Dentmas.id – Siapa sangka, di tengah cuan melimpah ruah, Uber justru mengambil langkah kontroversial dengan memangkas sekitar 3.300 karyawan. Angka fantastis ini setara dengan 10 persen dari total tenaga kerja global perusahaan transportasi online raksasa asal Amerika Serikat tersebut. Keputusan mengejutkan ini sontak membuat banyak pihak bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik layar raksasa ride-sharing itu?
Kabar pemotongan karyawan ini disampaikan langsung oleh sang nahkoda, CEO Uber, Dara Khosrowshahi, melalui sebuah surel internal yang kemudian diumumkan secara terbuka. Surat elektronik yang berisi kabar pahit tersebut tidak hanya dikirimkan ke seluruh penjuru karyawan, tetapi juga diunggah secara resmi di laman newsroom Uber pada Rabu (2/9/2026). Langkah transparan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak ingin ada spekulasi liar beredar di kalangan pegawai maupun publik.
Rezeki Melimpah, Tapi Malah PHK? Ini Alasan di Baliknya
Lantas, apa alasan utama di balik perampingan ini? Perusahaan yang selama ini identik dengan layanan pemesanan kendaraan online itu menyatakan bahwa langkah drastis ini bertujuan untuk merapikan struktur manajemen yang dinilai mulai gemuk. Selain itu, Uber juga berencana mengalihkan fokus investasi ke lini bisnis masa depan yang lebih menjanjikan, seperti transportasi umum, layanan pengantaran barang, hingga taksi otonom atau robotaxi yang sedang naik daun.
Bagi karyawan yang posisinya terdampak, perusahaan mengklaim telah memberikan pemberitahuan lebih awal. Namun, pengecualian berlaku untuk negara-negara dengan regulasi ketenagakerjaan yang rumit dan mengharuskan proses hukum tersendiri. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi pekerja di wilayah dengan perlindungan buruh yang kuat, tetapi tetap saja, kabar PHK ini terasa bagai petir di siang bolong.
Yang membuat keputusan ini semakin mengherankan adalah fakta bahwa Uber tidak sedang dalam kondisi keuangan yang terpuruk. Justru sebaliknya! Dalam surelnya, Khosrowshahi dengan gamblang memaparkan bahwa kinerja bisnis Uber sedang berada di puncak kejayaan. Ia bahkan membeberkan data mencengangkan bahwa pendapatan perusahaan telah melonjak hampir tiga kali lipat selama lima tahun terakhir. Jadi, jelas bukan masalah uang yang memicu pengurangan karyawan besar-besaran ini.
Menurut Khosrowshahi, pertumbuhan yang eksplosif ini justru membawa serta tantangan baru yang tak terduga. Perusahaan kini menghadapi masalah klasik perusahaan besar: birokrasi yang berbelit-belit. “Kami memiliki lebih banyak lapisan manajemen, koordinasi yang rumit, dan kepemilikan tugas yang kian terpecah-pecah,” tulisnya dalam memo yang dikutip dari TechCrunch tersebut. Kondisi ini dinilai menghambat agilitas perusahaan dalam merespons dinamika pasar yang bergerak cepat.
Sederhanakan Struktur, Efisiensi Jadi Target Utama
Salah satu sasaran utama perombakan ini adalah struktur organisasi yang dianggap sudah terlalu tinggi menjulang. Uber dengan tegas memangkas 20 persen karyawan yang posisinya berada tujuh tingkat atau lebih di bawah kursi CEO. Bayangkan, para manajer di level tersebut nantinya tidak lagi sibuk mengatur tim, melainkan kembali turun tangan mengerjakan tugas-tugas teknis sehari-hari layaknya staf biasa. Kebijakan ini jelas mengubah paradigma kepemimpinan di tubuh Uber.
Tak hanya itu, perusahaan juga membubarkan hampir 50 persen tim yang hanya beranggotakan satu atau dua orang. Berdasarkan memo internal, struktur mini semacam ini terbukti membuat proses pengambilan keputusan menjadi sangat lambat dan berbelit-belit. Dengan menghilangkan tim-tim kecil tersebut, Uber berharap alur kerja menjadi lebih ramping dan efisien.
Langkah strategis lainnya adalah menggabungkan sejumlah tim yang memiliki tugas tumpang tindih. Tiga tim operasi pengantaran yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri kini disatukan menjadi satu kesatuan yang solid di level global, regional, dan tiap negara. Ketiganya adalah tim restoran, ritel, dan Direct (layanan pengantaran langsung Uber). Penggabungan ini diyakini akan meningkatkan sinergi dan mengurangi duplikasi pekerjaan yang tidak perlu.
Sektor teknologi pun tidak luput dari sentuhan perampingan. Tim Core Services Engineering resmi digabung dengan tim Science. Pola integrasi serupa sebelumnya sudah lebih dulu diterapkan di divisi Mobility dan Delivery. Ini menunjukkan bahwa Uber serius menyederhanakan struktur teknisnya agar lebih responsif terhadap perkembangan teknologi.
Uber juga melakukan penataan ulang strategi lokasi kerja karyawan secara besar-besaran. Tim global akan dipusatkan di dua kota besar, New York dan San Francisco, yang disebut sebagai hub terbesar perusahaan. Sementara itu, tim regional ditempatkan di hub regional masing-masing, dan tim di tiap negara akan berkumpul di hub lokal. Penataan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar tim.
Kebijakan kerja jarak jauh atau remote working juga terkena imbasnya. Uber meminta mayoritas karyawan yang sebelumnya bekerja dari rumah untuk kembali berkantor. Ke depannya, perusahaan hanya akan mengizinkan sekitar 1 persen karyawannya untuk bekerja dari jarak jauh. Ini jelas sebuah perubahan besar dari tren kerja fleksibel yang sempat populer selama pandemi.
Kebijakan kerja hybrid Uber pun akan lebih ditegakkan. Perusahaan mewajibkan karyawan hadir ke kantor minimal tiga hari dalam seminggu. Langkah ini diambil untuk membangun kembali budaya kerja kolaboratif yang sempat terkikis akibat terlalu lama bekerja dari rumah.
Bukan PHK Pertama di 2026, Begini Runtutan Kejutannya
Menariknya, PHK awal September ini bukanlah yang pertama kali dialami Uber sepanjang tahun 2026. Awal Juni lalu, perusahaan lebih dulu memangkas 23 persen staf di divisi People and Places yang mengurus sumber daya manusia dan budaya kerja. Jumlah karyawan yang terdampak saat itu masih tergolong kecil, yaitu kurang dari 1 persen dari total tenaga kerja global yang berjumlah sekitar 34.000 orang.
Dua bulan berselang, tepatnya akhir Juli 2026, giliran tim layanan pelanggan yang merasakan pahitnya PHK. Sekitar 10 persen staf di tim tersebut diberhentikan. Wakil Presiden Operasi Komunitas Global Uber, Megha Yethatika, saat itu beralasan bahwa struktur tim sudah terlalu kompleks dan proses kerja kian terpecah-pecah. Kondisi ini, katanya, membuat tim sulit mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk bekerja lebih efisien.
Dibandingkan dua gelombang sebelumnya, PHK 3.300 karyawan kali ini terasa jauh lebih besar dan masif. Cakupannya pun lebih luas, menyasar hampir seluruh lini bisnis Uber, tidak terbatas pada divisi tertentu saja. Ini menandakan adanya restrukturisasi besar-besaran yang menyeluruh di tubuh perusahaan.
Meski menjadi PHK terbesar Uber sepanjang tahun ini, angka 3.300 karyawan tersebut masih lebih kecil dibandingkan gelombang PHK pada era pandemi Covid-19. Kala itu, pada awal Mei 2020, Uber memangkas 3.700 karyawan yang setara dengan 14 persen dari total 26.900 karyawan yang dimiliki saat itu.
Dua pekan setelah PHK pertama di 2020, Uber kembali melakukan pemotongan dengan memberhentikan 3.000 karyawan tambahan sekaligus menutup 45 kantor di seluruh dunia. Total dari dua gelombang PHK di masa pandemi itu mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu 6.700 karyawan. Akibatnya, jumlah karyawan Uber pun menyusut drastis menjadi sekitar 20.000 orang.
Khosrowshahi, yang sudah menjabat sebagai CEO Uber sejak 2017, bahkan sempat merelakan gaji pokoknya selama pandemi berlangsung sebagai bentuk solidaritas. PHK massal Uber saat itu terjadi bersamaan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran di industri teknologi Amerika Serikat akibat pandemi, sebagaimana dihimpun dari Bloomberg.
Bagi masyarakat Indonesia, kabar PHK ini mungkin terasa jauh dari keseharian. Pasalnya, Uber sudah tidak lagi melayani konsumen langsung di Tanah Air sejak menjual seluruh bisnis Asia Tenggaranya ke Grab pada Maret 2018. Karena itu, perombakan organisasi Uber kali ini tidak berdampak langsung terhadap penumpang maupun mitra pengemudi di Indonesia. Namun, fenomena ini tetap menjadi pelajaran berharga tentang dinamika bisnis teknologi global yang terus berubah dan beradaptasi dengan tantangan zaman.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










