Dentmas.id – Para pencinta brand Xiaomi, bersiaplah! Presiden Xiaomi, Lu Weibing, secara resmi mengonfirmasi bahwa aneka smartphone Xiaomi yang akan dipasarkan tahun depan dipastikan mengalami kenaikan harga. Kemudian, pernyataan mengejutkan ini secara gamblang ia sampaikan langsung dalam sebuah konferensi pers yang membahas laporan pendapatan terbaru perusahaan.

Biang Keroknya Ada di Krisis Chip Global
Lalu, apa sebenarnya yang memicu kenaikan harga ini? Ternyata, lonjakan harga global pada chip memori menjadi biang keladinya. Selain itu, situasi ini semakin dipicu oleh meledaknya permintaan chip memori untuk server-server kecerdasan buatan (AI). Selanjutnya, kita semua tahu bahwa berbagai perusahaan teknologi raksasa saat ini sedang gencar-gencarnya membangun data center, yang secara otomatis membutuhkan komponen ini dalam jumlah sangat masif.
Tak berhenti di situ, tingginya permintaan chip memori untuk server ini akhirnya memaksa raksasa teknologi seperti Samsung mengambil langkah drastis. Perusahaan asal Korea Selatan itu terpaksa memangkas produksi chip memori untuk ponsel, dan kemudian, mereka mengalihkan fokus produksinya ke memori bandwidth tinggi (high bandwidth memory) yang lebih dibutuhkan untuk pasar server AI.
Peringatan dari Pucuk Pimpinan Langsung
Akibatnya, karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan ini, Weibing pun merasa perlu untuk secara proaktif memperingatkan seluruh pengguna setia Xiaomi mengenai rencana kenaikan harga ponsel tersebut. Dengan kata lain, ia ingin konsumen memahami alasan di balik keputusan sulit ini sejak dini.
Lebih lanjut, Weibing dengan tegas menyatakan, “Saya secara pribadi memperkirakan tekanan pada tahun depan akan jauh lebih berat dibandingkan dengan tahun ini.” Kemudian, ia menambahkan penjelasan yang lebih gamblang, “Secara umum, para konsumen mungkin akan mendapati kenaikan harga eceran produk yang cukup besar. Selanjutnya, kami terpaksa harus mengatasi sebagian tekanan ini melalui penyesuaian harga, walaupun harus diakui, cara ini saja tidak akan cukup untuk sepenuhnya mengatasi situasi yang ada.”
Sebelumnya, ini bukanlah kali pertama Weibing menyampaikan peringatan semacam ini. Sebagai contoh, hanya sebulan yang lalu, ia juga telah memaparkan bahwa melonjaknya harga chip memori secara drastis mendesak kenaikan harga smartphone. Pada akhirnya, pernyataan ini mencuat ke permukaan setelah sejumlah konsumen menyuarakan kekecewaan mereka terhadap harga Redmi K90 yang terbilang tinggi.
Sebagai ilustrasi, ponsel andalan dari sub-merek Xiaomi itu sekarang dibanderol dengan harga 2.599 yuan (sekitar Rp 6,1 juta) hanya untuk versi dasarnya dengan RAM 12/256 GB. Dengan demikian, harganya secara nyata mengalami kenaikan dari pendahulunya, Redmi K80, yang diluncurkan pada November 2024 lalu dengan harga 2.499 yuan (sekitar Rp 5,8 juta).
Masa Depan Pasar: Naik Harga Tapi Tetap Bersaing
Meskipun demikian, walau telah memberikan peringatan kenaikan harga secara terbuka, Weibing sengaja tidak merinci secara persentase berapa besar lonjakan harga HP Xiaomi di tahun depan. Selain itu, detail mengenai cakupan kenaikan harga juga belum diumumkan; apakah kebijakan ini akan berlaku secara global termasuk di pasar Indonesia, atau justru hanya diterapkan di pasar-pasar tertentu saja.
Di sisi lain, yang patut diacungi jempol, di tengah segala tekanan harga komponen yang menghimpit ini, Xiaomi justru berhasil menunjukkan performa yang tangguh. Berdasarkan laporan terkini dari firma riset pasar Omdia, Xiaomi secara mengejutkan berhasil mengirimkan 43,4 juta unit ponsel pada kuartal III-2025. Alhasil, angka tersebut berhasil mencerminkan kenaikan tipis sebesar 1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berkat pencapaian gemilang ini, Xiaomi dengan percaya diri berhasil meraih pangsa pasar smartphone global sebesar 14 persen, yang sekaligus mengukuhkan posisinya di peringkat ketiga dunia. Selanjutnya, posisi pertama masih ditempati oleh Samsung dengan pengiriman fantastis mencapai 60,6 juta unit ponsel (market share 19 persen), yang kemudian diikuti oleh Apple di posisi kedua dengan 56,5 juta unit (pangsa pasar 18 persen).
Sementara itu, untuk posisi keempat, diisi oleh Transsion dengan pengiriman 28,6 juta unit (pangsa pasar 9 persen). Sedangkan posisi kelima secara ketat dikejar oleh Vivo yang berhasil mengirimkan 28,5 juta unit (pangsa pasar 9 persen).
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com










