Dentmas.id – Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) rupanya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kali ini, langkah yang bisa dibilang nekat dan ekstrem baru saja diambil oleh Block, sebuah perusahaan fintech rintisan yang didirikan oleh mantan CEO Twitter, Jack Dorsey. Siap-siap, kabar ini benar-benar bikin bulu kuduk merinding!
Perusahaan yang menjadi induk dari layanan pembayaran populer Square dan Cash App itu baru saja mengumumkan kabar mengejutkan. Mereka dilaporkan telah memangkas sekitar 40 persen dari total karyawannya dalam sekejap. Angkanya? Fantastis! Sekitar 4.000 orang harus rela kehilangan pekerjaan mereka.
Lalu, apa alasan di balik keputusan sadis ini? Ternyata, perusahaan secara terbuka mengaku ingin fokus total pada pemanfaatan tools dan agen AI. Mereka benar-benar serius mengganti manusia dengan mesin!
Pemangkasan Paling Brutal di Awal 2026

Para analis mencatat, pemangkasan 40 persen tenaga kerja ini tercatat sebagai salah satu efisiensi berbasis AI paling agresif dan mengerikan di awal tahun 2026 ini. Dalam sebuah surat terbuka kepada para pemegang saham pada Kamis lalu, Jack Dorsey dengan terus terang mengungkapkan fakta pahit ini. Sebanyak 4.000 karyawan terkena imbas langsung dari kebijakan efisiensi ini.
Dari yang sebelumnya perusahaan membanggakan diri menampung lebih dari 10.000 pekerja, kini jumlahnya menyusut drastis. Hanya tersisa di bawah 6.000 karyawan saja yang masih bertahan. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya situasi di kantor mereka beberapa minggu terakhir.
Mindset Berubah Total: AI Bukan Lagi Sekadar Asisten
Yang bikin merinding, ada pergeseran cara pandang yang sangat kentara di internal Block. Perusahaan kini tidak lagi melihat AI sekadar sebagai asisten yang membantu karyawan. Perspektifnya sudah berubah 180 derajat! Mereka sekarang menganggap AI sebagai pengganti fungsional yang sah untuk mengotomatisasi berbagai jenis pekerjaan.
Manajemen Block tampaknya sudah melakukan riset matang dan cukup yakin bahwa agen AI generasi terbaru serta alat pemrograman otomatis sudah sangat bisa diandalkan. Pihak manajemen percaya teknologi ini sanggup mengambil alih tugas-tugas krusial yang selama ini dikerjakan manusia. Tentu saja, dengan ongkos operasional yang jauh lebih irit dan waktu pengerjaan yang jauh lebih singkat ketimbang mempekerjakan manusia. Hitung-hitungan bisnis memang kejam, ya?
Ambisi Gila Jack Dorsey
Perombakan total susunan pekerja ini tidak lepas dari ambisi pribadi sang CEO, Jack Dorsey. Ia kabarnya berniat mengubah total haluan bisnis Block. Pria yang juga pendiri Twitter ini ingin menjadikan perusahaannya sebagai entitas yang sepenuhnya digerakkan oleh infrastruktur AI. Konsep AI-first infrastructure ini akan mengubah wajah perusahaan secara fundamental.
Ke depannya, teknologi AI otonom bakal ditanamkan ke seluruh lini produk andalan Block, seperti dikutip dari Arstechnica. Mesin-mesin pintar ini diproyeksikan akan mengambil alih porsi kerja mayoritas di berbagai divisi. Mulai dari divisi layanan pelanggan yang biasanya ramai dengan keluhan, divisi software engineering yang penuh dengan tekanan, hingga analisis pemodelan keuangan yang rumit. Semuanya akan diserahkan pada kecerdasan buatan.
Tamparan Keras untuk Silicon Valley
Manuver Block ini sekaligus menjadi tamparan keras dan realitas pahit bagi para pekerja kerah putih di Silicon Valley. Dulu, kita sering mendengar narasi optimis yang menyebut bahwa AI “hanya akan menciptakan lapangan kerja baru”. Narasi manis itu kini mulai terpatahkan oleh fakta brutal di lapangan.
Faktanya, mesin sekarang mulai secara harfiah menggusur posisi pekerja kerah putih. Mereka yang duduk di balik meja kaca, dengan laptop dan kopi mahal, kini mulai merasakan ancaman yang nyata. Ini bukan lagi soal robot menggantikan buruh pabrik, tapi mesin pintar mengambil alih pekerjaan para profesional.
Akankah Jadi Tren Baru?
Meski keputusan ini pasti akan banjir kritik pedas terkait nasib ribuan karyawan yang terdampar, langkah radikal Block ini kemungkinan besar akan diawasi dengan sangat ketat. Semua mata, terutama para perusahaan kompetitor dan para investor di Wall Street, akan mengamati hasilnya. Terutama bagi mereka yang selama ini terus mendesak margin keuntungan yang lebih besar di tengah tren AI yang sedang panas-panasnya.
Pertanyaannya sekarang, apakah perusahaan lain akan berani meniru langkah berani Jack Dorsey ini? Atau justru sebaliknya, mereka akan kapok melihat dampak sosial yang ditimbulkan? Yang jelas, dunia kerja sedang berubah dengan sangat cepat. Dan perubahan ini kadang datang dengan harga yang sangat mahal. Siap atau tidak, era baru telah tiba.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










