Dentmas.id – Baru-baru ini, Paus Leo XIV melontarkan pernyataan yang bikin jagat maya bergidik. Menurut pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut, kecerdasan buatan atau AI kini menjelma menjadi tantangan paling gawat yang pernah dihadapi umat manusia sepanjang sejarah.
Tak hanya sekadar protes biasa, beliau dengan lantang menuntut regulasi super ketat terhadap perkembangan AI. Lebih dari itu, Paus memaksa para pengembang AI untuk mengutamakan nasib manusia, bukan sekadar memburu keuntungan bisnis semata.
Pernyataan berani ini resmi diluncurkan lewat dokumen sakti Vatikan yang diberi nama “Magnifica Humanitas” atau “Magnificent Humanity”. Dokumen tersebut dirilis pada Senin (25/5/2026) waktu setempat, sontak membuat para raksasa teknologi panik setengah mati.
Menariknya, ini merupakan ensiklik pertama Paus Leo XIV sejak beliau terpilih memimpin Gereja Katolik. Jangan salah, ensiklik ini bukan sekadar pidato basa-basi. Dokumen ini termasuk salah satu pernyataan resmi paling penting dan berlevel tertinggi di lingkungan Gereja Katolik.
Biasanya, dokumen sejenis ini disusun super panjang, sangat mendalam, dan menghabiskan waktu berbulan-bulan. Proses pembuatannya bahkan melibatkan Paus sendiri bersama segudang pakar, akademisi, hingga para penasihat Vatikan yang mumpuni.
Seluruh isi ensiklik ini biasanya menyajikan pandangan, ajaran, hingga sikap resmi Gereja terhadap isu besar yang dianggap krusial bagi dunia. Karena langsung ditulis oleh pimpinan umat Katolik yang memiliki sekitar 1,4 miliar pengikut di seluruh dunia, maka dampaknya luar biasa besar. Pengaruhnya tidak cuma terasa di ranah religius, tetapi juga merambah ke politik, sosial, ekonomi, dan tentu saja teknologi.
Nah, di dalam dokumen “Magnificent Humanity” ini, Paus Leo XIV dengan gamblang menyebut AI sebagai salah satu momok terbesar bagi peradaban saat ini. Beliau menilai bahwa perkembangan AI jangan sampai hanya dikuasai oleh kepentingan bisnis dan adu cepat kekuasaan antar korporasi teknologi.
Yang lebih mencengangkan, Paus Leo XIV secara frontal meminta adanya pengawasan independen, kerangka hukum yang kuat, serta keterlibatan politik yang lebih aktif dalam mengatur laju pertumbuhan AI. Dengan tegas, beliau menuliskan kritik pedasnya dalam dokumen tersebut.
“Tidak cukup hanya berbicara soal etika secara abstrak. Dibutuhkan kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang teredukasi, serta sistem politik yang tidak lepas tangan dari tanggung jawab,” tulis Paus Leo XIV dengan nada keras.
Selain itu, beliau juga menyoroti fakta mengerikan bahwa AI kini mulai dimanfaatkan untuk kepentingan perang hingga sistem senjata otomatis. Menurut Paus pertama yang lahir dari Amerika Utara ini, keputusan mematikan dan tak bisa dibatalkan tidak boleh begitu saja diserahkan kepada sistem AI.
“AI sekarang perlu dilucuti dari logika yang menjadikannya alat dominasi, eksklusi, dan kematian,” tegas Paus Leo XIV saat meluncurkan dokumen tersebut di Vatikan.
Geger! Bos Teknologi Malah Nempel ke Vatikan
Nah, yang bikin cerita ini makin seru adalah fakta bahwa di tengah hujaman kritik keras tersebut, sejumlah perusahaan teknologi besar malah ramai-ramai mendekati Vatikan dalam beberapa bulan terakhir. Ironis, bukan?
Berdasarkan laporan Politico, perwakilan dari Meta, Google, Amazon, hingga OpenAI secara aktif berdialog dengan pejabat Gereja Katolik menjelang perilisan ensiklik ini. Mereka berusaha keras meyakinkan Vatikan bahwa AI masih bisa dikembangkan secara bertanggung jawab dan tetap berpihak pada manusia.
Bahkan, sebuah pertemuan rahasia sempat digelar di Kedutaan Besar Perancis untuk Vatikan pada April lalu. Dalam diskusi tersebut, hadir perwakilan Meta, Google, Amazon, dan pejabat Vatikan yang dengan serius membahas dampak AI terhadap anak-anak, kehidupan sosial, dan masa depan umat manusia.
Tak berhenti di situ, co-founder perusahaan AI raksasa bernama Anthropic, yaitu Christopher Olah, juga ikut hadir langsung dalam acara peluncuran ensiklik Paus Leo XIV di Vatikan. Kehadirannya seolah membenarkan bahwa isu ini benar-benar serius.
Dalam acara tersebut, Olah dengan rendah hati berterima kasih kepada Paus Leo XIV. Ia mengapresiasi keberanian Paus yang secara terbuka menyoroti dampak dan risiko AI. Menurut Olah, perusahaan AI macam Anthropic memang menghadapi tekanan bisnis yang luar biasa besar, sehingga mereka tetap butuh pengawasan eksternal.
“Setiap laboratorium frontier AI, termasuk Anthropic, beroperasi di bawah tekanan dan insentif bisnis yang terkadang bisa bertentangan dengan melakukan hal yang benar,” ujar Olah dengan jujur.
Sebagai informasi, Anthropic merupakan perusahaan pengembang chatbot AI Claude, yang kini menjadi pesaing utama ChatGPT milik OpenAI. Perusahaan yang didirikan pada 2021 oleh kakak beradik Dario Amodei dan Daniela Amodei ini terkenal fokus pada pengembangan AI dengan pendekatan keamanan dan etika.
Olah juga menyebut bahwa kritik dan kekhawatiran Paus Leo XIV sangat penting. Pasalnya, AI memiliki potensi besar menggantikan tenaga kerja manusia dalam skala yang super masif. Ia pun meminta lebih banyak pihak di luar industri teknologi untuk ikut mengawasi perkembangan AI.
“Ada kemungkinan nyata bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia dalam skala sangat besar,” tegas Olah.
Ia menambahkan, komunitas agama, akademisi, masyarakat sipil, hingga pemerintah harus terlibat aktif. “Kita membutuhkan lebih banyak pihak seperti yang dilakukan Yang Mulia Paus di sini, melihat isu ini dengan serius dan mendorong perkembangan AI ke arah yang lebih baik,” lanjut Olah.
Dengan penuh keyakinan, ia menegaskan, “Kita membutuhkan suara-suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh kepentingan dan insentif bisnis.”
Paus Minta Stop Dominasi Gila Perusahaan AI
Dalam dokumen yang sama, Paus Leo XIV juga mengkritik habis konsentrasi kekuasaan AI yang hanya dikuasai segelintir perusahaan teknologi besar. Menurut Paus kelahiran 14 September 1955 itu, data dan sistem AI jangan sampai sepenuhnya dikuasai oleh sektor swasta.
Beliau dengan keras meminta pemerintah untuk mengambil peran lebih besar. Tujuannya jelas, yaitu demi melindungi para pekerja, anak-anak, serta kelompok rentan dari dampak negatif AI yang mengerikan.
Paus Leo XIV juga mengingatkan dengan penuh kewaspadaan bahwa perlombaan AI berisiko memperbesar konflik global. Lebih parah lagi, kondisi ini bisa mempercepat normalisasi perang digital di masa depan.
Beliau menilai dunia saat ini perlu “memperlambat laju” perkembangan AI. Mengapa? Karena manusia masih butuh ruang yang cukup untuk memahami dampak sosial dan moral dari teknologi ini secara utuh.
“Apa yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat segala sesuatu ketika semuanya bergerak terlalu cepat,” tulis Paus Leo XIV dalam ensikliknya.
Sebagai catatan penting, ensiklik “Magnifica Humanitas” ini memiliki panjang hampir 43.000 kata. Dokumen ini diyakini akan menjadi fondasi awal bagi sikap resmi Vatikan terhadap perkembangan AI di masa depan.
Banyak pihak menilai bahwa ensiklik ini bisa menjadi referensi global yang sangat penting soal AI. Hal ini mirip seperti ensiklik “Rerum Novarum” yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891, saat Revolusi Industri melanda dunia.
Kala itu, dokumen tersebut dengan berani membahas hak-hak pekerja dan dampak industrialisasi. Hasilnya, ensiklik itu menjadi fondasi penting ajaran sosial Gereja modern hingga hari ini.
Kini, Paus Leo XIV mencoba melakukan hal serupa untuk era AI. Beliau melihat bahwa perkembangan AI saat ini membawa dampak luar biasa terhadap pekerjaan manusia, kehidupan sosial, hingga masa depan seluruh peradaban, seperti yang dihimpun dari AP News, Politico, dan Reuters.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










