Dentmas.id – Bayangkan sebuah mesin sebesar bus tingkat menghuni laboratorium di Veldhoven, Belanda. Mesin luar biasa ini menimbang lebih dari 150 ton, memiliki bodi aluminium presisi, serta dihiasi ribuan selang, kabel warna-warni, dan tangki bertekanan. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai mesin mobil raksasa dengan ketinggian mencapai 4,5 meter. Di sekelilingnya, para teknisi berbaju pelindung putih sibuk beraktivitas seperti para ilmuwan di film fiksi.
Nah, ini bagian yang bikin melongo: harganya 400 juta dollar AS atau setara Rp6,6 triliun per unit! Namanya mesin litografi EUV, karya perusahaan Belanda bernama ASML. Ironisnya, saat orang membicarakan kecerdasan buatan, nama ini nyaris tak pernah muncul. Yang menjadi bintang justru OpenAI, Google, Nvidia, atau model AI yang rilis tiap beberapa bulan.
Padahal, semua kehebohan AI itu berdiri di atas satu fondasi yang sama, yaitu chip. Lebih mengejutkan lagi, chip tercanggih untuk melatih model AI kini mustahil diproduksi tanpa mesin buatan ASML. Faktanya, perusahaan ini menguasai sekitar 90 persen pasar alat litografi chip dunia. Untuk jenis EUV yang dipakai membuat chip paling canggih, ASML bahkan tidak memiliki pesaing sedikit pun!
Rantai Rahasia di Balik GPU Nvidia
Kemudian, mari kita bongkar bagaimana GPU Nvidia mendukung booming AI saat ini. GPU tersebut menjadi komponen utama di data center untuk melatih dan menjalankan model AI. Namun, Nvidia hanya merancang GPU itu, sedangkan proses produksinya diserahkan kepada raksasa chip seperti TSMC. Nah, di titik inilah mesin ASML masuk dan berperan krusial.
Di pabrik TSMC, mesin litografi DUV dan EUV buatan ASML memindahkan pola sirkuit ke wafer silikon. Sebagai contoh, GPU Nvidia Blackwell diproduksi menggunakan proses khusus TSMC 4NP dan memuat 208 miliar transistor, sesuai dokumentasi Nvidia. Sederhananya, Nvidia berperan sebagai arsitek chip, TSMC menjadi pabriknya, dan ASML memasok mesin terpenting di dalam pabrik tersebut. Tanpa kemampuan litografi, GPU sehebat itu mustahil diproduksi massal.
Mirip Menyablon Kaus, Tapi Level Dewa
Selanjutnya, bagaimana sebenarnya cara kerjanya? Pola rangkaian chip awalnya dibuat di lembaran cetakan bernama retikel. Cahaya kemudian ditembakkan ke retikel itu, dan pantulannya membawa pola menuju lempengan silikon bernama wafer. Sebelumnya, permukaan wafer sudah dilapisi bahan kimia peka cahaya bernama photoresist. Begitu terkena pantulan, bagian yang terpapar berubah sifat, membentuk pola yang mengeras permanen. Prosesnya mirip menyablon kaus, hanya saja yang dipakai cahaya, bukan tinta!
Menariknya, sekecil apa pola yang bisa dicetak ditentukan oleh panjang gelombang cahayanya. Makin pendek gelombangnya, makin mungil rangkaian yang lahir. Sampai awal 1990-an, industri chip masih memakai cahaya sekitar 400 nanometer (satu nanometer setara sepermiliar meter). Pertengahan 1990-an, industri pindah ke ultraviolet, lalu mentok di 193 nanometer. Setelah itu, dunia sempat jalan buntu! Sinar-X cuma satu nanometer, tapi susah difokuskan. Berkas elektron dan ion sama presisinya, tapi kerjanya lambat banget, mirip printer jadul yang mencetak titik demi titik.
Taruhan Gila 16 Tahun dan Rp165 Triliun
Sekitar 2001, ASML yang waktu itu masih pemain kecil memilih bertaruh pada opsi terakhir: extreme ultraviolet (EUV) dengan panjang gelombang 13,5 nanometer. Nikon dan Canon sempat menggarap teknologi yang sama, namun dua raksasa Jepang itu berhenti di tengah jalan. ASML justru nekat lanjut sampai tuntas!
Masalahnya, belum ada yang tahu cara memproduksi cahaya jenis itu secara stabil, apalagi memfokuskannya. Cahaya EUV gampang diserap kaca, jadi lensa biasa tak bisa dipakai. Bahkan, udara biasa saja cukup menyerap habis cahaya ini! ASML semula memperkirakan risetnya butuh enam tahun. Kenyataannya? Butuh 16 tahun dan sekitar 10 miliar dollar AS (Rp165 triliun)!
Cara kerjanya terdengar mustahil. Mesin bekerja dalam ruang hampa udara, lalu menembakkan laser ke butiran timah cair puluhan ribu kali per detik sampai menguap. Cahaya hasilnya diarahkan pakai cermin yang digarap Zeiss dari Jerman, lengkap dengan teknik pemolesan baru. “Mereka mengabaikan anggapan yang bilang ini tidak akan pernah berhasil, dan terus berusaha keras memecahkan persoalan-persoalan teknik itu,” kata Jeff Koch, mantan karyawan ASML, sebagaimana dikutip MIT Technology Review.
Kenapa Tak Ada yang Bisa Meniru?
Selain itu, ada fakta yang sering luput: ASML bukan pembuat tunggal, melainkan perakit sekaligus pengatur. Satu mesin EUV tersusun dari ratusan ribu komponen dari jaringan pemasok di banyak negara. Dua bagian tersulit datang dari Jerman: Zeiss menangani sistem optik, sedangkan TRUMPF memasok laser bertenaga besar.
Bayangkan kehalusannya: kalau permukaan satu cermin diperbesar seluas negara Jerman, tonjolan tertingginya cuma sepersepuluh milimeter! Sistem optik lengkapnya tingginya 1,5 meter, berat 3,5 ton, dan terdiri dari lebih 35.000 komponen. Karena ketergantungan yang besar, ASML membeli 24,9 persen saham Zeiss pada 2016. “Pemindai EUV adalah alat paling maju yang pernah dibuat, dari jenis apa pun,” ujar Mark Phillips, Intel Fellow.
Diselamatkan oleh ChatGPT
Meski demikian, saat EUV pertama masuk pasar pada 2017 dengan harga di atas 100 juta dollar AS, keraguan sempat membayang. Untunglah, ChatGPT kemudian datang! OpenAI meluncurkan GPT-3 lalu ChatGPT, dan AI pun meledak jadi urusan semua orang. Perusahaan seperti Google, Meta, dan Anthropic berebut chip kelas atas seharga 40.000 dollar AS per keping—tetap kehabisan stok! Akibatnya, sepanjang 2025 ASML membukukan penjualan bersih 32,7 miliar euro dengan laba 9,6 miliar euro, ditutup dengan pesanan 38,8 miliar euro.
Generasi Baru dan China yang Dilarang
Selanjutnya, mesin generasi berikutnya bernama High-NA kini hadir. Alih-alih mencari cahaya baru, ASML memperbesar bukaan lensa. Hasilnya, ukuran transistor terpangkas hampir separuh, kepadatan komponen nyaris tiga kali lipat, dan resolusi mencapai delapan nanometer—selebar 40 atom silikon! “Jangan coba-coba duduk di atasnya, karena kalian bakal pingsan,” ujar CTO ASML Marco Pieters soal retikel yang berakselerasi hingga 22 kali gaya gravitasi.
Intel jadi pembeli pertama, sementara TSMC memilih menunggu. Sayangnya, ada satu calon pelanggan berkantong tebal yang tak boleh membelinya: China. Tekanan pemerintah AS membuat Belanda melarang penjualannya. China pun menggelontorkan miliaran dollar untuk membuat versi sendiri, termasuk mengandalkan model AI ringan seperti DeepSeek. Sementara itu, startup seperti Substrate dari San Francisco dan Lace Lithography dari Norwegia mencoba jalan memutar dengan teknologi cahaya berbeda. Namun, sejarah menunjukkan pergantian teknologi litografi butuh waktu puluhan tahun. Jadi, untuk sementara, ASML tetaplah raja tak tersentuh!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










