Dentmas.id – Langkah besar baru saja diumumkan! Meta, perusahaan yang menaungi Facebook dan Instagram, resmi mengikat kerja sama dengan raksasa media global, News Corp. Mereka meneken kontrak lisensi konten senilai Rp 850 miliar per tahun. Bukan buat main-main, tapi buat ‘sekolahin’ AI mereka biar makin pinter!
Wah, kabar ini bikin geger dunia teknologi dan media. Meta akhirnya buka dompet lebar-lebar. Mereka nggak mau ketinggalan kereta dalam perlombaan kecerdasan buatan atau AI. Lewat kesepakatan ini, Meta secara legal mengakses gunungan arsip dan konten jurnalistik milik News Corp. Tujuannya jelas: buat melatih model AI mereka, Llama, biar kemampuannya moncer.
Informasi ini dihimpun dari laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu (4/3/2026). Nilai kontraknya bikin melongo, mencapai lebih dari 50 juta dolar AS per tahun. Atau kalau dirupiahkan, tembus sekitar Rp 850 miliar! Fantastis, kan?
Portofolio Media News Corp, dari WSJ hingga The Australian, Masuk dalam Kesepakatan
Nah, kontrak sebesar ini nggak main-main cakupannya. Meta langsung mendapatkan akses premium ke seluruh portofolio media News Corp. Bayangkan, mereka bisa mengakses The Wall Street Journal, New York Post, The Times of London, dan The Australian. Semua konten berkualitas tinggi ini siap ‘dilalap’ oleh AI Meta.
Sumber anonim yang paham betul soal negosiasi ini membocorkan detail menarik. Ternyata, Meta nggak cuma dapat izin pakai teks berita. Mereka juga boleh menampilkan ringkasan berita secara langsung di fitur-fitur mereka. Yang lebih keren, bakal ada backlink atau tautan balik ke artikel asli. Meta juga bisa mengutip langsung konten dari media News Corp. Fitur ini bakal aktif saat pengguna bertanya sesuatu ke Meta AI di WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Jadi, jawaban si AI nggak asal-asalan, tapi bisa ngerujuk ke berita kredibel!
Di sisi lain, buat News Corp, ini ibarat durian runtuh. Mereka akhirnya menuai hasil dari perjuangan panjang. CEO News Corp, Robert Thomson, selama ini dikenal sebagai ‘macan’ industri media. Dia paling vokal dan nggak kenal lelah menuntut keadilan. Ia selalu berteriak lantang agar perusahaan AI mau membayar kompensasi layak atas karya jurnalistik yang dipakai.
Ingat, sebelumnya Thomson pernah mengamuk. Ia mengkritik habis-habisan praktik scraping tanpa izin yang dilakukan pengembang AI. Ia menyebutnya sebagai ancaman eksistensial. Model bisnis jurnalisme yang sudah mapan bisa hancur karenanya. Kini, kemenangan kecil sekaligus strategis berhasil diraih News Corp.
Mengikuti Jejak OpenAI
Sebenarnya, langkah Meta ini bukan hal baru di dunia AI. Mereka justru seperti baru bangun dari tidur panjang. Meta akhirnya mengikuti jejak rival utamanya, OpenAI. Tahun lalu, OpenAI sudah lebih dulu agresif. Mereka berlari kencang mengamankan lisensi dari konglomerat media.
OpenAI tercatat sudah meneken kontrak jangka panjang dengan News Corp. Nilainya? Jauh lebih besar! Mereka sepakat membayar 250 juta dolar AS. Atau sekitar Rp 4,25 triliun untuk periode lima tahun. Gila, kan? Nggak cuma News Corp, OpenAI juga sudah menggandeng penerbit top lain. Sebut saja Axel Springer (induk Politico dan Business Insider), The Associated Press (AP), Financial Times, hingga Le Monde.
Nah, perubahan sikap Meta ini menarik untuk dicermati. Awalnya, mereka ogah-ogahan bayar lisensi berita. Ingat, mereka sempat menghapus fitur “Facebook News”? Mereka juga mengurangi munculnya tautan berita di News Feed pengguna. Kelihatan banget mereka anti sama konten berita.
Tapi, zaman berubah cepat. Demi memastikan asisten AI mereka relevan dan akurat, Meta sadar diri. Mereka nggak mau kena gugatan hak cipta bertubi-tubi. Mereka akhirnya paham, jurnalisme berkualitas itu mahal harganya. Membayar kompensasi adalah harga mati yang nggak bisa ditawar lagi.
Dengan akses ke berita-berita berkualitas, AI Meta diharapkan bisa menjawab pertanyaan pengguna dengan lebih baik. Jawabannya nggak bakal ngawur atau asal comot dari sumber nggak jelas. Ini sekaligus melindungi Meta dari risiko hukum di masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, baik Meta maupun News Corp kompak bungkam. Mereka menolak berkomentar resmi soal detail finansial kesepakatan ini. Yang jelas, peta persaingan AI kian panas. Pertarungan makin seru, dan konten jurnalistik jadi senjata paling ampuh!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










