Dentmas.id – Langkah ekstrem mendadak mengguncang dunia teknologi ketika Pemerintah China resmi menenggelamkan fasilitas data center raksasa ke kedalaman samudera. Langkah nekat ini sengaja mengeksekusi ide gila yang sebelumnya sempat ditinggalkan oleh raksasa teknologi Microsoft. Fasilitas bawah laut tersebut secara mengejutkan memuat sekitar 2.000 unit server canggih, dan seluruh mesin super cepat ini sekarang telah beroperasi secara penuh di kawasan lepas pantai Shanghai.

Apabila kita menelusuri lokasinya, kompleks komputasi bawah air ini persis berada 35 meter di bawah permukaan samudera yang sunyi. Para insinyur menempatkan proyek raksasa tersebut di kawasan khusus Lingang, dengan jarak yang membentang sejauh 9,7 kilometer dari garis pantai utama.
Pengembang merancang sistem canggih ini dengan menyerap daya listrik fantastis hingga 24 megawatt. Konsorsium raksasa telekomunikasi seperti China Telecom dan LinkWise lantas mengoperasikan secara langsung ribuan unit pengolah grafis (GPU) berkinerja tinggi di dalamnya. Sementara itu, kolaborasi strategis bersama HiCloud Technology—yang juga terkenal sebagai Hailanyun—sukses menyelesaikan seluruh struktur bangunan fisik kapsul tersebut.
Alasan utama di balik proyek spektakuler ini ternyata mengusung prinsip yang terbilang sangat sederhana namun cerdas. Pengelola sengaja memanfaatkan arus air laut yang super dingin untuk menyerap panas menyengat dari ribuan server. Alhasil, pengembang tidak lagi memerlukan mesin pendingin raksasa yang umumnya menguras energi di data center darat.
Efisiensi ekstrem tersebut lantas membuahkan hasil nyata pada nilai Power Usage Effectiveness (PUE), yakni parameter utama untuk mengukur tingkat pemborosan energi fasilitas data center. Pengelola mengeklaim bahwa angka efisiensi mereka sukses menembus di bawah 1,15, padahal rata-rata industri data center dunia saat ini masih tertahan di kisaran angka 1,5.
Tak kalah mengejutkan, pengembang rupanya tidak mengandalkan jaringan listrik konvensional untuk menghidupkan fasilitas ini. Ladang angin lepas pantai yang megah di area sekitar justru mampu memasok hingga 97 persen kebutuhan daya listrik secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, Hailanyun yang berkolaborasi erat dengan China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) berani mengeklaim bahwa fasilitas bawah laut ini sanggup menghemat konsumsi listrik minimal 30 persen lebih irit dibandingkan data center konvensional di daratan.
Penghematan besar ini menjadi sangat krusial mengingat sistem pendingin selalu menjadi beban finansial terberat. Pasalnya, fasilitas biasa umumnya menghabiskan sekitar 40 persen daya listrik hanya demi mendinginkan mesin-mesin yang panas, belum lagi memperhitungkan konsumsi air bersih yang bisa menyedot ratusan ribu galon setiap harinya.
Microsoft Sempat Jadi Pelopor, Lantas Mengapa Malah Kabur dan Mundur?
Kendati terkesan futuristik, ide menenggelamkan komputer raksasa ini sebenarnya bukan barang baru di industri komputasi. Raksasa teknologi Microsoft bahkan telah memelopori eksperimen serupa lewat proyek ambisius bernama Project Natick, dengan cara menenggelamkan kapsul baja berisi server di lepas pantai Skotlandia sejak 2018.
Dalam uji coba tersebut, kapsul khusus raksasa mengangkut sebanyak 855 unit server ke kedalaman laut sekitar 36 meter. Hebatnya lagi, para teknisi membiarkan fasilitas bawah air itu bekerja tanpa perawatan langsung sedikit pun selama 25 bulan delapan hari.
Setelah masa uji coba berakhir, hasil pengujian justru mengejutkan para ilmuwan karena performanya jauh melampaui ekspektasi. Tercatat hanya enam dari total 855 server bawah laut yang mengalami kerusakan, sedangkan server kontrol di darat justru mencatat delapan kerusakan dari hanya 135 unit.
Para ahli menyimpulkan bahwa server bawah laut terbukti jauh lebih awet akibat kestabilan suhu air laut di sekelilingnya. Selain itu, teknisi sengaja mengisi bagian dalam kapsul dengan gas nitrogen kering guna mencegah munculnya oksigen yang kerap memicu karat.
Namun, publik mendadak dibuat terperanjat saat Microsoft tiba-tiba memilih mematikan total proyek menjanjikan ini pada Juni 2024.
“Saya tegas menyatakan bahwa kami tidak sedang membangun data center bawah laut di lokasi mana pun di planet ini,” ungkap Kepala Operasi Awan dan Inovasi Microsoft, Noelle Walsh, dalam sebuah wawancara.
Manajemen Microsoft sampai sekarang memang tidak pernah membeberkan alasan mendasar di balik pembatalan proyek tersebut. Kendati demikian, Walsh tetap menegaskan bahwa eksperimen unik itu pada dasarnya telah meraih keberhasilan besar.
“Tim hebat saya telah menuntaskannya dan eksperimen itu sukses membuktikan teorinya, sehingga kami berhasil memetik banyak pelajaran berharga mengenai dinamika pengoperasian di bawah air serta dampak getaran terhadap keandalan server,” tambah Walsh menjelaskan.
Di samping itu, pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa seluruh data berharga hasil riset Project Natick tidak akan terbuang sia-sia begitu saja.
“Meskipun saat ini kami tidak lagi mengoperasikan data center di dalam air, kami terus memanfaatkan fondasi Project Natick sebagai platform riset utama untuk menguji berbagai konsep keberlanjutan baru, seperti metode pendinginan berbasis perendaman cairan,” terang Microsoft melalui penyataan resminya.
Ancaman Bahaya dan Kerumitan Perawatan yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
Seorang insinyur senior dari Cadence Design Systems, Mark Seymour, secara kritis lantas menyoroti aspek pemeliharaan teknis sebagai kendala paling krusial. Pasalnya, perangkat komputer yang sudah terkunci rapat di dasar samudera akan sangat sulit untuk diperbaiki maupun ditingkatkan spesifikasi komputasinya.
Selain itu, proses pergantian komponen keras yang rusak menuntut akses penyelaman khusus yang sangat rumit dan mahal. Seymour bahkan membandingkan kerumitan ini dengan server berbasis tangki pendingin cairan di darat yang hingga kini masih sering memicu keluhan para teknisi.
“Inovasi ini memang terlihat sangat memikat dari sudut pandang efisiensi pendinginan, tetapi justru menjadi mimpi buruk dari kacamata operasional harian,” ujar Seymour memberikan penilaian.
“Oleh sebab itu, metode ekstrem ini rasanya bukanlah pilihan paling praktis apabila sebuah perusahaan ingin tetap bergerak lincah di tengah dinamika teknologi yang berkembang pesat,” tuturnya menambahi.
China Tak Peduli Risiko dan Malah Tancap Gas Habis-habisan!
Berbeda 180 derajat dari langkah mundur Microsoft, Pemerintah China justru tancap gas mengeksekusi ambisi besar ini secara agresif. Mereka telah mengawali uji coba perdana di wilayah Sungai Mutiara pada 2020, sebelum akhirnya meluncurkan proyek rintisan berskala lebih besar di lepas pantai Hainan pada Desember 2022.
Pemerintah setempat kemudian memulai konstruksi fasilitas data center Shanghai pada Juni 2025 dengan mengucurkan dana fantastis melebihi 220 juta dolar AS—atau setara Rp 3,96 triliun.
Pada pembangunan fase pertama ini, pengembang telah memasang sebanyak 198 rak server khusus. Peneliti memperkirakan rak-rak tersebut menampung 396 hingga 792 unit komputer bertenaga monster yang siap memproses beban kerja kecerdasan buatan (AI).
Walaupun demikian, skala fasilitas bawah air ini sebenarnya masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan data center darat, di mana fasilitas skala menengah biasanya memuat 3.000 rak dan skala raksasa sanggup menampung lebih dari 10.000 rak.
Kendati demikian, aspek paling mencengangkan terletak pada kecepatan eksekusi pembangunannya. Seorang peneliti senior dari University of California, Davis, Zhang Ning, mencatat bahwa Hailanyun hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 bulan untuk melompat dari tahap uji coba menuju operasional komersial secara penuh.
Menurut Zhang, percepatan dramatis menuju tahap komersialisasi ini merupakan sebuah pencapaian yang tidak pernah sanggup ditempuh oleh Microsoft melalui Project Natick.
Saat ini, fasilitas komputasi bawah laut Shanghai sukses menangani pengolahan model AI rumit, jaringan 5G, hingga pelabelan data raksasa. Bahkan, kemampuan komputasinya diklaim sanggup melatih model AI sekelas GPT-3.5 hanya dalam durasi satu hari saja.
Ancaman Bencana Ekologis Mengintai Ekosistem Samudera!
Di balik kecanggihan teknologi ini, para ilmuwan lingkungan mulai melontarkan kekhawatiran serius terkait ancaman terhadap ekosistem laut. Sebuah studi ilmiah pada 2022 memperingatkan bahwa air buangan data center dapat memicu kenaikan suhu lokal serta menurunkan kadar oksigen, terutama saat gelombang panas laut melanda.
Fenomena perubahan suhu ini tentu sangat berisiko merusak habitat dan mengganggu kehidupan biota laut di wilayah sekitarnya. Bahkan tim peneliti Microsoft dahulu sempat merekam adanya kenaikan suhu air di area terbatas, meskipun mereka berdalih efeknya masih relatif kecil.
Pihak Hailanyun langsung membantah keras tuduhan mengenai ancaman kerusakan lingkungan tersebut. Juru bicara perusahaan, Li Langping, menegaskan bahwa pelepasan energi panas dari mesin-mesin dasar laut terbukti sangat minim.
“Disipasi panas yang dibuang oleh fasilitas ini hanya memicu kenaikan suhu kurang dari satu derajat Celsius pada perairan sekitar,” jelas Li memberikan klarifikasi.
Selain ancaman lingkungan, aspek keamanan siber fisik juga menjadi sorotan tajam setelah riset terbaru pada 2024 membuktikan bahwa data center bawah air sangat rentan diserang menggunakan gelombang suara berdaya tinggi dari pengeras suara akustik bawah air.
Terlepas dari berbagai kontroversi yang mengemuka, negara-negara tetangga di kawasan Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura dikabarkan mulai kepikat dan ikut menjajaki potensi penerapan teknologi komputasi bawah laut ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.








