Dentmas.id – Dunia maya kembali dihebohkan dengan kabar mengejutkan yang menimpa Phoebe Gates, putri dari pendiri raksasa teknologi Microsoft, Bill Gates. Startup garapannya kini menjadi sorotan tajam setelah dituding menjalankan praktik curang yang disebut cookie stuffing, sebuah modus yang bisa membawanya ke meja hijau dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara!
Ya, ancaman serius itu mengintai jika nantinya ada dakwaan pidana federal dan terbukti bersalah di pengadilan. Bayangkan, seorang anak konglomerat teknologi harus berurusan dengan jeruji besi karena ulah startup-nya sendiri.
Phoebe yang masih berusia 23 tahun ini mendirikan Phia, sebuah aplikasi pembanding harga belanja online yang mengandalkan kecerdasan buatan. Startup ini ia bangun bersama rekannya, Sophia Kianni, dan resmi diluncurkan pada April 2025 lalu. Dalam waktu singkat, Phia berhasil mengumpulkan pendanaan fantastis, yaitu lebih dari 43 juta dollar AS atau setara dengan Rp774 miliar!
Tak main-main, deretan investor ternama ikut menyuntikkan dananya ke startup ini. Nama-nama seperti Hailey Bieber, Khloe Kardashian, hingga Kris Jenner disebut-sebut turut ambil bagian dalam pendanaan Phia. Sepanjang tahun 2025, Phia bahkan dilaporkan sukses membukukan pendapatan hingga 30 juta dollar AS atau sekitar Rp540 miliar!
Pengungkapan Mengejutkan dari Bloomberg!
Tuduhan serius ini pertama kali diungkap oleh Bloomberg melalui laporan investigasi mereka yang mendalam. Untuk yang belum tahu, cookie stuffing adalah praktik nakal menyisipkan cookie pelacak ke dalam proses checkout di situs belanja. Dengan cara ini, seseorang bisa mengklaim komisi dari transaksi yang sebenarnya bukan berasal dari rujukan mereka.
Nah, Phia diduga menggunakan metode yang membuat kode rujukan atau cookie afiliasi ikut tertanam saat pengguna berbelanja, bahkan pada transaksi yang sama sekali tidak berasal dari aplikasi mereka. Akibatnya, Phia tercatat seolah-olah pihak yang membawa transaksi tersebut dan berhak atas komisi dari peritel.
Padahal, pembeli mungkin saja datang sendiri ke toko online tersebut atau melalui rujukan afiliasi lain. Praktik curang ini diduga menyumbang sekitar 51 persen dari total penjualan yang diatribusikan ke Phia sepanjang Juni 2026. Angka yang sangat fantastis dan mencurigakan!
Bukti Chat Internal yang Menjerat!
Merujuk pada komunikasi internal perusahaan serta sejumlah sumber yang memahami persoalan ini, Bloomberg melaporkan bahwa Phoebe dan Kianni ternyata sudah mengetahui keberadaan fitur pemasangan cookie otomatis tersebut sejak berbulan-bulan sebelumnya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan klaim awal Phia yang menyebut praktik tersebut hanya “anomali teknis” yang baru diketahui perusahaan.
Salah satu bukti yang dikutip Bloomberg adalah pesan Slack internal perusahaan yang bertanggal 18 Desember. Dalam pesan tersebut, Phoebe Gates disebut meminta salah satu karyawannya untuk memastikan fitur “auto pop for cookie drop” aktif di semua situs yang bekerja sama dengan Phia. Ia melakukan ini demi memaksimalkan monetisasi dari seluruh volume transaksi bruto.
Yang lebih mencengangkan, Sophia Kianni turut membalas permintaan Phoebe dengan antusias! “Apa pun yang bisa kita lakukan untuk terus menjalankan pencatatan cookie ini akan luar biasa, terima kasih,” tulis Kianni dalam chat tersebut. Wah, sepertinya mereka sangat sadar dengan apa yang sedang dilakukan!
Hingga saat ini, baik Phoebe Gates maupun Sophia Kianni belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan serius ini. Semua tanggapan hanya datang melalui juru bicara perusahaan yang berusaha meredam situasi.
Bantahan dan Langkah Cepat Phia
Menyadari situasi yang semakin panas, Phia akhirnya bertindak cepat. Mereka telah menonaktifkan fitur yang dipermasalahkan sejak 7 Juli 2026, lebih dari sebulan sebelum laporan Bloomberg terbit. Perusahaan juga berjanji akan mengembalikan dampak dari transaksi yang keliru diatribusikan, serta berencana merekrut kepala kepatuhan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Juru bicara Phia dengan tegas menyatakan, “Fitur apa pun yang menyebabkan kesalahan atribusi telah langsung kami hapus lebih dari sebulan lalu, tepatnya pada 7 Juli.” Mereka juga membantah angka 51 persen yang diklaim Bloomberg, dengan mengatakan bahwa metodologi analisis yang digunakan Bloomberg adalah keliru.
Menurut perusahaan, penurunan pendapatan Phia belakangan ini murni akibat keputusan mereka sendiri untuk menghentikan sementara upaya monetisasi. Namun, benarkah demikian?
Dampak Nyata yang Mulai Terasa!
Kasus ini pun mulai berbuntut panjang. Platform afiliasi Impact.com dilaporkan telah menangguhkan kerja sama dengan Phia. Sejumlah peritel besar yang disebut terdampak antara lain Nike, Nordstrom, dan Gap. Nama-nama besar ini tentu tidak mau terlibat dalam praktik curang yang bisa merusak reputasi mereka.
Yang lebih memprihatinkan, pendapatan Phia dilaporkan anjlok drastis! Dari sekitar 80.000 dollar AS per hari, pendapatan mereka kini hanya berkisar 10.000 hingga 28.000 dollar AS per hari. Itu terjadi sejak fitur bermasalah tersebut dinonaktifkan. Penurunan drastis ini seolah menjadi bukti betapa besarnya peran cookie stuffing dalam mendongkrak pendapatan Phia selama ini!
Ancaman 20 Tahun Penjara Bukan Isapan Jempol!
Ariel Givner, pengacara dari firma hukum Givner Law, menyebut praktik semacam ini berpotensi masuk kategori penipuan transfer elektronik atau wire fraud menurut hukum federal Amerika Serikat. “Ada kemungkinan hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara, ditambah denda dan restitusi,” tegas Givner.
Ancaman ini tentu bukan main-main! Namun, perlu dicatat bahwa hingga saat ini belum ada dakwaan resmi yang dilayangkan otoritas hukum AS kepada Phoebe Gates maupun Sophia Kianni. Pernyataan mengenai ancaman hukuman ini masih berupa analisis dari pengacara, bukan proses hukum yang benar-benar sedang berjalan.
Givner juga mencontohkan kasus serupa yang terjadi pada 2014. Saat itu, mantan afiliasi eBay bernama Shawn Hogan divonis penjara oleh pengadilan federal AS atas skema cookie stuffing yang merugikan hingga 28 juta dollar AS atau sekitar Rp504 miliar. Kasus ini menjadi preseden buruk yang harus diwaspadai oleh Phoebe dan timnya.
Kasus ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku startup, bahwa tidak ada jalan pintas untuk sukses. Praktik curang akan selalu terungkap dan berujung pada petaka, sekalipun dilakukan oleh anak seorang miliarder sekalipun!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










