Dentmas.id – Gak mau ketinggalan zaman, raksasa jaringan komputer dan keamanan siber asal Amerika, Cisco, baru aja nge-drop senjata pamungkas. Namanya Foundry Security Spec. Penasaran? Ini dia!
Bukan Cuma Isapan Jempol! Cisco Rilis “Cetak Biru” AI Open Source yang Bikin Penasaran
Nah, Cisco memperkenalkan Foundry Security Spec sebagai kerangka kerja yang sudah teruji untuk membangun sistem evaluasi keamanan berbasis agentic AI. Hebatnya, mereka kasih gratis sebagai software open source.
Jadi, blueprint ini siap ngebantu organisasi merancang sistem evaluasi keamanan software pakai kecerdasan buatan (AI). Tujuannya jelas: biar sistem keamanan makin tajam!
Lho, emangnya kenapa butuh banget? Soalnya, Cisco sadar betul sama satu tantangan menjengkelkan yang mulai muncul seiring gencarnya pemakaian AI di dunia cyber security. Masalahnya? Temuan bug yang gak akurat dan susah banget diverifikasi! Bikin pusing tujuh keliling, kan?
Selama Ini, “AI Detektif” Sering Asal Tebak!
Coba bayangkan. Saat ini, model AI generatif dan large language model (LLM) memang makin sering dipake buat nyari celah keamanan di software. Tapi, jujur aja, Cisco mengakui bahwa pendekatan yang umum dilakukan sekarang masih punya banyak kelemahan.
Parahnya lagi, banyak tim keamanan cuma kasih source code atau repositori software ke AI, lalu nyuruh si AI nemuin bug atau celah keamanan. Gak pake prosedur jelas!
Alhasil, keluarnya bukan laporan rapi, melainkan daftar temuan berantakan yang mencampur adukkan analisis valid sama temuan yang salah total alias hoax. Gak ada cara yang jelas buat mastiin apakah semua area udah diperiksa atau kapan proses evaluasi bener-bener kelar.
Karena kondisi ini, Cisco dengan gamblang bilang kalau praktik kayak gitu cuma bikin AI keliatan keren sebagai demo teknologi, bukan sebagai sistem evaluasi keamanan yang bisa dipertanggungjawabkan ke tim keamanan perusahaan atau bahkan ke auditor. Gawat, kan?
“Resep Rahasia” Biar AI Gak Cuma Jago Ngomong!
Omar Santos, Distinguished Engineer di AI Security Engineering S&TO Cisco, menjelaskan dengan santai tapi serius, “Dengan membagikan pengetahuan yang sudah kami pelajari, kami pengen bantu komunitas defender biar bisa gerak lebih cepet dan lebih pinter.”
“Dengan cara gini, berbagai organisasi gak perlu sibuk ngurusin banyak notifikasi palsu lagi. Mereka bakal lebih fokus ke temuan keamanan yang beneran bisa diverifikasi dan kasih dampak nyata,” imbuhnya mantap. Nah, itu baru namanya solusi!
Bukan Alat Siap Pakai, Tapi “Cetak Biru” Rumah Mewah!
Perlu diingat! Meskipun Cisco ngumumin ini sebagai proyek open-source, Foundry Security Spec bukanlah aplikasi atau alat pemindai keamanan yang siap langsung dipake.
Biar gak salah paham, Cisco menjelaskan dengan gamblang bahwa Foundry itu spesifikasi acuan alias blueprint. Organisasi bisa pakai panduan ini buat membangun sistem evaluasi keamanan berbasis AI sesuai kebutuhan masing-masing.
Biar gampang dibayangin: kalo alat keamanan siap pakai itu ibarat rumah jadi, maka Foundry Security Spec itu kayak gambar arsitektur lengkap yang ngejelasin gimana rumah megah itu harus dibangun dari nol.
Karena sifatnya model-agnostic dan stack-agnostic, spesifikasi ini bisa dipake sama berbagai model AI atau infrastruktur software apapun. Mau pake AI merk apa aja, bebas! Gak ada paksaan.
Biar makin kece, Cisco ngerancang Foundry biar bisa dipake bareng GitHub Spec-Kit, yaitu seperangkat alur kerja pengembangan berbasis spesifikasi yang udah populer di industri. Dijamin gampang adaptasinya!
“Pasukan Elite” Agentic AI: Bos, Detektif, Sampai Reporter!
Konsep paling keren yang Cisco usung adalah penggunaan agentic AI. Bedanya kayak apa? Kalo chatbot biasa cuma jawab pertanyaan, agentic AI itu berupa sistem yang terdiri dari beberapa agen AI yang kompak kerja bareng nyelesein tugas tertentu.
Di dalam Foundry Security Spec, Cisco dengan cermat mendefinisikan delapan agen inti. Ada Orchestrator, Detector, Validator, Triager, Coverage Guide, sampe Reporter. Masing-masing punya fungsi beda yang saling ngisi.
Biar lebih kebayang: Si Detector bertugas nyari kerentanan, lalu Validator dengan teliti ngecek beneran atau gak temuan itu. Abis itu, Triager nentuin prioritas penanganan, sementara Reporter nyusun hasil evaluasi dengan rapi. Nah, si Orchestrator bertindak kayak manajer lapangan yang ngoordinir seluruh proses dari awal sampe akhir.
Mantul, kan? Cisco yakin pendekatan tim ini jauh lebih efektif dibanding ngandelin satu model AI buat kerja sendirian.
Satu Tim Sama CodeGuard: Bikin AI Makin Pinter & Gak Cepet Pikun
Gak berhenti sampai disitu! Foundry Security Spec juga dirancang biar kompak kerja bareng Project CodeGuard. Ini proyek open-source Cisco lain yang sebelumnya udah disumbangkan ke Coalition for Secure AI (CoSAI).
CodeGuard itu isinya kumpulan aturan keamanan yang berguna banget buat bantu AI mengenali pola kerentanan di kode program. Awalnya, proyek ini diciptakan buat bantu agen AI yang dipake developer nulis kode lebih aman secara otomatis.
Tapi, Cisco nemuin fakta mengejutkan: aturan-aturan tersebut ternyata juga efektif banget buat audit kode, pengujian keamanan, dan evaluasi kerentanan secara otomatis. Multifungsi, kan?
Hasilnya, kombinasi Foundry dan CodeGuard menciptakan mekanisme keren yang Cisco sebut sebagai siklus deteksi dan pencegahan yang terus belajar. Cara kerjanya sederhana tapi jenius.
Pertama, CodeGuard bertugas nyari kerentanan yang udah dikenal lewat kumpulan aturannya. Di saat yang bersamaan, agen eksploratif di dalam Foundry dengan sigap nyoba nyari pola kerentanan baru yang belum tercakup aturan.
Kalo nemu celah yang belum dikenal CodeGuard, sistem bakal nyatetnya sebagai “rule gap” alias kekurangan aturan. Temuan ini langsung diubah jadi aturan baru atau jadi penyempurnaan aturan yang udah ada.
Hasilnya? Pada pemeriksaan berikutnya, kerentanan yang sebelumnya cuma bisa ditemukan lewat eksplorasi manual, sekarang bisa dideteksi secara otomatis dari awal. Keren banget, kan?
Lebih gila lagi, karena aturan CodeGuard bersifat portable, aturan yang sama juga bisa dipake oleh asisten coding berbasis AI. Artinya, bug yang sebelumnya ditemuin pas evaluasi keamanan, bisa dicegah sejak proses nulis kode dilakukan. Mencegah sebelum kebakaran!
Anti-Terobsolet! Desain Cisco Ini Tahan Lama Sampai Bertahun-Tahun
Biar gak cuma fashion semusim, Cisco dengan tegas bilang bahwa Foundry Security Spec tidak dibangun berdasarkan model AI tertentu, melainkan berdasarkan pembagian peran dan persyaratan fungsional yang fundamental.
Karena itu, Cisco yakin banget spesifikasi ini bakal tetap relevan meski model AI terus berkembang kayak jamur di musim hujan.
Omar Santos nambahin dengan percaya diri, “Baik Anda menggunakan model AI terdepan saat ini maupun agen penalaran yang lebih kompleks di masa depan, kebutuhan akan orchestrator, detector, dan validator akan tetap sama.”
Lalu, kenapa Cisco milih buka spesifikasinya, bukan kode sumber internalnya? Menurut perusahaan, implementasi internal mereka itu sangat terikat sama infrastruktur Cisco sendiri, kayak gateway LLM, private cloud, dan sistem internal lainnya. Jadi, susah banget diterapin langsung di lingkungan organisasi lain.
Maka dari itu, Cisco milih cara yang lebih cerdas: desain sistem, pembagian peran, mekanisme evaluasi, serta prinsip-prinsip mendasarnya yang justru lebih bermanfaat buat dibagikan ke komunitas.
Kesimpulan: Gak Usah Mulai Dari Nol Lagi!
Melalui Foundry Security Spec, Cisco berharap organisasi yang pengen memanfaatkan AI untuk keamanan siber gak perlu pusing mulai dari nol lagi.
Tujuan akhirnya jelas: membantu membangun sistem evaluasi keamanan yang lebih terstruktur, mudah diaudit, dan paling penting, mampu menghasilkan temuan yang beneran bisa dipercaya. Gak ada lagi deh ribet-ribet ngurusin notifikasi palsu!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










