Dentmas.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, secara mengejutkan memprediksi bahwa China pada akhirnya akan melampaui Amerika Serikat dalam kompetisi global di sektor kecerdasan buatan (AI). Lebih lanjut, pendiri perusahaan semikonduktor paling berharga di dunia ini dengan berani menilai bahwa laju China justru jauh lebih kencang. Alasannya cukup mencengangkan, biaya energi yang lebih murah, sokongan kuat dari pemerintah, serta aturan yang tidak seketat negara-negara Barat menjadi motor penggerak utama mereka.

China Akan Menang, Budaya Barat Dituding Hambat Inovasi
Bahkan, Huang dengan tegas menyatakan, “China akan memenangi persaingan AI,” seperti yang dia sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Financial Times. Tak hanya itu, sang bos visioner ini juga menyoroti budaya “sinis dan sarkastis” di negara-negara Barat yang justru dia anggap menjadi penghambat inovasi. Oleh karena itu, dia menyerukan, “Kita memerlukan lebih banyak sikap optimistis,” untuk bisa bersaing.
Larangan Chip AS vs Subsidi Gila-gilaan China
Perlu diingat, komentar kontroversial ini dia sampaikan di tengah memanasnya hubungan antara Washington dan Beijing. Faktanya, kebijakan pembatasan ekspor chip AI kelas atas dari AS terus diperketat. Akibatnya, pemerintahan Presiden Donald Trump dengan tegas melarang Nvidia menjual chip generasi terbaru, termasuk lini Blackwell, ke pasar China. Padahal, chip canggih ini secara khusus dirancang untuk kebutuhan pelatihan model AI skala besar.
Di sisi lain, Huang dengan jeli menyoroti kontrasnya kebijakan yang diambil oleh kedua negara adidaya ini. Menurutnya, pemerintah China justru sedang gencar melonggarkan aturan dan meningkatkan subsidi energi untuk pusat data. Program strategis ini secara khusus dijalankan untuk mendukung raksasa teknologi seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent.
Berdasarkan laporan Financial Times, beberapa pemerintah daerah di China bahkan memberikan potongan harga listrik yang sangat agresif. Tujuannya jelas, untuk mendorong adopsi chip lokal buatan Huawei dan Cambricon. Meskipun chip dalam negeri mereka dikenal kurang efisien secara energi dibandingkan produk Nvidia, namun pemerintah memilih memberikan insentif besar-besaran berupa diskon listrik. Hingga akhirnya, Huang menyimpulkan, “Di China, tenaga listrik hampir gratis,” yang menjadi keunggulan kompetitif yang sangat signifikan.
Birokrasi AS Dikritik, 50 Regulasi Dinilai Tidak Efisien
Sebaliknya, di AS, Huang justru menilai bahwa munculnya berbagai regulasi baru di tingkat negara bagian memperlambat inovasi. Dia memberikan contoh konkret, “Kami (AS) bisa punya 50 peraturan AI yang berbeda. Itu tidak efisien,” ujar pemimpin perusahaan bernilai triliunan dolar itu. Dengan kata lain, kerumitan birokrasi dinilai membelenggu laju perkembangan teknologi.
Sementara itu, dari kubu Amerika, Presiden Donald Trump kembali menegaskan kebijakannya yang keras. Dia bersikukuh bahwa chip AI paling mutakhir dari Nvidia tidak boleh dijual ke China. “Chip paling canggih hanya untuk Amerika Serikat. China boleh bekerja sama dengan Nvidia, tapi bukan untuk chip paling mutakhir,” tegas Trump dalam wawancaranya dengan CBS.
Sebelumnya, Trump sempat membuka celah dengan mengizinkan versi “modifikasi” dari chip Blackwell yang dijual ke China, tetapi dengan performa yang sengaja dibatasi. Bahkan, dia sempat menyebut bahwa Nvidia dan AMD telah sepakat untuk membayar 15 persen dari pendapatan penjualan chip AI di China kepada pemerintah AS sebagai kompensasi. Sayangnya, hingga saat ini regulasi resminya masih belum juga diberlakukan.
Kekhawatiran AS Memuncak Usai Kejutan DeepSeek R1
Langkah-langkah proteksionis ini semakin mempertegas kekhawatiran mendalam AS atas kemajuan Tiongkok di bidang AI. Kekhawatiran ini memuncak sepanjang tahun setelah DeepSeek, sebuah startup AI kecil asal China, berhasil mengejutkan dunia dengan meluncurkan model AI “R1” yang canggih, lebih murah, dan lebih efisien.
Peluncuran fenomenal model DeepSeek pada bulan Januari lalu langsung memicu perdebatan sengit di Silicon Valley. Para pemain besar seperti OpenAI dan Anthropic, yang selama ini diunggulkan, mulai dipertanyakan kemampuannya untuk mempertahankan keunggulan di tengah gempuran inovasi dari China.
Jarak Hanya Nanodetik, Nvidia Desak AS Ubah Strategi
Meski demikian, Huang menegaskan bahwa jarak kemampuan teknologi AI antara China dan AS sebenarnya masih ada. Hanya saja, jarak itu sangatlah tipis. Dengan analogi yang mudah dicerna, Huang menggambarkan, “China hanya terpaut nanodetik dari Amerika dalam AI.”
Oleh karena itu, dia memberikan pesan penting agar AS tetap unggul. Menurutnya, Amerika harus berlari lebih kencang dan memenangkan hati para pengembang AI di seluruh dunia, termasuk dari China. Bukannya justru menutup akses chip AI ke China yang pada akhirnya justru akan merugikan AS sendiri.
Pesan serupa kembali ditekankan oleh Huang dalam konferensi pengembang Nvidia di Washington bulan lalu. Dia menekankan betapa pentingnya menjaga keseimbangan dalam kebijakan perdagangan. Dengan semangat kolaborasi, Huang menyatakan, “Kami ingin Amerika memenangkan perlombaan AI, tapi kami juga perlu ada di China untuk mendapatkan ekosistem pengembang mereka. Jelas sekali, kebijakan yang menutup akses ke setengah pengembang dunia justru akan sangat merugikan kepentingan AS sendiri,” demikian penuturan Jensen Huang yang berhasil menghimpun perhatian global.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










