Dentmas.id – Siapa bilang tahta raja jam tangan pintar global mulai goyah? Apple membuktikan bahwa mahkota itu masih kokoh di kepalanya. Raksasa teknologi asal Cupertino, Amerika Serikat, itu masih dengan percaya diri memimpin pasar smartwatch dunia setelah berhasil menguasai hampir separuh pengiriman perangkat wearable canggih sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Tepatnya, Apple Watch menyumbang 46 persen dari total jam tangan pintar yang dikirim ke seluruh penjuru dunia selama periode April hingga Juni lalu.
Angka fantastis itu tentu bukan hasil kebetulan. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset pasar ternama, Omdia, dominasi Apple memang masih terlihat sangat mencolok. Hampir bisa dibilang, dari setiap 10 smartwatch yang sampai ke tangan konsumen global, hampir 5 di antaranya adalah produk bergaya apel tersebut. Pencapaian ini sekaligus menegaskan bahwa ekosistem Apple yang kuat, mulai dari integrasi dengan iPhone hingga deretan fitur kesehatan canggih, tetap menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi oleh para pesaingnya.
Meski Turun Tipis, Apple Tetap Tak Terkejar
Meskipun porsi pasarnya sedikit tergerus jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, kita tidak bisa serta-merta menyebut ini sebagai kemunduran. Sebagai informasi, pada kuartal II 2025, pangsa Apple masih berada di angka 48 persen. Meski turun 2 persen, angka 46 persen saat ini masih terbilang luar biasa mengingat gempuran produk-produk baru dari merek lain yang semakin agresif. Penurunan kecil ini lebih terlihat seperti dinamika pasar alami, bukan sinyal melemahnya daya saing Apple.
Yang menarik, meskipun pangsanya menyusut, Apple masih dengan nyaman duduk di puncak. Bahkan, jika kita jumlahkan pangsa empat pesaing terdekatnya sekalipun—yaitu Samsung, Garmin, Huawei, dan XTC (imoo)—totalnya hanya mencapai 43 persen. Artinya, Apple masih unggul 3 persen dibandingkan gabungan empat merek besar di bawahnya! Ini benar-benar menunjukkan betapa perkasanya kekuatan Apple Watch di mata konsumen global.
Di Bawah Apple, Perang Sengit Samsung vs Garmin
Lantas, bagaimana dengan para penantangnya? Di bawah singgasana Apple, persaingan justru berjalan sangat sengit. Samsung yang selama ini dikenal sebagai penguasa nomor dua harus rela berbagi posisi dengan pendatang baru yang tangguh, Garmin. Kedua merek ini saat ini sama-sama menguasai 15 persen pasar smartwatch global. Namun, jika kita bedah lebih dalam, terdapat cerita menarik di balik angka yang sama ini.
Pangsa Samsung tercatat turun dari 17 persen pada kuartal II 2025 menjadi 15 persen saat ini. Sebaliknya, Garmin justru menunjukkan lompatan signifikan dengan kenaikan dari 11 persen menjadi 15 persen dalam kurun waktu satu tahun. Kenaikan ini tentu bukan main-main, karena Garmin berhasil mencuri perhatian konsumen di segmen yang selama ini mungkin terabaikan oleh raksasa seperti Samsung dan Apple.
Lonjakan popularitas Garmin ini menjadi salah satu titik cerah dalam laporan Omdia. Mengapa? Karena Garmin berhasil memanfaatkan celah pasar yang spesifik: kebutuhan olahraga dan aktivitas luar ruangan. Mereka tidak melulu mengandalkan gaya hidup urban, melainkan fokus menyasar para pelari, pesepeda, hingga pecinta petualangan. Dengan meluncurkan lini produk seperti Forerunner, Garmin mampu menawarkan data latihan yang lebih presisi dan fitur olahraga super lengkap. Hal ini menjawab kebutuhan konsumen modern yang tidak hanya ingin tampil gaya, tetapi juga mendambakan akurasi dalam setiap gerakan tubuh mereka.
Dari data ini saja, kita sudah bisa melihat adanya pergeseran perilaku konsumen. Sekarang, para pembeli smartwatch semakin pintar dan kritis. Mereka tidak lagi sekadar mencari perangkat dengan layar cantik atau notifikasi instan. Sebaliknya, mereka mulai bersedia merogoh kocek lebih dalam demi perangkat yang mampu menyajikan analisis olahraga mendalam, pemantauan detak jantung yang akurat, hingga data pemulihan pasca-latihan yang komprehensif. Inilah yang membuat Garmin mencuri panggung di bawah bayang-bayang Apple.
Kembali ke papan atas, selain Samsung dan Garmin, kita juga melihat kehadiran Huawei dengan pangsa stabil 7 persen, serta XTC (imoo) yang mengantongi 6 persen pasar. Kedua merek ini memang tidak menunjukkan lonjakan besar, tetapi konsistensi mereka patut diapresiasi di tengah ketatnya kompetisi. Sementara itu, merek-merek lain di luar lima besar hanya kebagian jatah 10 persen, turun dari 12 persen pada tahun sebelumnya. Ini menandakan bahwa konsumen kini lebih memilih produk-produk dari vendor ternama yang sudah teruji kualitas dan reputasinya.
Tren Baru: Perangkat Tanpa Layar Mulai Dilirik
Namun, cerita menarik tidak berhenti di dunia smartwatch saja. Omdia juga mengungkap bahwa industri wearable secara keseluruhan sedang menghadapi dinamika yang unik. Ketika smartwatch justru menikmati pertumbuhan 6 persen secara tahunan, kategori wearable band secara global justru mengalami penurunan 2 persen. Penurunan ini terutama disumbang oleh segmen basic band yang ambles hingga 9 persen.
Fenomena ini mengindikasikan adanya perubahan minat besar-besaran dari konsumen. Mereka seakan meninggalkan perangkat sederhana dan mulai beralih ke dua kutub ekstrem: memilih pelacak kebugaran standar yang minimalis, atau melompat ke smartwatch dengan fitur super lengkap. Artinya, konsumen sekarang lebih tahu apa yang mereka inginkan. Mereka tidak ingin produk setengah-setengah.
Salah satu tren yang mulai mencuri perhatian adalah munculnya screenless fitness tracker, yaitu perangkat pelacak aktivitas tanpa layar sama sekali. Mungkin terdengar kuno, tetapi kenyataannya perangkat tanpa layar ini justru berhasil menyumbang lebih dari 15 persen pengiriman basic band pada Q2 2026. Ini bukan angka kecil untuk sebuah kategori yang terkesan “tanpa fitur”.
Kehadiran produk-produk seperti Fitbit Air dari Google dan Circa dari Garmin menjadi katalis utama di balik lonjakan ini. Fitbit Air, misalnya, sejak pertama kali diluncurkan langsung mampu menyedot perhatian konsumen dalam jumlah besar. Tanpa layar, perangkat ini mengandalkan sensor canggih dan algoritma pintar untuk melacak aktivitas, tidur, hingga pemulihan tubuh. Ini membuktikan bahwa bagi sebagian orang, kesederhanaan dan daya tahan baterai yang panjang justru lebih bernilai daripada layar sentuh warna-warni.
Dengan tren yang terus berkembang ini, prospek Google melalui Fitbit Air terlihat cukup cerah. Apabila permintaan terhadap perangkat tanpa layar terus berlanjut, bukan tidak mungkin Google akan mencatatkan penjualan yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Ini menjadi sinyal bahwa pasar wearable sedang bertransformasi, dan para pemain besar harus terus berinovasi agar tidak tertinggal.
Kembali ke persaingan di puncak, meskipun Garmin mulai mendekati posisi Samsung, Apple tetap menjadi raja yang disegani. Kombinasi antara loyalitas penggemar, kemudahan ekosistem, dan inovasi fitur kesehatan seperti deteksi jatuh, EKG, hingga pengukuran suhu tubuh, membuat Apple Watch selalu menjadi primadona. Bahkan, dengan penurunan pangsa yang tipis sekalipun, Apple masih terlalu jauh bagi para pesaingnya untuk dikejar dalam waktu dekat.
Sementara itu, Samsung tentu tidak akan tinggal diam. Melihat pangsanya yang tergerus, mereka pasti akan segera melakukan manuver. Mungkin dengan menghadirkan Galaxy Watch dengan sensor yang lebih mutakhir atau mengintegrasikan kecerdasan buatan yang lebih canggih. Sebab dalam dunia teknologi, tidak ada yang abadi. Jika tidak bergerak cepat, posisi nyaman mereka bisa terus tergerus oleh Garmin atau bahkan merek lain yang muncul secara tiba-tiba.
Di sisi lain, Garmin patut diberi tepuk tangan karena berhasil mengidentifikasi celah pasar dan menggarapnya dengan serius. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa untuk menang di pasar global, kita tidak harus selalu menjadi yang paling umum. Kadang, fokus pada segmen tertentu justru memberikan hasil yang lebih manis. Garmin membuktikan bahwa menjadi spesialis dalam pelacakan olahraga dapat mengalahkan strategi generalis yang diterapkan oleh pesaing lainnya.
Secara keseluruhan, pasar smartwatch global di kuartal II 2026 menampilkan peta persaingan yang semakin panas dan dinamis. Apple tetap menjadi penguasa dengan 46 persen pangsa pasar, tetapi di bawahnya, terjadi perang sengit antara Samsung dan Garmin yang sama-sama mengincar kursi runner-up. Sementara Huawei dan XTC tetap menjadi pemain penting yang tidak bisa diremehkan.
Yang paling menarik dari laporan Omdia ini adalah kita bisa melihat bagaimana selera konsumen terus berubah. Kini, mereka tidak hanya menginginkan perangkat pintar yang keren, tetapi juga fungsional dan sesuai dengan gaya hidup masing-masing. Tren perangkat tanpa layar semakin memperkuat bukti bahwa masa depan wearable mungkin tidak selalu tentang layar yang lebih besar, tetapi tentang kecerdasan sensor di baliknya.
Dengan segala dinamika ini, hanya waktu yang akan menjawab siapa yang akan bertahan dan siapa yang tersingkir. Namun satu hal yang pasti: Apple masih terlalu perkasa untuk digeser, dan perlombaan menuju dominasi berikutnya baru saja dimulai!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










