Dentmas.id – Pernahkah kamu membayangkan bahwa kecerdasan buatan (AI) yang keren itu ternyata sangat haus? Ya, ketersediaan air minum dunia kini semakin terancam, dan kita harus waspada! Selanjutnya, penyebab menyusutnya stok air bersih tidak lagi semata-mata berasal dari kekeringan atau perubahan iklim yang sering kita salahkan, melainkan juga dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence yang sedang naik daun.
Dampak Tak Terduga: AI Menjadi Peminum Berat

Berdasarkan laporan Forbes, kemajuan teknologi AI ternyata membawa konsekuensi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Yang paling mencengangkan, salah satu dampak paling terasa justru adalah percepatan menurunnya cadangan air minum global yang menjadi hak semua orang. Pada intinya, masalah serius ini terutama dipicu oleh meningkatnya penggunaan air bersih oleh raksasa teknologi untuk mendinginkan pusat data (data center) yang menjalankan sistem AI berskala besar.
Lalu, bagaimana ceritanya? Ternyata, pusat data AI membutuhkan sistem pendingin khusus agar suhu servernya bisa tetap stabil dan tidak kepanasan. Sebagai ilustrasi, sistem pendingin ini mengandalkan menara pendingin dan mekanisme udara yang memanfaatkan air bersih sebagai bahan bakar utama untuk menguapkan panas. Yang membuat kita tercengang, laporan tersebut menyebut bahwa setiap kilowatt-hour (kWh) energi yang digunakan untuk proses pendinginan server AI, bisa menghabiskan hingga 9 liter air! Bayangkan betapa borosnya.
Dilema Lokasi: Konsumsi Air Berlipat Ganda
Belum lagi, karena mayoritas perusahaan teknologi AI berkantor pusat di Amerika Serikat (AS), kebutuhan listrik untuk menjalankan pusat data mereka juga secara tidak langsung berdampak pada melonjaknya konsumsi air. Mengapa bisa demikian? Pasalnya, pembangkit listrik di AS masih banyak yang mengandalkan sistem termoelektrik. Faktanya, sistem kuno ini membutuhkan air dalam jumlah yang sangat fantastis, dengan rata-rata 43,8 liter air untuk setiap kilowatt-hour (kWh) yang dihasilkan. Alhasil, jejak karbon dan “jejak air” industri AI pun menjadi semakin besar.
Janji Manis dan Proyeksi Suram di Masa Depan
Menyikapi kritik ini, perusahaan-perusahaan teknologi pelopor AI seperti Microsoft, Google, dan Meta pun angkat bicara. Mereka mengklaim bahwa pihaknya sedang berupaya keras untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasional mereka. Melalui berbagai proyek ekologi, ketiga raksasa teknologi ini berjanji untuk “mengganti” atau mengisi ulang pasokan air di dunia, dengan jumlah yang lebih banyak dari yang mereka konsumsi. Namun demikian, target ambisius yang rencananya akan dicapai paling lambat tahun 2030 ini masih menyisakan tanda tanya besar. Sampai saat ini, belum jelas bagaimana mereka akan merealisasikan janji manis tersebut, mengingat ketersediaan air bersih global juga semakin terbatas dan diperebutkan oleh banyak pihak.
Sebagai contoh, Google dalam komitmen sustainability-nya baru-baru ini dengan lantang menyebut bahwa air bersih merupakan “sumber daya paling berharga di bumi”. Oleh karena itu, perusahaan bertekad untuk terus menjaga keamanan air dan kelestarian ekosistem yang sehat. Meskipun janji dari ketiga perusahaan teknologi tadi terdengar meyakinkan dan penuh harapan, penggunaan air untuk pengembangan AI di masa depan tetap memicu kekhawatiran yang sangat mendalam di kalangan aktivis lingkungan.
Bayangkan saja, pada tahun 2027, konsumsi air dari industri AI diproyeksikan bisa mencapai 6,6 miliar meter kubik! Angka ini dinilai sangat besar dan berpotensi memperparah kelangkaan pasokan air bersih dunia yang sudah ada di ujung tanduk. Sebagai perbandingan, menurut Laporan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hampir dua pertiga populasi dunia saat ini sudah mengalami kekurangan air yang parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Bahkan yang lebih mengerikan, pada tahun 2030, krisis ini diprediksi akan semakin parah, di mana hampir separuh populasi masyarakat di dunia bakal menghadapi kelangkaan air yang ekstrem.
Dengan adanya perkiraan suram akan kelangkaan pasokan air bersih di masa depan, CEO dan jajaran direksi perusahaan teknologi pun diimbau untuk mempertimbangkan ulang strategi pembangunan Artificial Intelligence mereka. Seperti yang telah disinggung, pembangunan pusat data Artificial Intelligence bisa menimbulkan ancaman baru terhadap ketersediaan sumber daya alam paling mendasar, yakni air bersih. Jadi, intinya tidak hanya soal teknologi canggih dan keuntungan finansial yang berlipat, para pemimpin perusahaan teknologi diminta untuk merenungkan dampak lain yang bisa berpengaruh kepada lingkungan dan masyarakat sosial secara global.
Pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam Konferensi Air PBB pun patut kita renungkan bersama. Guterres menegaskan bahwa “air adalah salah satu hak asasi manusia dan faktor penentu pembangunan bersama untuk membentuk masa depan yang lebih baik”. Sayangnya, menurut Guterres, di tengah gempuran lonjakan teknologi Artificial Intelligence, ketersediaan air justru berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Dia menyampaikan dengan prihatin bahwa “air sedang menghadapi masalah yang serius.” Pada akhirnya, pesan ini harusnya menjadi alarm bagi kita semua untuk tidak hanya terpukau oleh kecanggihan Artificial Intelligence, tetapi juga memikirkan biaya lingkungan yang harus dibayar.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com










