Dentmas.id – Di saat seluruh dunia heboh membahas kecerdasan buatan, China justru menarik rem darurat terhadap salah satu AI paling populer saat ini, yaitu OpenClaw. Bukannya ikut-ikutan gila-gilaan pakai teknologi canggih, pemerintah China malah memilih langkah super hati-hati.
Awalnya Antusias, Tiba-Tiba Dilarang!
Dalam beberapa pekan terakhir, banyak instansi pemerintah dan perusahaan pelat merah di China mulai mengeluarkan peringatan keras. Mereka melarang pegawai negeri sipil (PNS) untuk menginstal aplikasi OpenClaw di perangkat kerja mereka. Larangan ini bukan isapan jempol belaka, melainkan keputusan mendadak yang mengejutkan banyak pihak.
Lantas, apa yang membuat China tiba-tiba berbalik arah? Regulator China mengkhawatirkan potensi bahaya keamanan dari teknologi ini. Misalnya saja kebocoran data rahasia negara, penghapusan file penting secara tidak sengaja, hingga penyalahgunaan informasi pengguna oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
OpenClaw Bukan Chatbot Biasa, Lebih Ngeri!
Sebagai informasi, OpenClaw merupakan agen AI bersifat open-source. Artinya, sistem kecerdasan buatan ini bisa menjalankan berbagai tugas digital secara mandiri—tanpa perlu perintah manual setiap saat.
Beda banget sama chatbot AI generatif biasa yang cuma jago jawab pertanyaan. OpenClaw bertindak layaknya asisten digital sejati. Ia mampu menjalankan aksi langsung di komputer atau server pengguna. Bayangkan saja, kita bisa mengendalikan AI ini lewat aplikasi pesan kayak WhatsApp atau Telegram. Cukup kirim perintah, maka OpenClaw bakal mengoperasikan terminal, mengontrol browser, hingga mengelola sistem komputer secara otomatis.
Karena kemampuannya yang luar biasa tersebut, OpenClaw bisa bekerja 24 jam non-stop sebagai “asisten digital” pribadi. Ia setia menjalankan tugas di komputer pengguna kapan pun dibutuhkan.
OpenClaw Punya Riwayat Perubahan Nama
Teknologi ini pertama kali diluncurkan di GitHub pada November 2025 dengan nama Clawdbot. Seiring waktu dan perkembangannya, proyek ini sempat berganti nama menjadi Moltbot pada 27 Januari 2026. Namun baru beberapa hari kemudian, tepatnya 30 Januari 2026, nama akhirnya ditetapkan sebagai OpenClaw.
Sejak dirilis, OpenClaw langsung menyita perhatian komunitas teknologi global. Kemampuannya menjalankan berbagai pekerjaan secara otomatis dengan sedikit campur tangan manusia menjadi daya tarik utama.
Sempat Disambut Meriah, Kini Berbalik Kecurigaan
Di China sendiri, teknologi ini awalnya disambut dengan antusiasme tinggi. Banyak perusahaan teknologi besar, startup AI, hingga pemerintah daerah di kota-kota maju seperti Shenzhen mendorong eksperimen penggunaan OpenClaw. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan kecanggihan AI ini.
Bahkan, beberapa pemerintah daerah setempat berani menawarkan subsidi bernilai jutaan yuan bagi perusahaan yang mengembangkan aplikasi berbasis OpenClaw. Kebijakan ini merupakan bagian dari program nasional ambisius bernama “AI Plus” —yakini strategi pemerintah China untuk mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri dan ekonomi.
Tapi sayangnya, ditengah euforia tersebut, regulator pusat di Beijing mulai angkat suara. Mereka memperingatkan potensi risiko keamanan yang mengintai dari belakang.
Instansi Pemerintah Panik, PNS Wajib Lapor
Menurut sejumlah sumber internal yang mengetahui kebijakan ini, instansi pemerintah dan BUMN di China telah menginstruksikan para pegawainya untuk tidak memasang OpenClaw di perangkat kerja. Alasan utamanya jelas: keamanan data negara.
Para pegawai yang terlanjur menginstal aplikasi terkait juga diperintahkan untuk segera melapor kepada atasan masing-masing. Setelah melapor, perangkat mereka akan diperiksa secara menyeluruh. Aplikasinya pun kemungkinan besar bakal dihapus paksa.
Bahkan, kabarnya beberapa pegawai—termasuk yang bekerja di bank milik negara dan lembaga pemerintah—dilarang keras memasang OpenClaw baik di komputer kantor maupun di ponsel pribadi yang tersambung dengan jaringan kantor. Tidak berhenti di situ, seorang sumber juga menyebut bahwa dalam beberapa kasus, pembatasan ini turut berlaku bagi anggota keluarga personel militer. Sungguh ketat!
Ada Celah, Aspek Izin Dulu!
Meskipun begitu, tidak semua lembaga menerapkan larangan penuh. Dalam sejumlah pemberitahuan internal, penggunaan OpenClaw masih diperbolehkan asalkan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari atasan atau tim keamanan siber.
Namun hingga kini, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China serta Komisi Pengawas dan Administrasi Aset Negara belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan kontroversial ini. Publik pun masih menunggu klarifikasi lebih lanjut.
Risiko Keamanan Jadi Biang Kerok
Menurut laporan yang dihimpun dari The Business Times dan Reuters, kekhawatiran utama pemerintah China berkaitan dengan akses super luas yang dimiliki agen AI seperti OpenClaw terhadap suatu sistem perangkat.
Agar bisa menjalankan berbagai tugas otomatis, AI jenis ini biasanya membutuhkan izin untuk mengakses data pribadi pengguna, aplikasi lain yang terinstal, serta koneksi jaringan internet. Akses yang sangat luas ini berpotensi memicu berbagai risiko keamanan serius. Mulai dari kebocoran data sensitif, penghapusan file secara tidak sengaja, hingga kemungkinan penyalahgunaan akses oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
Para pakar keamanan siber juga ikut angkat bicara. Mereka memperingatkan bahwa kombinasi antara akses ke data sensitif, kemampuan berkomunikasi dengan jaringan eksternal, serta interaksi dengan konten yang tidak sepenuhnya terpercaya—dapat meningkatkan potensi kerentanan sistem secara drastis.
Belum Jelas Skala Pembatasan
Hingga berita ini diturunkan, belum jelas seberapa luas sebenarnya cakupan pembatasan penggunaan OpenClaw di China. Beberapa pemerintah daerah justru disebut-sebut masih terus gencar bereksperimen dengan teknologi ini.
Salah satu contohnya adalah distrik Futian di kota Shenzhen. Mereka dilaporkan masih menggunakan OpenClaw untuk mengembangkan agen AI yang dirancang khusus membantu pekerjaan pegawai pemerintah setempat. Artinya, meskipun pusat sudah was-was, daerah tertentu masih merasa perlu menjajal kecanggihan OpenClaw.
Satu hal yang pasti: kekhawatiran China terhadap OpenClaw bukan tanpa alasan. Negara Tirai Bambu itu benar-benar serius menjaga keamanan data dan sistem pemerintahannya. Sementara dunia terus bertanya-tanya, langkah China ini bisa jadi akan diikuti negara-negara lain di masa depan. Siapa tahu, Indonesia pun menyusul? Kita tunggu saja.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










