Dentmas.id – Para raksasa operator seluler Tanah Air sebenarnya menyimpan ambisi yang sangat membara demi menyajikan layanan internet super cepat 5G bagi masyarakat. Oleh sebab itu, ketika pemerintah sempat bertahun-tahun ragu menepati janji merilis alokasi spektrum frekuensi khusus 5G, para operator ini tidak tinggal diam dan langsung memutar otak mencari jalan keluar secara mandiri.
Akibatnya, mereka terpaksa “mencomot” sedikit demi sedikit porsi frekuensi milik layanan 4G LTE pada pita 1800 MHz serta 2100 MHz, yang kemudian mereka kombinasikan lagi dengan pita 2300 MHz.
Selanjutnya, lima pemain utama seperti Telkomsel, Indosat, Hutchison Tri, dan XL Axiata—kecuali Smartfren—segera mengemas taktik “comot frekuensi” tersebut melalui pengaplikasian teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS).
Hasilnya, mereka berhasil memamerkan lompatan kecepatan internet yang sanggup menembus angka sekitar 200 Mbps, hingga akhirnya secara berani mendaulat DSS sebagai layanan 5G resmi di Tanah Air.
Padahal, saat suatu wilayah mendadak padat oleh para pengguna asli 4G LTE, si sinyal “tamu” 5G ini langsung terpental keluar sehingga koneksi yang muncul mendadak merosot ke kelas 4G, meskipun layar HP pengguna masih mentereng menampilkan ikon 5G. Alhasil, para warganet pun ramai-ramai mengejek fenomena menggemaskan ini sebagai layanan “5G rasa 4G” yang penuh dengan ilusi.
Kendati demikian, semangat para operator seharusnya mendadak meluap usai konsolidasi industri kini menyisakan tiga raksasa—Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Smart—yang baru saja mengantongi “durian runtuh” berupa total spektrum frekuensi 5G sebesar 260 MHz dari lelang pemerintah.
Menariknya, Telkomsel sukses memborong alokasi raksasa sebesar 100 MHz, yang mencakup 20 MHz (2×10 MHz) di pita rendah (low band) 700 MHz serta 80 MHz di pita tengah (mid band) 2600 MHz, sehingga amunisi total lebar frekuensi mereka kini menggelembung menjadi 265 MHz.
Di saat yang sama, Indosat tidak mau kalah dengan mengamankan 20 MHz (2×10 MHz) di frekuensi 700 MHz dan 60 MHz di pita 2600 MHz, yang mana otomatis mendongkrak kepemilikan frekuensi total mereka menjadi 135 MHz.
Sementara itu, XL Smart berhasil menyabet 30 MHz (2×15 MHz) di spektrum 700 MHz ditambah 50 MHz di 2600 MHz, yang mana mengukuhkan total penguasaan spektrum mereka di angka 152 MHz.
Namun demikian, XL Smart harus rela mengembalikan jatah 15 MHz (2×7,5 MHz) pada frekuensi rendah 900 MHz ke tangan pemerintah pada akhir Desember mendatang sebagai dampak regulasi atas merger XL Axiata dan Smartfren Telecom pada April tahun lalu.
Faktanya, baik low band 700 MHz maupun mid band 2600 MHz terkenal luas sebagai “spektrum emas” tiada tanding untuk menggelar layanan 5G murni. Singkat kata, hanya dengan satu klik saja, seluruh operator seluler kini secara teknis mampu menyajikan koneksi 5G sejati yang super ngebut tanpa perlu lagi bersandiwara menggunakan trik akal-akalan DSS.
Trik Rahasia Tembus Tembok yang Bikin Geleng-Geleng Kepala!
Sebagai pemain paling kaya raya di antara pesaingnya, Telkomsel sebenarnya memegang peluang emas untuk segera mengeruk keuntungan melimpah melalui pemanfaatan spektrum 150 MHz 5G milik mereka.
Lebih lanjut, selain mengantongi 100 MHz dari hasil lelang teranyar, Telkomsel rupanya sudah lebih dahulu menguasai amunisi 50 MHz di frekuensi mid band 2300 MHz.
Akan tetapi, penggelaran jaringan 5G murni yang menggabungkan pita rendah dan menengah rupanya menyedot biaya modal (capital expenditure) dalam jumlah yang tidak murah.
Oleh karena itu, jajaran manajemen Telkomsel maupun Indosat wajib menghitung cermat rasio biaya, hasil, dan profitabilitas, mengingat dari 320 jutaan nomor aktif di Indonesia, masyarakat yang memegang HP 5G baru menyentuh angka 30 persen atau sekitar 100 juta pengguna saja.
Secara hukum fisika gelombang, makin tinggi frekuensi yang dipakai, maka radius jangkauannya justru bakal makin menyempit, sehingga di pusat bisnis yang padat lalu lintas internetnya, jarak antar-menara BTS bahkan wajib dipasang sangat rapat hingga jarak 100 meteran saja.
Lebih parah lagi, kelemahan fatal mid band terletak pada ketidakmampuannya dalam menembus dinding tembok tebal, kaca gedung, rimbunnya pepohonan, hingga perbukitan.
Sebaliknya, di area terbuka tanpa penghalang, sinyal mid band memang sanggup meluncur jauh hingga radius 5 sampai 7 kilometer, namun daya pancarnya pasti bakal makin melorot seiring menjauhnya posisi pengguna dari pemancar.
Berbeda secara drastis, keunggulan ajaib low band justru sanggup menerobos tembok gedung, kaca, hingga hutan lebat dengan jangkauan raksasa mencapai radius 16 kilometer dari atas menara BTS yang rata-rata setinggi 40 meter.
Maka dari itu, penggabungan kedua jenis frekuensi ini bakal menciptakan jaringan super tangguh, di mana pengguna tetap memperoleh layanan 5G dari pancaran low band saat melangkah keluar dari radius jangkauan mid band.
Mengejutkannya, di antara tiga raksasa seluler Tanah Air, justru XL Smart yang terlihat paling matang dalam memanen cuan 5G dengan ekspansi agresif yang menjangkau lebih dari 50 kota sejak Desember 2025 hingga menargetkan 88 kota pada akhir tahun ini.
Melalui produk andalan bertajuk XL Ultra 5G+, mereka secara berani mengklaim sanggup menyelimuti kota secara total (blanket coverage) berbekal satu spektrum khusus selebar 40 MHz di pita 2300 MHz yang disokong 15.000 unit BTS.
Namun tentu saja, XL Smart tidak mungkin bertaruh hanya pada frekuensi mid band 2300 MHz yang berdaya jangkau pendek, sehingga mereka cerdik mengawinkannya dengan frekuensi rendah yang kini mulai diganti dengan low band 700 MHz.
Lebih fantastis lagi, kalangan internal XL Smart membocorkan bahwa teknik duet frekuensi mid band dan low band ini sanggup menyelimuti seluruh area DKI Jakarta seluas 664 kilometer persegi hanya dengan mengandalkan 1.000 unit BTS saja!
Bikin Kaget! Kenapa Jutaan Pelanggan Justru Malah Kecewa dan Kabur?
Di lain sisi, para operator kini harus sangat jeli memilih lokasi strategis untuk “menanam” BTS mid band guna menampung kepadatan trafik data, sambil tetap mendampinginya dengan low band agar sinyal mampu menembus dinding dan kaca ruangan.
Dengan begitu, frekuensi low band akan selalu siap menjadi penyelamat yang melayani pengguna hingga radius belasan kilometer saat pancaran sinyal mid band mulai lenyap dari jangkauan.
Sayangnya, teknologi canggih berbiaya tinggi ini akhirnya berimbas pada dompet konsumen yang merasa kuota internet mereka tersedot sangat cepat, meskipun mereka mengakui keunggulan streaming yang jauh lebih cepat dan latency yang sangat singkat.
Oleh sebab itu, para operator kini berlomba merancang beragam variasi paket data menarik demi memikat selera pelanggan agar makin sering mengaktifkan koneksi HP mereka sepanjang hari.
Pasalnya, selain disebabkan oleh aksi pembersihan nomor karti SIM pasif, kemerosotan jumlah pengguna rupanya dipicu oleh rasa kecewa para pelanggan yang merasa dirugikan.
Hal ini terlihat jelas dalam laporan keuangan XL Smart paruh pertama tahun 2026 sejak peluncuran Ultra 5G pada akhir 2025, di mana pendapatan mereka melonjak fantastis 26 persen dibanding semester pertama 2025 mencapai Rp 24,03 triliun.
Tak hanya itu, laba bersih XL Smart ikut melesat ekstrem hingga 294 persen menjadi Rp 2,73 triliun, kendati jumlah total pelanggan mereka justru merosot tajam dari 73 juta pada akhir 2025 menjadi tinggal 69,4 juta jiwa.
Akan tetapi, tingkat ARPU (pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) XL Smart justru meroket dari Rp 38.200 menjadi Rp 47.100, yang mana sukses memimpin takhta tertinggi di seluruh industri seluler saat ini.
Sebagai pembanding, Telkomsel mencatatkan ARPU sebesar Rp 45.600 dari basis 153,5 juta pelanggan, dengan perolehan total pendapatan raksasa senilai Rp 55,6 triliun dan laba bersih mencapai Rp 10,4 triliun.
Sementara Indosat berhasil meraih ARPU sebesar Rp 46.000 dengan basis 93,4 juta pelanggan (turun dari 95,4 juta), yang mana sukses mengantongi pendapatan Rp 30,65 triliun (naik 13,1 persen dari semester I-2025) serta kenaikan laba bersih 49,2 persen menjadi Rp 3,25 triliun.
Pada akhirnya, publik kini menanti apakah persaingan panas pada semester kedua tahun 2026 ini bakal makin membakar industri seluler dalam menggenjot pendapatan, laba, dan ARPU dari berkah frekuensi 5G murni.
Dan yang paling mendebarkan, mampukah ketiga raksasa seluler ini merayu kembali puluhan juta pelanggan yang terlanjur ngambek agar tidak benar-benar angkat kaki untuk selamanya?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










