Dentmas.id – Sebuah manuver mengejutkan datang dari Gedung Putih! Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan pengesahan Executive Order (Perintah Eksekutif) tentang kecerdasan buatan (AI) hanya beberapa jam sebelum acara pencanangan dimulai. Keputusan dramatis ini langsung mengguncang kalangan teknologi global.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Menurut laporan eksklusif The Washington Post, Trump akhirnya mengurungkan niatnya setelah sejumlah raksasa industri teknologi menyampaikan kekhawatiran mereka secara langsung. Mereka dengan berani mengungkapkan keberatan keras terhadap rancangan aturan AI tersebut saat bertemu Trump.
Siapa saja tokoh yang gigih melobi pembatalan ini? Beberapa nama besar yang disebut menyuarakan penolakan antara lain pemilik X (Twitter), Elon Musk; pendiri Facebook (Meta), Mark Zuckerberg; serta investor teknologi sekaligus mantan penasihat AI dan kripto Gedung Putih, David Sacks. Mereka kompak dan lantang mengkritik aturan yang dinilai membahayakan masa depan industri AS.
Alasan Utama: Ketakutan Akan Membuat China Semakin Unggul
Mengapa para tokoh teknologi ini mati-matian menolak Perpres AI? Mereka khawatir kebijakan tersebut dapat menghambat perkembangan industri AI di AS secara signifikan. Lebih parahnya lagi, aturan itu justru dikhawatirkan memberi keuntungan besar kepada China dalam persaingan teknologi global yang semakin sengit.
Selain itu, mereka menilai aturan tersebut berpotensi memperlambat peluncuran produk AI baru. Jangan sampai kebijakan yang terlalu ketat membuka peluang bagi pemerintahan di masa depan untuk memperketat pengawasan industri teknologi. Inilah mimpi buruk bagi para inovator!
Meskipun tidak disebutkan secara gamblang apakah para petinggi itu menjadi satu-satunya alasan Trump membatalkan Perpres AI, fakta di lapangan menunjukkan hal lain. Setelah kabar soal desakan ini mencuat, Trump disebut “pikir dua kali” secara serius. Akhirnya, ia langsung membatalkan penandatanganan Executive Order AI tersebut pada Kamis (22/5/2026) waktu setempat. Betapa dramatisnya!
Pernyataan Trump: “Saya Tidak Suka Draf Aturannya!”
Ketika para wartawan langsung menanyakan alasan di balik pembatalan mendadak itu, Trump hanya memberikan jawaban singkat namun penuh makna. Ia mengaku tidak menyukai draf aturan yang telah disiapkan oleh timnya. Sederhana, lugas, dan khas Trump!
Lebih lanjut, Trump dengan tegas menegaskan bahwa AS masih memimpin dalam pengembangan AI global saat ini. Ia tidak ingin kebijakan baru justru menghambat posisi strategis tersebut. “Kami unggul dari China dan semua negara, dan saya tidak ingin melakukan sesuatu yang mengganggu keunggulan itu,” ujar Trump dengan nada percaya diri.
Isi Perpres AI yang Dibatalkan: Tidak Seburuk Itu?
Menariknya, Perpres AI yang dibatalkan ini sebenarnya tidak sampai mewajibkan lisensi atau pengujian pemerintah terhadap model AI baru. Namun, ada satu klausul kontroversial yang memicu kemarahan para eksekutif teknologi.
Klausul mana yang menjadi biang kerok? Salah satu poin dalam rancangan aturan itu menyebut bahwa pemerintah AS akan memperkenalkan protokol “sukarela”. Protokol ini meminta perusahaan AI memberikan pemberitahuan 90 hari sebelum meluncurkan teknologi baru. Kedengarannya sederhana, tetapi dampaknya besar!
Apa tujuan pemberitahuan tersebut? Pemerintah ingin memeriksa potensi kerentanan keamanan, termasuk ancaman peretasan dan campur tangan asing. Namun, sejumlah perusahaan teknologi khawatir mekanisme “sukarela” tersebut pada akhirnya bisa berubah menjadi tekanan tidak langsung. Semua perusahaan bisa dipaksa mengikuti aturan pemerintah, meskipun namanya sukarela!
Latar Belakang: Meningkatnya Kekhawatiran Keamanan AI
Perpres AI ini sebenarnya muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pemerintah AS terhadap risiko keamanan AI. Situasi ini semakin memanas setelah Anthropic meluncurkan produk AI bernama “Mythos” bulan lalu. Sungguh ironis!
Model AI Mythos dirancang khusus untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak. Akibatnya, teknologi ini langsung memicu kekhawatiran besar bahwa ia dapat dimanfaatkan untuk serangan siber berbahaya. Pemerintah AS bahkan dilaporkan sempat membatasi perluasan akses Anthropic terhadap teknologi tersebut karena alasan keamanan nasional, sebagaimana dirangkum dari Forbes.
Undangan Mendadak ke Para Eksekutif Teknologi
Berdasarkan laporan The New York Times, Gedung Putih sendiri sebelumnya telah mengundang sejumlah eksekutif papan atas. Mereka yang diundang antara lain dari OpenAI, Google, Anthropic, Meta, dan Microsoft untuk menghadiri acara penandatanganan aturan tersebut. Namun, ironisnya, beberapa di antaranya disebut tidak dapat hadir. Apakah ini bentuk ketidaksukaan terselubung?
Kesimpulan: Pembatalan Perpres AI oleh Trump di menit-menit terakhir menunjukkan betapa kuatnya pengaruh para raksasa teknologi terhadap kebijakan AS. Meskipun alasan resminya adalah menjaga keunggulan AS atas China, banyak pihak menilai langkah ini justru membuka celah keamanan yang berbahaya. Sementara itu, China disebut-sebut terus menggencarkan pengembangan AI tanpa hambatan regulasi berarti. Siapa yang sebenarnya diuntungkan? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










