Dentmas.id – Siapa sangka, krisis memori global yang kini melanda industri teknologi bikin geger para gamer. Akibat kelangkaan ini, konsol handheld gaming Steam Deck ikut terkena imbasnya secara langsung. Bukan cuma itu, Valve pun tak punya pilihan selain menaikkan harga jual produk andalannya.
Krisis Memori Global Meledak
Setelah beberapa bulan lamanya menghilang dari pasaran, konsol Steam Deck versi OLED kini kembali tersedia. Namun, kabar baik itu langsung berubah jadi pukulan telak bagi kantong para penggemar. Pasalnya, di halaman resmi Valve, harga yang tertera kini berbeda jauh dari sebelumnya. Kenaikan ini pun dipastikan terjadi secara drastis!
Mari kita lihat angkanya agar lebih jelas. Varian Steam Deck OLED 512 GB yang sebelumnya cuma dijual 549 dollar AS (sekitar Rp 9 jutaan) kini meroket menjadi 789 dollar AS. Jika dikonversi, nominal itu setara dengan Rp 14 juta dengan kurs 1 dollar AS = Rp 17.800. Sementara itu, model 1 TB pun tak luput dari kenaikan. Dari harga awal 649 dollar AS (Rp 11 jutaan), kini melonjak jadi 949 dollar AS atau sekitar Rp 16,8 juta. Bisa dibayangkan, betapa beratnya beban yang harus ditanggung pembeli.
Lantas, apa penyebab utama kenaikan gila-gilaan ini? Ternyata, hal ini berkaitan erat dengan krisis memori global yang dijuluki “RAMageddon”. Dalam kondisi mencekam ini, pasokan RAM menjadi sangat langka. Akibatnya, harga berbagai perangkat teknologi ikut melonjak tanpa pandang bulu. Jadi, jangan heran jika Steam Deck OLED terkena imbasnya.
Bandingkan dengan PS5 dan Switch 2
Agar kamu punya gambaran lebih jelas, kenaikan Steam Deck OLED ini terbilang cukup ekstrem jika dibandingkan perangkat gaming lain. Sebagai contoh, harga PlayStation 5 baru-baru ini hanya naik sekitar 150 hingga 200 dollar AS dari harga peluncurannya. Begitu pula dengan Nintendo Switch 2 yang juga mengalami kenaikan, namun cuma sebesar 50 dollar AS meski belum genap setahun dipasarkan. Artinya, lonjakan harga Steam Deck OLED jauh lebih tinggi dari kompetitornya.
Namun, jangan buru-buru putus asa dulu! Bagi kamu yang ingin membeli dengan harga lebih bersahabat, Valve masih menyediakan opsi lain. Saat ini, perusahaan masih menjual model rekondisi sebagai jalan tengah. Berdasarkan informasi yang dirangkum dari Mashable, Steam Deck OLED rekondisi versi 512 GB dijual seharga 629 dollar AS (sekitar Rp 11,1 juta). Sedangkan untuk model 1 TB, dibanderol 759 dollar AS atau sekitar Rp 13,5 juta. Dengan begitu, setidaknya masih ada alternatif yang lebih ringan di kantong.
Tak hanya itu, pilihan lain juga masih tersedia bagi yang super ketat budget. Walaupun produksinya sudah dihentikan, Steam Deck LCD masih bisa kamu dapatkan dalam bentuk rekondisi. Model ini dijual mulai dari harga yang sangat murah, yaitu 279 dollar AS atau sekitar Rp 4,9 juta untuk kapasitas penyimpanan 64 GB. Hasilnya, kamu tetap bisa menikmati pengalaman handheld gaming meski dengan harga terjangkau.
Apa Istimewanya Versi OLED?
Lalu, mengapa orang-orang begitu ngotot memburu versi OLED? Jawabannya sederhana: peningkatan spesifikasi yang signifikan. Dibandingkan dengan versi LCD, Steam Deck OLED dibekali sejumlah peningkatan unggulan. Mulai dari layar OLED yang memukau hingga baterai yang lebih tahan lama. Singkatnya, semua peningkatan ini membuat pengalaman bermain jadi jauh lebih memuaskan.
Mari kita bedah lebih detail soal layarnya. Layar OLED menawarkan berbagai keunggulan yang tak bisa ditandingi LCD. Misalnya, tampilan warna hitam yang lebih pekat dan kontras warna yang jauh lebih baik. Mengapa demikian? Sebab, setiap piksel pada layar OLED merupakan dioda organik yang memancarkan cahaya sendiri. Berbeda dengan layar LCD yang tidak bisa menghasilkan cahaya sendiri, OLED menghadirkan visual yang lebih hidup.
Bukan hanya itu, Valve pun tak berhenti di situ. Perusahaan juga meningkatkan ukuran layar Steam Deck dari 7 inci menjadi 7,4 inci. Selain ukuran, refresh rate panel juga turut ditingkatkan dari 60 Hz menjadi 90 Hz. Kemudian, tingkat kecerahan (brightness) dinaikkan drastis dari 400 nits menjadi 1.000 nits. Ditambah lagi, panelnya mendukung HDR, cakupan gamut warna 110 persen DCI-P3, serta touch polling rate 180 Hz. Alhasil, layar menjadi jauh lebih responsif ketika disentuh. Hanya saja, di luar sederet peningkatan ini, resolusi layarnya masih mentok di 1.280 x 800 piksel. Namun, untuk ukuran handheld, kualitas itu sudah lebih dari cukup.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










