Dentmas.id – Sebuah insiden peretasan dahsyat baru saja mengguncang China. Seorang hacker dengan percaya diri mengklaim telah membobol superkomputer milik pemerintah China. Jika klaim ini terbukti benar, maka para ahli menyebutnya sebagai pencurian data terbesar sepanjang sejarah fasilitas negara China. Pasalnya, data yang dicuri tidak main-main. Dokumen pertahanan berstatus sangat rahasia, skema rudal canggih, hingga rancangan simulasi militer ikut melayang begitu saja. Sungguh memalukan bagi sistem keamanan siber Negeri Tirai Bambu.

Targetnya Bukan Sembarangan: Superkomputer Tianjin Jadi Sasaran Empuk
Fasilitas yang berhasil ditembus adalah National Supercomputing Center (NSCC) di Tianjin. Pusat superkomputer megah ini pertama kali dibuka pada 2009. Namun jangan salah, NSCC Tianjin bukanlah fasilitas biasa. Justru sebaliknya, tempat ini menjelma menjadi pusat kendali terpusat yang setiap harinya melayani lebih dari 6.000 klien dari seluruh penjuru China. Mulai dari lembaga sains bergengsi hingga institusi pertahanan tingkat tinggi, semuanya bergantung pada fasilitas ini.
10 Petabyte Data Ludes Digondol, Setara dengan 10.000 Laptop
Dari fasilitas vital inilah, si peretas berhasil menyedot sekitar 10 petabyte informasi sensitif. Agar lebih kebayang besarnya, mari kita hitung bersama. Satu petabyte setara dengan 1.000 terabyte. Sementara laptop spek dewa saat ini rata-rata hanya dibekali penyimpanan 1 terabyte. Artinya, data curian si hacker ini setara dengan storage 10.000 unit laptop. Bayangkan jika laptop-laptop itu ditumpuk, bisa setinggi gedung pencakar langit!
FlamingChina: Kelompok Hacker Anonim di Balik Pembobolan
Aktor di balik peretasan ini ternyata adalah kelompok hacker anonim yang menamakan dirinya FlamingChina. Sejak 6 Februari lalu, mereka sudah mulai menjual sebagian kecil sampel data melalui Telegram. Bahkan lebih mengejutkan lagi, kelompok ini dengan pede mengklaim bahwa data tersebut berasal dari klien top NSCC. Siapa saja? Ada Aviation Industry Corporation of China, Commercial Aircraft Corporation of China, hingga Universitas Teknologi Pertahanan Nasional. Pantas saja data yang bocor tergolong super sensitif.
Untuk mendapatkan akses penuh ke seluruh direktori rahasia tersebut, FlamingChina memasang harga tebusan selangit. Berapa tebusannya? Ratusan ribu dolar AS. Dan yang lebih rumit lagi, transaksi wajib menggunakan mata uang kripto. Jadi jangan harap bisa transfer pakai bank biasa. Mereka benar-benar pintar menyusun skenario agar tidak terlacak.
Konfirmasi dari Ahli: Sampel Data Tampak Asli
Dakota Cary, konsultan di firma keamanan siber SentinelOne yang fokus pada kawasan China, sudah menganalisis sampel yang disebar peretas. Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Ia mengonfirmasi bahwa sampel tersebut tampak asli. Di dalamnya, terdapat dokumen berlabel “rahasia” dalam bahasa Mandarin, file teknis yang rumit, hingga simulasi peralatan pertahanan seperti bom dan rudal. Jadi jangan heran jika pemerintah China saat ini sedang pusing tujuh keliling.
Lalu, bagaimana mungkin sistem keamanan superkomputer negara bisa ditembus tanpa ketahuan? Marc Hofer, peneliti keamanan siber yang sempat berkomunikasi langsung dengan pelaku di Telegram, mengungkapkan rahasianya. Ternyata, peretas awalnya berhasil masuk melalui domain VPN yang sudah disusupi. Cukup sederhana, tapi mematikan.
Setelah berhasil berada di dalam sistem, penyerang tidak langsung menguras data secara brutal. Sebaliknya, mereka memilih bermain aman. Mereka menggunakan botnet untuk perlahan-lahan mengekstrak, mengunduh, dan menyimpan data secara diam-diam. Proses pembobolan 10 petabyte data ini memakan waktu super panjang, yakni sekitar enam bulan. Bayangkan, selama setengah tahun mereka bebas berkeliaran tanpa pernah terdeteksi oleh sistem keamanan NSCC. Sungguh kecerobohan yang tidak termaafkan.
Menurut Dakota Cary, taktik ini sebenarnya tidak terlalu canggih secara teknis. Namun jangan salah sangka! Taktik ini dinilai sangat pintar secara arsitektur. Caranya? Dengan memecah ekstraksi data ke banyak server yang berbeda secara bersamaan dalam jumlah kecil. Dengan begitu, pelaku sukses menghindari peringatan sistem keamanan. Sistem keamanan pun dibuat tertidur pulas selama berbulan-bulan.
Bukan Kasus Pertama: Borok Keamanan Siber China Kembali Terbuka
Kebocoran fatal di NSCC Tianjin ini kembali membuka borok lama. Memang, insiden ini kembali mengingatkan kita pada lemahnya infrastruktur keamanan teknologi di China. Meskipun negara ini tengah bersaing ketat dengan Amerika Serikat untuk menjadi pemimpin inovasi AI global, nyatanya keamanan siber kerap menjadi titik lemah yang sama. Baik di sektor swasta maupun pemerintahan, masalah ini terus berulang. Ironis sekali!
Data 1 Miliar Warga China Juga Pernah Terekspos Bebas
Statistik kebocoran data di China memang cukup memprihatinkan dan bikin geleng-geleng kepala. Coba simak fakta mengejutkan ini. Pada tahun 2021 lalu, terdapat database berisi informasi pribadi milik 1 miliar warga negara China yang dibiarkan terekspos selama lebih dari setahun. Satu miliar, lho! Jumlah yang hampir tidak terbayangkan besarnya. Bayangkan jika data KTP, alamat, hingga nomor telepon Anda melayang bebas di internet.
Data warga tersebut akhirnya baru disadari bocor setelah seorang pengguna anonim menjualnya di forum hacker pada tahun 2022. Jadi, butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya pihak berwenang tersadar. Sungguh kecerobohan yang tidak termaafkan. Seharusnya sistem keamanan sudah dirancang sekuat mungkin, apalagi untuk fasilitas sekelas superkomputer nasional.
Pemerintah China Masih Bungkam, Belum Ada Komentar Resmi
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Sains dan Teknologi China maupun Cyberspace Administration of China (CAC) belum memberikan komentar resmi. Mereka masih bungkam seribu bahasa terkait insiden bobolnya NSCC Tianjin. Mungkin mereka sedang sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Atau bisa juga mereka sedang kalang kabut menambal lubang keamanan yang selama ini dibiarkan terbuka. Apapun alasannya, publik tetap berhak mendapatkan penjelasan yang gamblang.
Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Tidak ada sistem yang benar-benar aman. Bahkan superkomputer canggih sekalipun bisa ditembus jika kecerobohan dibiarkan terjadi. Para peretas pun semakin berani dan kreatif dalam melancarkan aksinya. Jadi, sudahkah data Anda aman hari ini?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










