dentmas.id — Menurut laporan dari Dentmas.id, Jakarta, Telkomsel secara resmi meluncurkan sebuah solusi kecerdasan buatan (AI) mutakhir yang diberi nama Safia atau Smart AI Voice Interactive Assistant. Perusahaan memperkenalkan inovasi ini tepat pada momen penyelenggaraan Solution Day 2025. Secara fundamental, Safia hadir sebagai voicebot cerdas yang secara aktif membantu dunia korporasi dalam menangani berbagai kebutuhan, mulai dari layanan pelanggan, telemarketing, penagihan, hingga pengingat pembayaran.

Selanjutnya, General Manager Enterprise Services Management Telkomsel, Debora Sofiana, menjelaskan bahwa mereka secara khusus merancang Safia untuk menjawab tantangan industri yang terus menuntut pelayanan yang cepat, tepat, efisien, dan juga personal. “Selama ini, banyak perusahaan masih sangat mengandalkan peran human agent. Padahal, terdapat banyak pain point seperti keterbatasan kapasitas, tingginya biaya operasional, dan angka pergantian karyawan yang besar. Oleh karena itu, Safia kami hadirkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut,” jelas Debora saat berbincang dengan detikINET di sela acara Solution Day, Jakarta, pada Kamis (21/8/2025).
Selain itu, Safia secara teknis didukung oleh teknologi Automatic Speech Recognition (ASR) dan Large Language Model (LLM) yang canggih. Berkat dukungan ini, voicebot tersebut mampu berkomunikasi secara lebih natural dan mengalir layaknya percakapan dengan manusia. Perusahaan yang memanfaatkan layanan ini akhirnya dapat mengoperasikan layanan pelanggan selama 24 jam non-stop, sehingga solusi ini efektif mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh tenaga manusia.

“Sebagai ilustrasi, jika human agent memiliki keterbatasan jumlah dan jam kerja, maka Safia justru bisa bekerja secara tanpa batas, bahkan pada jam-jam golden hour seperti pukul 9-11 pagi atau 2-4 sore. Alhasil, dari sisi kapasitas dan skalabilitas, pelayanan pasti meningkat secara signifikan,” tambah Debora.
Di sisi lain, Telkomsel secara tegas menekankan bahwa Safia bukanlah sekadar voicebot biasa. Hal ini disebabkan oleh kemampuannya yang dibekali dengan unsur empati. Sebagai contoh, ketika diaplikasikan dalam sektor penagihan, interaksi dengan pelanggan tidak lagi terasa menekan, melainkan justru mengedepankan pendekatan yang solutif dan memahami kondisi.
kunjungi laman berita terkini di Exposenews.id
“Kami secara sengaja menyebut Safia sebagai empathetic AI voicebot. Jadi, dinamikanya bukan lagi agen versus pelanggan, tetapi lebih kepada mencari solusi bersama. Misalnya, pada proses collection, jika pelanggan tidak mampu membayar penuh, maka Safia akan secara aktif menawarkan opsi pembayaran yang lebih sesuai. Pendekatannya sangat humanis,” papar Debora lebih lanjut.
Meskipun namanya identik dengan gender tertentu, Debora mengungkapkan bahwa semua fitur Safia dapat disesuaikan sepenuhnya dengan kebutuhan spesifik perusahaan. Penyesuaian tersebut mencakup pemilihan suara (laki-laki atau perempuan), gaya komunikasi (formal maupun kasual), hingga penyusunan standar Quality Assurance (QA) yang konsisten.
Walaupun baru diperkenalkan secara resmi hari ini, Telkomsel mengklaim bahwa Safia sudah mulai digunakan oleh beberapa perusahaan dari sektor multifinance, P2P lending, perbankan, dan asuransi yang saat ini sedang menjalani uji coba (proof of concept). Ke depannya, Telkomsel menargetkan perluasan penetrasi ke sektor retail dan manufaktur.
“Target awal kami memang banking dan financial karena sektor tersebut lebih digital-minded. Namun, potensi yang ada di sektor retail dan manufaktur juga sangat besar. Safia akan terus kami enhance agar semakin pintar seiring dengan banyaknya data percakapan yang masuk,” ucapnya.
Keamanan Data dan AI Sebagai Penyempurna
Selanjutnya, menyadari betapa krusialnya perlindungan data, Telkomsel memastikan bahwa seluruh operasi SAFIA berjalan di atas jaringan terpercaya Telkomsel. Selain itu, sistem ini juga sudah dirancang agar mematuhi semua regulasi nasional dan standar internasional seperti GDPR dan ISO AI.
“Semua data pelanggan secara khusus disimpan di Indonesia, bahkan untuk industri dengan tingkat kekhawatiran tinggi seperti perbankan. Kami juga menyediakan opsi on-premise bagi perusahaan yang membutuhkan kontrol lebih. Jadi, aspek keamanan benar-benar menjadi prioritas utama,” tegas Debora.
Terakhir, Telkomsel juga menyebutkan bahwa kehadiran Safia sama sekali bukan dimaksudkan untuk menjadi ancaman bagi pekerjaan manusia. Justru sebaliknya, kehadiran AI ini diharapkan dapat meringankan beban kerja yang bersifat repetitif dan berulang. Dengan demikian, human agent dapat lebih fokus menangani kasus-kasus kompleks yang membutuhkan empati dan pertimbangan manusiawi yang dalam.
“Kami tidak pernah berniat menghapus peran manusia. Safia justru dirancang sebagai pendamping yang melengkapi. Untuk kategori transaksi tertentu, AI boleh saja mengambil alih peran, tetapi tetap akan selalu ada ruang yang sangat besar untuk human agent,” kata Debora.
Melalui Safia, Telkomsel Enterprise berharap dapat menghadirkan solusi digital yang tidak hanya efisien tetapi juga humanis. Harapan ini sejalan dengan komitmen mereka untuk mendukung percepatan transformasi digital di berbagai sektor industri di Indonesia.










