Dentmas.id – Industri kecerdasan buatan (AI) yang kini melambung tinggi tiba-tiba diguncang kekhawatiran serius. Mari kita kupas, isu gelembung ekonomi alias AI bubble kembali mencuat setelah dua investor raksasa, Peter Thiel dan SoftBank, secara kompak melepas semua saham Nvidia milik mereka. Langkah ini langsung memicu kegelisahan di pasar, terutama karena Nvidia selama dua tahun terakhir kita anggap sebagai barometer utama booming AI global. Lantas, benarkah kita sedang menuju puncak “AI bubble” yang siap meledak?
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu kita pahami, istilah AI bubble di sini menggambarkan situasi di mana tren AI sedang berada di puncak hype. Semua orang membicarakan AI, perusahaan berlomba mengadopsinya, dan investor menggelontorkan dana besar, namun perkembangan atau keuntungan riilnya belum tentu secepat atau sebesar bayangan mereka. Bayangkan saja seperti gelembung sabun yang terus membesar. Gelembung itu bisa pecah kapan pun jika isinya tidak stabil. Dalam konteks AI, jika bubble benar-benar pecah, industri yang sedang hype ini bisa ikut berantakan.
Analis Berbeda Pendapat: Bubble atau Bukan?

Menjawab pertanyaan panas itu, pendapat para analis justru terbelah tajam. Sebagian analis dengan tegas menyatakan bahwa kondisi pasar AI saat ini menunjukkan ciri-ciri mirip bubble klasik, mirip era dot-com di akhir 1990-an. Namun, di sisi lain, banyak pula analis yang optimis dan berargumen bahwa industri AI tidak akan berakhir seperti zaman gelembung dot-com.
Sinyal Mencemaskan dari Aksi Jual Besar-besaran
Perhatikan sinyal ini: dalam laporan terbarunya, hedge fund milik miliarder Peter Thiel, Thiel Macro, menjual seluruh 537.742 saham Nvidia yang mereka pegang pada kuartal III-2025. Nilai penjualannya kita perkirakan mencapai 100 juta dolar AS. Hebatnya lagi, langkah Thiel ini hanya terjadi beberapa hari setelah SoftBank juga dilaporkan melepas seluruh saham Nvidia senilai sekitar 5,8 miliar dolar AS. Kedua aksi jual besar-besaran ini sengaja mereka lakukan tepat sebelum Nvidia merilis laporan keuangan terbarunya.
Di pasar saham, aksi “ambil untung” (profit-taking) oleh investor institusi besar sering kita anggap sebagai sinyal bahwa ekspektasi pertumbuhan perusahaan sudah mulai dianggap terlalu tinggi. Kedua penjualan fenomenal ini kembali memicu kekhawatiran bahwa valuasi sektor AI “sudah kepenuhan”. Di sinilah isu AI bubble semakin menguat. Sejak kemunculan ChatGPT pada 2022, saham-saham terkait AI telah menjadi motor penggerak pasar global.
Valuasi yang Melonjak dan Narasi Dot-Com
Bahkan, valuasi gabungan raksasa teknologi “Magnificent Seven” (Nvidia, Microsoft, Apple, Alphabet, Amazon, Meta, Tesla) kini kita nilai setara atau lebih besar dari perekonomian China! Sebagai bukti konkret hype AI, valuasi Nvidia melonjak 300% dalam dua tahun terakhir. Kini, Nvidia menjadi satu-satunya perusahaan yang valuasinya mencapai lebih dari 4 triliun dolar AS. Contoh lain perusahaan AI dengan valuasi melambung adalah OpenAI, pengembang ChatGPT. Valuasinya kini mencapai 500 miliar dolar AS, sehingga membuatnya menduduki puncak daftar perusahaan unicorn, menyalip SpaceX dan ByteDance.
Bubble dalam pasar finansial terjadi ketika harga aset naik terlalu cepat karena hype, bukan didorong fundamental bisnis yang kuat. Kondisi ini pernah kita alami pada dot-com bubble akhir 1990-an. Melihat situasi sekarang, Andrew Garthwaite dari UBS berpendapat bahwa euforia AI menunjukkan pola yang mirip dengan bubble klasik itu.
Menurut Garthwaite, tanda bubble pertama adalah maraknya perilaku “buy the dip”, di mana investor berbondong-bondong membeli saham AI saat harganya turun karena yakin nilainya akan naik lagi. Ciri kedua adalah keyakinan dogmatis bahwa teknologi AI pasti menjadi revolusi besar, sehingga “kali ini pasti berbeda”. Ciri ketiga adalah membanjirnya investor ritel ke saham teknologi, didorong kondisi moneter longgar dan pertumbuhan laba perusahaan di luar 10 raksasa teknologi AS yang stagnan. “Di luar sepuluh perusahaan teratas di AS, proyeksi pertumbuhan laba per saham dalam 12 bulan ke depan hampir nol,” pungkas Garthwaite.
Argumentasi Kontra: Fondasi Lebih Kokoh dan Tantangan Nyata
Namun, tidak semua analis sepakat. Salah satu suara berbeda berasal dari Peter Oppenheimer dari Goldman Sachs. Oppenheimer mengingatkan bahwa kondisi industri sekarang jauh berbeda dari era dot-com, di mana banyak perusahaan internet belum menghasilkan keuntungan nyata. Menurutnya, raksasa AI masa kini seperti Nvidia dan Microsoft bukan sekadar menjual mimpi. Kenaikan harga saham mereka selama dua tahun terakhir diiringi pertumbuhan laba yang konsisten dan riil.
Oppenheimer juga menilai bahwa valuasi tinggi perusahaan AI saat ini lebih disebabkan faktor makroekonomi, seperti suku bunga rendah dan tingginya tabungan global. Perbedaan penting lainnya terletak pada rasio valuasi. Berdasarkan data Goldman Sachs, median rasio harga terhadap laba (forward P/E) untuk “Magnificent Seven” saat ini sekitar 27x. Angka ini hampir setengah dari valuasi perusahaan teknologi di puncak dot-com bubble (median 52x). Artinya, investor hari ini membayar $27 untuk setiap $1 laba, jauh lebih rasional dibanding era dot-com di mana mereka membayar $54 untuk $1 laba yang seringkali ilusif.
Pandangan menarik lain datang dari Jordi Visser dari 22V Research. Ia menilai masalah utama industri AI bukanlah spekulasi pasar atau bubble, melainkan ketidakseimbangan besar antara permintaan dan kapasitas infrastruktur. “Ini bukan gelembung dot-com, karena permintaan jauh melampaui pasokan,” tegas Visser.
Ia menjelaskan bahwa permintaan terhadap GPU, daya listrik, hingga data center tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan industri menyediakannya. Karena itu, tantangan AI ke depan berada pada eksekusi dan kemampuan mengelola keterbatasan fisik, bukan sekadar besaran investasi. Perusahaan yang akan bertahan adalah yang mampu menguasai pasokan listrik, data center, dan chip, bukan sekadar yang punya modal paling besar.
Kesimpulannya, pasar AI memang menunjukkan tanda-tanda euforia, namun fondasi bisnis perusahaan-perusahaan utamanya saat ini jauh lebih kokoh dibanding era dot-com. Tantangan terbesar justru ada di luar pasar modal: yaitu perlombaan memenuhi permintaan infrastruktur yang meledak-ledak. Jadi, apakah ini bubble atau fase pertumbuhan yang panas? Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah, dan kuncinya terletak pada eksekusi riil di dunia fisik dalam beberapa tahun ke depan.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










