Dentmas.id – Saat situasi mental seseorang sedang berada di ujung tanduk, teknologi rupanya kini bisa bertindak lebih dari sekadar jadi tempat curhat. Bukan cuma itu, OpenAI secara resmi meluncurkan fitur anyar di ChatGPT yang dinamai “Trusted Contact”. Selain itu, fitur ini nyaris mirip dengan emergency contact atau kontak darurat di ponsel pintar kita. Akan tetapi, bedanya, ia dirancang khusus untuk kondisi genting ketika sistem mendeteksi pengguna sedang menunjukkan tanda-tanda gangguan mental serius atau membicarakan niat menyakiti diri sendiri dalam obrolan dengan AI. Oleh karena itu, langkah ini dianggap sebagai terobosan penting di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak psikologis dari chatbot.
Dengan fitur ini, setiap pengguna ChatGPT bisa langsung menunjuk satu orang dewasa yang benar-benar dipercaya—misalnya teman dekat, pasangan, atau anggota keluarga—untuk menjadi kontak darurat di akun mereka. Kemudian, jika sistem ChatGPT mendeteksi adanya percakapan yang mengarah ke bunuh diri atau tindakan self-harm dan dinilai sebagai risiko yang serius, AI tersebut secara otomatis akan mengirimkan notifikasi kepada kontak terpercaya itu. Hasilnya, orang yang ditunjuk bisa segera melakukan pengecekan terhadap pengguna, tanpa harus menunggu laporan dari pihak lain.
Menurut OpenAI, Trusted Contact ini tidak dibuat asal-asalan. Pasalnya, fitur tersebut dikembangkan bersama para klinisi kesehatan mental, peneliti berpengalaman, serta organisasi pencegahan bunuh diri yang kredibel. Dengan kata lain, ada kajian ilmiah dan pendekatan profesional di balik setiap mekanisme kerjanya. Karena itu, OpenAI dengan tegas menyatakan, “Trusted Contact dirancang untuk mendorong koneksi dengan orang yang sudah dipercaya pengguna. Fitur ini bukan pengganti bantuan profesional atau layanan krisis, melainkan salah satu lapisan perlindungan tambahan.” Jadi, jangan pernah menganggapnya sebagai solusi final, tetapi lebih sebagai jaring pengaman darurat.
Begini Cara Kerja dan Aturan Privasinya
Lantas, bagaimana cara mengaktifkannya? Fitur Trusted Contact ini bersifat opsional dan sayangnya hanya tersedia untuk pengguna ChatGPT yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Caranya cukup mudah: pengguna tinggal masuk ke menu Settings > Trusted Contact di aplikasi ChatGPT. Setelah itu, mereka bisa langsung menambahkan satu orang dewasa sebagai kontak terpercaya dengan memasukkan alamat e-mail dan nomor telepon orang tersebut. Selanjutnya, kontak yang dipilih akan menerima undangan resmi dan wajib menyetujuinya dalam waktu maksimal satu minggu, baru fitur bisa aktif. Jika mereka tidak merespons atau menolak undangan, pengguna harus memilih orang lain sebagai pengganti. Proses ini sengaja dibuat berlapis demi memastikan kesiapan dari pihak kontak darurat.
Begitu fitur aktif, sistem otomatis di ChatGPT akan mulai memantau setiap percakapan yang dianggap mengandung indikasi serius terkait bunuh diri atau self-harm. Yang menarik, jika percakapan tersebut terdeteksi berbahaya, ChatGPT akan memberi tahu pengguna terlebih dahulu bahwa kontak terpercaya mereka mungkin akan segera dihubungi. Di sisi lain, AI ini juga akan mendorong pengguna untuk menghubungi langsung orang terpercaya tersebut secara sukarela. Setelah pemberitahuan itu, tim reviewer manusia dari OpenAI akan melakukan peninjauan lebih mendalam.
Jika hasil tinjauan benar-benar menunjukkan risiko tinggi, barulah ChatGPT mengirim notifikasi ke Trusted Contact melalui berbagai saluran, seperti e-mail, SMS, WhatsApp, atau notifikasi aplikasi. Namun, yang perlu dicatat, berdasarkan pantauan kami, fitur ini belum muncul di semua akun ChatGPT. Sebab, perusahaan AI yang didirikan Sam Altman ini mengungkapkan akan menggulirkan fitur tersebut secara bertahap ke pengguna yang lebih luas dalam beberapa waktu ke depan.
Isi chat pengguna tetap dilindungi secara ketat, dan ini adalah poin krusial yang ditekankan oleh OpenAI. Dalam hal ini, notifikasi yang dikirim sengaja dibatasi informasinya demi menjaga privasi pengguna. Jadi, kontak terpercaya hanya akan diberi tahu bahwa pengguna mungkin sedang membahas bunuh diri dalam percakapan yang dianggap mengkhawatirkan. Isi chat, transkrip percakapan, atau detail pembicaraan tidak akan dibagikan kepada siapa pun, termasuk kepada kontak darurat itu sendiri. Misalnya, dalam contoh notifikasi yang dibagikan OpenAI, Trusted Contact akan menerima pesan seperti: “Kami mendeteksi percakapan dari (nama pengguna) yang mungkin mengindikasikan masalah keselamatan serius. Karena Anda terdaftar sebagai Trusted Contact, kami membagikan informasi ini agar Anda dapat menghubungi mereka.” Dengan sistem ini, privasi tetap terjaga tanpa mengorbankan aspek keselamatan.
Meski begitu, OpenAI kembali menegaskan bahwa Trusted Contact bukanlah layanan darurat, bukan sistem respons krisis, dan sama sekali bukan pengganti bantuan profesional kesehatan mental. Dengan tegas, mereka mengingatkan bahwa fitur ini hanyalah alat bantu, bukan solusi medis. Karena itu, jika Anda atau orang terdekat mengalami kondisi genting, tetaplah menghubungi tenaga profesional atau layanan krisis yang tersedia.
Fenomena Global dan Gugatan yang Memicu Langkah Ini
Menariknya, fitur ini hadir tepat di tengah meningkatnya sorotan tajam terhadap dampak chatbot AI terhadap kesehatan mental pengguna. Tahun lalu, OpenAI mengungkap data mengejutkan: sekitar 0,07 persen pengguna aktif mingguan ChatGPT menunjukkan tanda-tanda “mental health emergencies” terkait psikosis atau mania. Selain itu, sekitar 0,15 persen pengguna menunjukkan risiko self-harm atau bunuh diri, dan 0,15 persen lainnya memperlihatkan tanda ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap AI. Dengan angka ini, OpenAI sendiri mengklaim bahwa ChatGPT kini memiliki sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan secara global. Artinya, jumlah pengguna yang masuk kategori berisiko tersebut bisa mencapai 3 juta orang di seluruh dunia—sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan.
Tak hanya itu, OpenAI juga sempat menghadapi sejumlah gugatan hukum dari keluarga pengguna yang meninggal bunuh diri setelah berinteraksi dengan chatbot AI. Dalam beberapa kasus yang menghebohkan, keluarga korban menuduh ChatGPT justru mendorong atau membantu pengguna merencanakan bunuh diri, sebagaimana dihimpun dari TechCrunch dan Gizmodo. Oleh karena itu, kehadiran Trusted Contact bisa dilihat sebagai respons langsung terhadap tekanan publik dan hukum atas keamanan produk AI di ranah kesehatan mental.
Yang terpenting, ingatlah: bunuh diri bisa terjadi ketika seseorang mengalami depresi berat dan merasa tak punya siapa pun untuk berteduh. Jika Anda memiliki permasalahan serupa, jangan menyerah dan jangan pernah memutuskan mengakhiri hidup. Percayalah, Anda tidak sendiri di dunia ini. Sekarang, layanan konseling profesional bisa menjadi pilihan tepat untuk meringankan keresahan yang Anda rasakan. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau berbagai alternatif konseling, Anda bisa mengunjungi website Into the Light Indonesia, di tautan ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater/. Jadi, jangan ragu mencari bantuan, karena setiap nyawa sangat berharga.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










