitar Rp 1,08 miliar), dengan memakai satu sistem GPU H100. Setelah itu, hasil penajaman bisa ditumpuk dengan data peta tiga dimensi, sehingga kondisi cuaca tampil langsung dalam bentuk lingkungan kota, bukan sekadar grafik membosankan.
Banjir “Versi Terburuk” yang Belum Pernah Menjadi Kenyataan
Di sinilah cerita jadi makin seru. Perusahaan pemodelan risiko JBA Risk Management memakai Earth-2 untuk membuat 1.008 skenario cuaca musim dingin yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jumlah tersebut setara dengan 300 tahun data atmosfer, dan semuanya dihasilkan dalam sekitar 110 jam kerja GPU Nvidia L40S yang diakses lewat cloud. Periode yang disimulasikan adalah musim dingin 2023-2024, seperti dikutip dari Times of India.
Selanjutnya, data cuaca buatan itu dimasukkan ke model hidrologi guna melihat sampai mana sungainya meluap. Hasilnya? Sebagian skenario menghasilkan dampak ke penduduk sampai tiga kali lebih besar dibanding banfjir Elbe 2023-2024 yang benar-benar terjadi. Bahkan, debit sungai maksimum di kota-kota besar melampaui rekor sejarah sampai 50 persen.
Yang menarik, semua skenario itu tetap masuk akal secara cuaca. Masalahnya, catatan sejarah hanya memuat sedikit contoh bencana langka, sehingga perencana kota kesulitan menguji seberapa kuat infrastruktur mereka menghadapi kejadian ekstrem. Sekarang, Earth-2 mengubah permainan itu total.
Prediksi Banjir dalam Sekejap Mata
Selain Elbe, teknologi ini juga dipakai langsung untuk pemodelan banfjir di Sungai Têt, Prancis. Di sana, perusahaan konsultan BRLi bekerja sama dengan kampus teknik Toulouse INP memanfaatkan perangkat Nvidia bernama PhysicsNeMo. Mereka melatih model AI untuk meniru cara kerja model fisika Telemac-Mascaret, lengkap dengan peta perhitungan versi asli lapangan, mulai dari jembatan, tanggul, hingga kolam penampung air.
Akibatnya, prediksi banfjir enam jam ke depan selesai dalam sekitar 19 milidetik di satu GPU Nvidia A100 80 GB. Kecepatan secepat itu membuka peluang besar untuk menjalankan ribuan skenario sekaligus.
Pada akhirnya, Earth-2 membuktikan bahwa teknologi AI dan GPU bisa menjadi pelindung umat manusia. Bumi kembar digital ini mungkin saja menjadi kunci menyelamatkan jutaan nyawa dari bencana yang datang tanpa peringatan. Menarik untuk terus dipantau, bukan?(Dentmas.id)
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









