Dentmas.id – Sebuah keputusan kontroversial baru saja meledak di Washington! Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan tegas memerintahkan semua lembaga federal untuk segera memutus hubungan dengan perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka, Anthropic. Ya, perusahaan pengembang model AI populer Claude ini kini resmi menjadi musuh nomor satu pemerintahan Trump.
Dalam sebuah unggahan panas di platform Truth Social, Trump melontarkan serangan keras. Ia menyebut Anthropic sebagai “perusahaan AI sayap kiri” yang sama sekali tidak memahami kebutuhan militer AS, terutama di tengah situasi global yang semakin memanas. Trump bahkan mengultimatum semua lembaga pemerintah, termasuk Departemen Pertahanan (Pentagon), untuk menarik seluruh produk dan layanan Anthropic dalam waktu paling lambat enam bulan.
“Kami tidak membutuhkan mereka, kami tidak menginginkan mereka, dan tidak akan ada lagi kerja sama dengan perusahaan itu,” tulis Trump dengan nada penuh amarah di akun @realDonaldTrump. Ia juga mengancam akan menggunakan seluruh kewenangan pemerintah untuk memastikan kepatuhan, termasuk menjatuhkan konsekuensi sipil dan pidana jika Anthropic berani membantah.
Pentagon Beri Cap “Berbahaya” pada Anthropic
Lantas, apa sebenarnya yang memicu kemarahan penguasa Gedung Putih ini? Sumber konflik ini berakar dari negosiasi alot antara Anthropic dan Pentagon. Rupanya, pihak militer AS meminta akses penuh dan tanpa batas terhadap model AI milik Anthropic. Mereka menginginkan teknologi canggih itu digunakan untuk berbagai kebutuhan militer yang sangat sensitif.
Namun, yang membuat Anthropic bergeming adalah isi dari permintaan tersebut. Pentagon disebut-sebut mendesak agar Anthropic menghapus sejumlah pengaman (safeguards) dalam model AI mereka. Tujuannya jelas: memungkinkan penggunaan AI untuk pengawasan massal di dalam negeri dan pengembangan senjata otonom penuh yang beroperasi tanpa kendali manusia.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, langsung bereaksi keras. Ia kemudian mengumumkan bahwa Anthropic resmi ditetapkan sebagai “risiko rantai pasok” (supply-chain risk). Status ini merupakan hukuman mati bagi kontrak-kontrak Anthropic dengan militer dan mitra pertahanan lainnya di masa depan.
“Tidak akan ada kontraktor, pemasok, atau mitra bisnis militer AS yang boleh bekerja sama dengan Anthropic. Mereka hanya diberi waktu transisi maksimal enam bulan untuk menghentikan semua layanannya di Pentagon,” tegas Hegseth melalui akun X-nya, @SecWar. “Para prajurit AS tidak akan pernah menjadi sandera ideologi perusahaan teknologi besar. Keputusan ini sudah final dan tidak bisa diganggu gugat!”
Bos Anthropic Angkat Bicara: “Kami Tak Bisa Setuju Demi Kemanusiaan!”
Di tengah tekanan besar dari pemerintah, CEO Anthropic, Dario Amodei, akhirnya buka suara. Melalui sebuah pernyataan di blog resmi perusahaan, ia menegaskan bahwa selama ini Anthropic justru telah menjadi mitra setia pemerintah. Mereka sudah menerapkan model AI canggih mereka di jaringan pemerintah AS yang terklasifikasi dan di laboratorium nasional. Teknologi mereka bahkan digunakan untuk analisis intelijen, simulasi perang, perencanaan operasional, hingga operasi siber.
Namun, Amodei menegaskan ada garis merah yang tidak akan pernah mereka lewati. Ada dua batasan prinsipil yang menurut perusahaan tidak bisa ditawar: pertama, penggunaan AI untuk pengawasan massal domestik, dan kedua, pengembangan senjata otonom penuh tanpa keterlibatan manusia.
Dengan tegas ia menjelaskan, pengawasan massal berbasis AI adalah ancaman nyata bagi kebebasan sipil. Bayangkan, teknologi bisa menggabungkan data publik seseorang menjadi profil komprehensif secara otomatis dan dalam skala masif—ini sangat berbahaya. Sementara untuk senjata otonom, Amodei menilai sistem AI saat ini masih jauh dari kata andal dan aman untuk mengambil keputusan hidup dan mati tanpa campur tangan manusia.
“Kami tidak mungkin menyetujui permintaan itu. Hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan melarang kami melakukannya,” ujar Amodei dengan tegas, merujuk pada desakan Pentagon agar mereka membongkar sistem pengaman AI mereka.
Meski siap dihajar, Anthropic menyatakan tetap ingin mendukung keamanan nasional AS. Mereka hanya ingin mempertahankan dua batasan itu sebagai bentuk komitmen terhadap demokrasi dan keselamatan teknologi. Laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa Anthropic berencana membawa kasus ini ke pengadilan dan akan menggugat keputusan Pentagon yang melabeli mereka sebagai risiko rantai pasok.
OpenAI Tikung Anthropic, Rebut Kontrak Raksasa Pentagon
Nah, di tengah badai yang menerpa Anthropic, pesaing berat mereka, OpenAI, justru bergerak cepat layaknya seekor predator. CEO OpenAI, Sam Altman, dengan bangga mengumumkan bahwa perusahaannya telah menandatangani kesepakatan besar untuk menerapkan model AI mereka di jaringan terklasifikasi milik Pentagon.
Altman mengklaim bahwa dalam proses negosiasi, Pentagon menunjukkan komitmen serius terhadap keselamatan AI dan menghormati prinsip-prinsip yang diusung OpenAI. Kesepakatan itu konon masih mencakup larangan pengawasan massal dan menjamin tanggung jawab manusia dalam penggunaan kekuatan, termasuk untuk sistem senjata.
“Kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS untuk model kami di jaringan terklasifikasi mereka sudah kami capai,” cuit Altman dengan nada penuh kemenangan di akun X @sama.
Tak hanya itu, OpenAI bahkan berencana membangun pengaman teknis tambahan dan akan menempatkan teknisi mereka langsung di dalam tubuh Departemen Pertahanan untuk mengawasi implementasi sistem.
Lantas, mengapa OpenAI bisa dengan mudah menerima tawaran Pentagon, sementara Anthropic harus berperang? Seorang pejabat senior AS, Jeremy Lewin, memberikan bocoran menarik. Menurutnya, OpenAI berhasil karena mereka setuju dengan prinsip “penggunaan AI yang sah secara hukum” (all lawful use) yang menjadi syarat mutlak Pentagon.
Di sinilah letak perbedaan besar. Langkah OpenAI ini secara gamblang menyoroti kontras tajam dengan sikap Anthropic yang mati-matian mempertahankan pengamanan dalam model Claude. Perbedaan pendekatan ini seakan menjadi cerminan meningkatnya ketegangan antara idealisme etika perusahaan teknologi dengan kebutuhan keamanan nasional pemerintah federal AS yang semakin agresif. Perang dingin antara Silicon Valley dan Washington pun kini memasuki babak baru yang mencekam!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










