Dentmas.id – Bayangkan jika seluruh kampus di Indonesia tiba-tiba kehilangan data riset penting atau sistem penerimaan mahasiswa baru lumpuh total. Bukan mimpi buruk, ini adalah ancaman nyata di era disrupsi teknologi jika kita abai terhadap penguatan fondasi digital. Menyadari kegentingan situasi tersebut, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) pun tak tinggal diam. Perusahaan raksasa telekomunikasi ini justru melangkah maju dengan mengambil peran strategis dalam agenda bergengsi Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 yang berlangsung megah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Forum ini bukan sekadar pertemuan tahunan biasa, melainkan ajang pemersatu para pimpinan perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri untuk duduk bersama membahas satu misi besar, yakni menguatkan pangkalan data pendidikan nasional agar lebih kokoh dan tahan banting.
Menggagas Transformasi dari Akar Rumput Digital
Acara yang digagas oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bekerja sama dengan jaringan IDREN ini mengusung agenda pembahasan yang sangat krusial. Bukan hanya sekadar mendiskusikan soal infrastruktur internet semata, forum ini menyelami isu-isu fundamental seperti tata kelola teknologi yang sehat, konektivitas riset yang mulus tanpa hambatan, hingga ketahanan siber yang selama ini menjadi “tumit Achilles” bagi banyak institusi pendidikan. Tak ketinggalan, pemanfaatan kecerdasan buatan secara aman dan bertanggung jawab juga menjadi topik hangat yang menyita perhatian para peserta. Transformasi digital di perguruan tinggi bukan lagi sebuah pilihan gaya hidup modern, melainkan sebuah kebutuhan mendesak layaknya oksigen yang harus segera dihirup untuk menyongsong era disrupsi yang penuh tantangan.
Kolaborasi Pentahelix, Bukan Kompetisi!
Saat menyampaikan pidato kuncinya, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, dengan tegas menyoroti betapa pentingnya sinergi antarelemen dalam ekosistem pendidikan. Menurutnya, membangun kesiapan fasilitas kampus untuk menyambut teknologi komputasi kuantum tidak bisa dilakukan secara parsial. Kolaborasi yang menyeluruh adalah satu-satunya jalan keluar paling logis untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur yang selama ini membentang lebar antarkampus. “Teknologinya sebenarnya sudah tersedia di depan mata kita,” ujar Seno dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/9/2026), dengan penuh optimisme.
“Namun, kesenjangan digital itu hanya bisa kita atasi secara bersama-sama karena cara ini jauh lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman jika dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri. Tidak ada satu institusi pun di dunia ini yang mampu membangun ekosistem digital yang canggih sendirian, dan di sinilah kolaborasi pentahelix menjadi kunci utama keberhasilan kita semua.”
Saat ini, tingkat kesiapan digital sebuah perguruan tinggi telah menjadi penentu utama dalam berbagai aspek, mulai dari nilai akreditasi institusi, daya serap lulusan di pasar kerja, hingga reputasi riset di kancah internasional. Namun, kondisi di lapangan masih memprihatinkan karena masih banyak kampus yang rentan dan rapuh akibat ketergantungan pada koneksi internet tunggal tanpa memiliki sistem pelaporan terstandar yang memadai. Melihat realitas pahit ini, kehadiran IDREN diharapkan mampu menjadi jembatan emas yang menutup kesenjangan tersebut secara kolektif dengan menawarkan biaya operasional yang jauh lebih efisien dibandingkan membangun infrastruktur sendiri.
Siaga Kuantum dan Fondasi Kokoh Menuju Indonesia Emas
Forum ini juga tidak melupakan isu futuristik yang kini mulai mengemuka, yaitu urgensi kesiapan sektor pendidikan dalam menghadapi era komputasi kuantum. Para pakar yang hadir memberikan peringatan keras bahwa potensi pencurian data terenkripsi untuk dibongkar di masa depan merupakan ancaman serius yang sangat membahayakan identitas mahasiswa serta kekayaan intelektual hasil riset selama bertahun-tahun. Menyadari risiko besar tersebut, Telkom pun bergerak cepat dengan aktif memitigasi ancaman ini melalui penyusunan rencana migrasi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC) yang ditargetkan rampung sebelum tahun 2030. Langkah ini adalah bukti nyata bahwa Telkom tidak hanya berbicara, tetapi benar-benar bertindak.
Sinergi pentahelix yang digalakkan oleh Telkom ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan diarahkan murni untuk mendukung agenda nasional Asta Cita dan visi besar Indonesia Emas 2045. Dalam posisinya sebagai tulang punggung konektivitas digital nasional, Telkom dengan bangga mengandalkan jaringan serat optik InfraNexia yang membentang sepanjang 112 ribu kilometer. Dukungan ini semakin lengkap dan sempurna dengan kehadiran pusat data bertenaga AI bernama NeutraDC serta orkestrasi inovasi kampus melalui pendirian laboratorium gabungan yang memungkinkan mahasiswa dan peneliti berkreasi tanpa batas.
Mengakhiri paparannya, Telkom mengajak seluruh perguruan tinggi di tanah air untuk segera mengambil langkah nyata dalam penyelarasan tata kelola serta pengamanan aset digital masing-masing. Mereka meyakini bahwa sinergi yang kokoh ini akan memperkuat fondasi digital pendidikan tinggi secara menyeluruh, dari Sabang sampai Merauke. Upaya kolektif yang sedang digalakkan ini diharapkan mampu mewujudkan ekosistem pendidikan Indonesia yang benar-benar berdaulat, aman dari serangan siber, dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi masa depan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










