Dentmas.id – Kabar mengejutkan mendadak menggegerkan pasar teknologi dunia setelah otoritas Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) dilaporkan memberikan sinyal hijau bagi deretan raksasa teknologi terbesar di negaranya, termasuk ByteDance, Alibaba, hingga Tencent, untuk memborong chip monster buatan Nvidia, yaitu RTX PRO 5500. Oleh karena itu, regulator terkait langsung menginstruksikan kepada manajemen ByteDance, Alibaba, dan Tencent agar segera menyerahkan laporan resmi mengenai proyeksi total unit RTX PRO 5500 yang ingin mereka beli beserta rincian tujuan penggunaannya secara transparan.

Jika skema perizinan tersebut benar-benar diterbitkan oleh Beijing, maka Nvidia berpeluang besar untuk mengamankan kembali pijakan bisnisnya yang sempat terguncang hebat di pasar domestik Tiongkok. Pasalnya, laju penetrasi pasokan chip Kecerdasan Buatan (AI) milik perusahaan asal Amerika Serikat tersebut sempat mengalami kelumpuhan total akibat tindakan penahanan seri H200 oleh otoritas bea cukai Beijing sejak bulan Januari 2026.
Menariknya, kemunculan kabar spektakuler ini bergulir tidak lama setelah momentum pertemuan tingkat tinggi antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang berlangsung di Washington pada 23–25 September lalu. Bahkan, CEO Nvidia Jensen Huang turut hadir secara langsung sebagai salah satu dari 134 tamu kehormatan dalam jamuan makan malam kenegaraan elit yang diselenggarakan oleh Donald Trump khusus untuk menyambut kedatangan Xi Jinping.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan media Asia Times, konglomerat media sosial ByteDance dikabarkan tengah mengkalkulasi skema pembelian masif hingga mencapai kisaran 1 juta unit RTX PRO 5500. Sebagai dampaknya, pihak produsen Nvidia sendiri disinyalir telah merancang jadwal pengiriman perdana pasokan GPU tersebut ke China pada akhir bulan Desember 2026 mendatang, dengan target jatah distribusi sekitar 500.000 unit per kuartal secara berkelanjutan.
Spesifikasi Monster Nvidia RTX PRO 5500: Kenapa Jadi Incaran Raksasa Tech China?
Secara resmi, Nvidia pertama kali meluncurkan varian RTX PRO 5500 ini ke publik pada tanggal 14 September 2026 lalu. Selanjutnya, komponen pemroses grafis yang dirancang khusus untuk memperkuat komputer kelas stasiun kerja profesional (workstation) ini ditenagai oleh arsitektur silikon GB202 yang mengusung 21.760 inti pemroses (CUDA cores), sehingga secara teoritis menyamai kekuatan dasar yang dibawa oleh kartu grafis flagship GeForce RTX 5090.
Namun demikian, keunggulan mutlak dari RTX PRO 5500 ini terletak pada pembekalan kapasitas memori monster sebesar 84 GB GDDR7 yang sudah dilengkapi dengan fitur canggih koreksi kesalahan data (Error-Correcting Code atau ECC). Terlebih lagi, ketersediaan ruang memori lapang sebesar 84 GB ini melonjak drastis hingga 2,6 kali lipat apabila kita bandingkan secara langsung dengan kapasitas bawaan GeForce RTX 5090 yang hanya dibekali memori 32 GB.
Di sisi lain, klasifikasi teknis RTX PRO 5500 ini secara sah dimasukkan ke dalam segmen kartu pemroses grafis (GPU) tingkat workstation, alih-alih dikategorikan sebagai pemroses komputasi khusus pusat data (data center). Oleh sebab itu, lini produk ini berhasil menghindar secara legal dari jangkauan sanksi pembatasan ekspor yang ketat dari pemerintah Amerika Serikat sejak bulan Oktober 2022 silam.
Meski begitu, kemampuan operasional dari kartu grafis ini sebetulnya sengaja dirancang secara terbatas oleh pabrikan Nvidia. Pasalnya, performa chip ini hanya difokuskan untuk menjalankan komputasi tahapan inferensi—yaitu pengoperasian model sistem AI yang sudah jadi untuk merespons instruksi pengguna harian, seperti mengeksekusi open-source model pada server mandiri—sehingga perangkat keras ini tidak sanggup apabila dipaksakan untuk melatih (training) model AI baru dari tahapan awal.
Akan tetapi, para pengembang perangkat lunak di China tetap memetik keuntungan yang sangat melimpah dari aspek arsitektur pemrogramannya. Sebab, RTX PRO 5500 masih mempertahankan dukungan penuh terhadap platform pemrograman proprietary Nvidia CUDA, sehingga seluruh kerangka kerja (framework) serta perangkat lunak pendukung yang biasa digunakan oleh teknisi lokal dapat dipindahkan dan dijalankan secara instan tanpa perlu mengubah struktur baris kode program secara rumit.
Nasib Chip H200 Masih Tertahan, Produsen Lokal Langsung Menguasai Pasar!
Sebelum mencuatnya sinyal perizinan baru ini, ketegangan persaingan teknologi antara kedua negara sebetulnya berpusat pada dinamika nasib chip AI Nvidia generasi terdahulu, yakni seri H200. Walaupun otoritas Amerika Serikat sempat memberlakukan larangan ekspor secara penuh hingga Desember 2025, Presiden Donald Trump kemudian melonggarkan keran penjualan kepada jajaran pembeli terpilih dengan syarat wajib membagikan 25 persen dari hasil pendapatan penjualan untuk disetorkan langsung ke kas negara AS.
Namun, pihak bea cukai China justru mengambil tindakan tegas dengan menahan gelombang masuk pasokan H200 pada bulan Januari 2026 dan hanya membuka celah impor dalam jumlah yang amat terbatas. Alhasil, sampai dengan bulan Agustus 2026, perusahaan raksasa ByteDance dan Tencent dilaporkan masing-masing baru berhasil menerima alokasi sekitar 10.000 unit saja, angka yang terbilang sangat jauh di bawah target alokasi kuota awal sebanyak 75.000 unit.
Sebagai langkah balasannya, pemerintah Beijing justru secara agresif menginstruksikan seluruh korporasi teknologi dalam negeri untuk mengalihkan pemenuhan kebutuhan perangkat keras mereka ke produk lokal. Maka dari itu, para pengembang teknologi China didorong penuh untuk memprioritaskan pemakaian chip komputasi Ascend buatan Huawei yang diproduksi oleh raksasa manufaktur semikonduktor nasional, SMIC.
Dampak dari pemblokiran arus barang tersebut berujung pada kerugian finansial yang sangat membengkak bagi kubu Nvidia. Laporan keuangan mencatat bahwa pihak manajemen perusahaan harus rela menanggung beban penderitaan rugi penurunan nilai persediaan hingga mencapai angka 400 juta dollar AS (setara Rp7,2 triliun) akibat terjadinya penumpukan stok unit H200 yang tak terserap sepanjang paruh pertama tahun ini.
Selain itu, neraca pendapatan bisnis Nvidia dari wilayah China Daratan termasuk wilayah Hong Kong mengalami kemerosotan yang sangat tajam pada periode kuartal pertama tahun ini. Raihan omzet perusahaan tercatat merosot drastis hingga tersisa 4,55 miliar dollar AS (sekitar Rp81,9 triliun), padahal pada periode tahun sebelumnya mereka sanggup mengantongi pendapatan fantastis sebesar 9,66 miliar dollar AS (sekitar Rp173,9 triliun).
Berdasarkan hasil analisis mendalam dari lembaga riset terkemuka TrendForce, deretan vendor chip komputasi lokal China yang dipimpin oleh Huawei serta Cambricon diperkirakan bakal menguasai peta persaingan dengan mencaplok hampir 80 persen seluruh pangsa pasar server AI domestik sepanjang tahun 2026.
Akhir kata, pihak TrendForce juga memprediksikan bahwa penguasaan pangsa pasar dari gabungan vendor asing seperti Nvidia, AMD, maupun penyedia chip internasional lainnya bakal tergerus hebat hingga tersisa 21 persen saja. Fenomena kemerosotan ini terbilang sangat tajam apabila kita perbandingkan dengan raihan pangsa pasar mereka yang sebelumnya masih sanggup mencapai angka 34 persen pada tahun 2025 lalu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.






