Jakarta, Dentmas.id – Siap-siap terkejut! Sektor e-commerce dengan mantap masih menjadi tulang punggung utama ekonomi digital Indonesia di tahun 2025. Bahkan, laporan e-Conomy SEA 2025 yang sangat dinantikan itu membeberkan fakta mencengangkan: nilai Gross Merchandise Value (GMV) sektor ini diproyeksikan melesat hingga 71 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.187 triliun! Angka fantastis ini menunjukkan pertumbuhan solid sebesar 14 persen jika kita bandingkan dengan capaian tahun 2024 yang sebesar 65 miliar dollar AS.
Lantas, apa kunci di balik pertumbuhan spektakuler ini? Country Director Google Indonesia, Veronica Utami (Vero), dengan tegas menyoroti satu faktor kunci. “Sektor e-commerce tanpa diragukan lagi tetap menjadi kontributor terbesar bagi GMV di Indonesia. Salah satu faktornya, pertumbuhan pesatnya justru didorong oleh maraknya video commerce,” ungkap Vero dengan penuh semangat saat memaparkan laporan tersebut di kantor Google Indonesia, Jakarta, pada Kamis (13/11/2025).
Video Commerce: Si Mesin Turbo di Balik Layar
Nah, mungkin kamu masih bertanya-tanya, apa sih sebenarnya video commerce itu? Pada intinya, video commerce merupakan konten video yang sengaja dirancang khusus untuk mempromosikan dan tentu saja menjual produk secara online. Kamu pasti sudah sangat familiar dengan fenomena live streaming yang kini membanjiri berbagai platform e-commerce, bukan? Itulah salah satu bentuk nyatanya!
Yang lebih menakjubkan lagi, Veronica menggambarkan video commerce di Indonesia bagaikan “mesin turbo” yang sedang mendorong laju seluruh sektor e-commerce. Bayangkan, volume transaksi video commerce sendiri melonjak tajam hingga 90 persen secara tahunan (year-on-year). Bahkan, pada tahun 2025 ini, nilai transaksinya diprediksi mencapai angka yang sulit dipercaya: 2,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 43,4 triliun!
Lalu, apa yang memicu lonjakan transaksi sebanyak ini? “Peningkatan volume transaksi yang luar biasa di Indonesia ini secara kuat didukung oleh perkembangan ekosistem penjual dan toko yang begitu pesat, yakni mencapai 75 persen dari tahun ke tahun. Selain itu, total jumlah penjual dan toko di seluruh Indonesia juga diperkirakan telah menyentuh angka 800.000,” tutur Vero menjelaskan dengan rinci.
Vero kemudian melanjutkan penjelasannya, secara keseluruhan, pertumbuhan video commerce di Tanah Air saat ini justru didominasi oleh kategori produk tertentu, di mana para konsumen sangat mengandalkan visualisasi dan demonstrasi produk secara langsung sebelum memutuskan untuk membeli.
Sebagai bukti betapa dahsyatnya pengaruh video, coba tebak? Laporan tersebut mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan: dalam satu tahun terakhir, waktu yang dihabiskan konsumen Indonesia untuk menonton video terkait belanja ternyata meledak lebih dari 400 persen! “Ini jelas menandakan bahwa audience kita tidak hanya sekadar menonton pasif; mereka adalah calon konsumen yang memiliki intensitas dan niat beli yang sangat tinggi. Biasanya, mereka sedang berada dalam fase research atau fase pengambilan keputusan untuk berbelanja,” jelas Vero dengan gamblang.
Tak Hanya E-commerce, Sektor Digital Lain Ikut Meroket
Namun, cerita sukses ini tidak berhenti hanya di e-commerce saja. Ternyata, laporan e-Conomy SEA 2025 juga mengungkap bahwa ada lima sektor digital lain yang turut menyumbangkan ledakan nilai ekonomi digital di Indonesia.
Pertama, mari kita bahas sektor transportasi dan layanan pesan antar makanan (online travel termasuk di dalamnya). Kelima sektor ini tercatat menunjukkan ketahanan yang mengesankan dengan pertumbuhan sekitar 13 persen dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 ini, total nilai gabungannya berhasil mencapai 10 miliar dollar AS. “Pertumbuhan 13 persen ini, yang akhirnya membawa mereka ke angka 10 miliar dollar AS, secara jelas menunjukkan bahwa ada ketahanan dan stabilitas yang sangat luar biasa dalam perilaku konsumen Indonesia itu sendiri,” papar Vero dengan keyakinan.
Kemudian, perhatikanlah sektor media online yang mencakup gaming, periklanan, dan musik (termasuk juga layanan video on demand). Sektor ini tidak mau kalah, mereka menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 16 persen, sehingga total nilainya menyentuh 9 miliar dollar AS.
Ledakan Fintech dan Masa Depan Ekonomi Digital
Yang terakhir dan paling bombastis adalah sektor layanan keuangan digital (Digital Financial Services – DFS). Sektor ini mencatatkan pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) yang benar-benar fantastis, mencapai 538 miliar dollar AS atau sekitar Rp 8.999 triliun! Angka ini mewakili pertumbuhan gila-gilaan sebesar 27 persen dari tahun ke tahun.
Menurut analisis Google, pertumbuhan masif di sektor keuangan digital ini sebagian besar justru didorong oleh faktor pembayaran digital QRIS yang telah menjadi standar nasional. “Skala sebesar ini, kami yakini sebagian besarnya didorong oleh kesuksesan sistem pembayaran QRIS dalam menyatukan pasar yang tadinya terfragmentasi dan sekaligus mendorong adopsi digital yang lebih luas lagi,” kata Vero. “Angkanya sangat masif dan ini dengan mantap menjadikan Indonesia sebagai pasar pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara,” pungkasnya dengan bangga.
Sebagai faktor pendukung terakhir, jangan lupakan peran digital lending atau pinjaman digital. Dari tahun 2024 hingga 2025 ini, saldo buku pinjamannya diproyeksikan akan tumbuh dengan sangat sehat, yaitu sebesar 29 persen, menandakan kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap layanan keuangan berbasis digital.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com










