Dentmas.id – Dunia teknologi kembali digemparkan dengan kabar mengejutkan! Nvidia secara resmi menaikkan banderol kartu grafis andalan mereka di kelas workstation, RTX Pro 6000 Blackwell, hingga mencapai angka fantastis 16.000 dolar AS. Jika dirupiahkan, nominal ini setara dengan sekitar Rp 288 juta! Bayangkan, uang sebesar itu bisa digunakan untuk membeli mobil mewah atau bahkan rumah di pinggiran kota!

Yang lebih mengejutkan lagi, angka ini ternyata melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga perdana saat kartu grafis dengan kapasitas memori raksasa 96GB tersebut pertama kali diperkenalkan ke pasaran pada awal 2025 lalu. Artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun, nilai investasi untuk komponen komputer ini meroket dengan kecepatan yang sulit dibayangkan.
Fenomena lonjakan harga GPU workstation ini menjadi bukti segar bahwa krisis harga komponen komputer akibat kelangkaan chip memori tidak hanya menerpa sektor RAM semata. Ternyata, kartu grafis pun ikut terseret arus kenaikan yang tak terkendali ini, membuat para profesional dan kreator digital harus merogoh kocek lebih dalam dari sebelumnya.
Mari kita telusuri perjalanan harga yang mencengangkan ini! Pada awal 2025, saat masa pre-order pertama kali dibuka, RTX Pro 6000 Blackwell masih dibanderol sekitar 7.600 dolar AS atau setara Rp 136,8 juta. Saat itu, harga tersebut sudah dianggap tinggi oleh banyak kalangan, namun ternyata itu baru permulaan dari rangkaian kenaikan yang jauh lebih drastis.
Memasuki Februari 2025, harga kartu grafis ini mulai merangkak naik menjadi sekitar 8.500 dolar AS (Rp 153 juta). Kenaikan sekitar 900 dolar dalam sebulan tentu sudah cukup membuat para calon pembeli mulai gelisah. Namun, mereka belum tahu bahwa badai kenaikan harga yang lebih dahsyat justru akan terjadi di kemudian hari.
Lompatan harga yang benar-benar mengejutkan terjadi pada Juni 2026, ketika nilai GPU tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari 13.000 dolar AS atau setara Rp 234 juta. Dalam kurun waktu sekitar 16 bulan sejak peluncuran, harga sudah hampir berlipat ganda! Para pengamat industri pun mulai angkat alis dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar produksi komponen komputer.
Kini, per Agustus 2026, harga GPU tersebut sudah menembus angka 16.000 dolar AS. Total kenaikan ini mencapai sekitar 110 persen dari harga peluncuran awalnya, sebagaimana dihimpun dari laporan TechSpot. Fenomena ini tentu menjadi pukulan telak bagi para profesional yang sangat bergantung pada perangkat keras ini untuk menunjang pekerjaan sehari-hari.
Perlu dipahami bahwa RTX Pro 6000 sendiri merupakan GPU kelas workstation yang memiliki perbedaan fundamental dari GPU kelas konsumer seperti RTX 5090 yang lebih populer di kalangan gamer. Keduanya memang sama-sama kartu grafis, namun memiliki segmen pasar dan spesifikasi yang sangat berbeda.
GPU workstation dirancang khusus untuk menangani pekerjaan berat yang membutuhkan komputasi intensif dan kapasitas memori sangat besar. Tugas-tugas seperti rendering visual effect untuk film blockbuster, desain 3D yang rumit, simulasi teknik untuk proyek infrastruktur, hingga pelatihan model kecerdasan buatan (AI) skala kecil hingga menengah, semuanya mengandalkan kekuatan GPU jenis ini. Tanpanya, para profesional di bidang tersebut akan kesulitan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan efisien.
GPU Gaming Juga Ikut Terbang Tinggi!
Tak hanya GPU kelas workstation yang merasakan dampak kenaikan harga ini. Kabar buruknya, para gamer dan penggemar PC juga harus bersiap menerima kenyataan pahit bahwa Nvidia menaikkan harga kartu grafis kelas gaming mereka hingga mencapai 150 persen dari harga peluncuran resmi. Ini bukan kabar bohong atau rumor belaka, melainkan fakta yang sudah terjadi di pasaran!
Mari kita lihat RTX 5090, yang merupakan GPU gaming andalan Nvidia saat ini. Kartu grafis yang menjadi idaman para gamer di seluruh dunia ini awalnya dijual seharga 1.999 dolar AS atau sekitar Rp 36 juta saat diluncurkan. Harga tersebut memang sudah tergolong mahal, namun masih terjangkau bagi para penggemar berat yang ingin merasakan performa gaming terbaik.
Namun, coba tebak berapa harganya sekarang? Rata-rata harga di pasar Amerika Serikat saat ini sudah mencapai angka yang mencengangkan, yakni 4.700 dolar AS atau setara Rp 84 juta! Bayangkan, kenaikan ini hampir mencapai 2,4 kali lipat dari harga awal. Fantastis bukan? Para gamer yang sebelumnya sudah menyiapkan dana untuk membeli kartu grafis ini kini harus berpikir ulang dan mungkin menabung lebih lama lagi.
Ternyata, kartu grafis kelas menengah pun tak luput dari sasaran kenaikan harga. RTX 5080 yang semula dibanderol 999 dolar AS (sekitar Rp 18 juta) kini mengalami kenaikan sekitar 15-20 persen. Begitu pula dengan RTX 5070 Ti yang awalnya dijual 749 dolar AS (Rp 13,5 juta) dan RTX 5060 Ti 16GB yang semula dibanderol 429 dolar AS (Rp 7,7 juta). Semua varian mengalami kenaikan yang cukup signifikan, membuat para pembeli harus mengeluarkan anggaran ekstra yang tidak sedikit.
Persaingan di pasar GPU pun tidak kalah panas, karena kartu grafis buatan AMD, RX 9070 XT, yang semula dijual 599 dolar AS (Rp 10,8 juta), juga sudah mengalami dua kali kenaikan harga sejak diluncurkan. Total kenaikannya mencapai 10-15 persen, menambah daftar panjang produk teknologi yang ikut terdampak oleh krisis ini.
Apa Sebenarnya Biang Keroknya?
Setelah semua fakta mencengangkan ini terungkap, pertanyaan besar yang muncul di benak semua orang adalah: apa sebenarnya penyebab utama lonjakan harga GPU yang begitu drastis ini? Jawabannya ternyata sama persis dengan krisis harga RAM yang lebih dulu terjadi. Semua bermuara pada perebutan chip memori yang dipicu oleh kebutuhan data center AI yang meledak dalam beberapa tahun terakhir.
Fakta menariknya, memori disebut menyumbang lebih dari 80 persen komponen biaya sebuah GPU kelas atas. Dengan proporsi yang begitu besar, wajar jika kenaikan harga chip DRAM dan GDDR7 langsung berdampak signifikan pada harga jual GPU secara keseluruhan. Ini seperti efek domino yang menghantam seluruh rantai pasok komponen komputer.
Lembaga riset terkemuka IDC bahkan memperkirakan bahwa data center AI bisa menyerap sekitar 70 persen dari total produksi memori global sepanjang 2026. Angka yang sangat besar ini menunjukkan betapa dahsyatnya permintaan industri AI terhadap komponen memori, sehingga produsen harus memprioritaskan pasokan untuk sektor yang paling menguntungkan ini.
Yang menarik untuk dicatat, kenaikan harga ini tidak terjadi secara instan atau sekaligus. Prosesnya berlangsung bertahap sejak awal tahun 2026. ASUS menjadi pihak pertama yang mengonfirmasi kenaikan harga pada 5 Januari 2026, yang kemudian diikuti oleh Nvidia yang ikut menaikkan harga seluruh jajaran RTX seri 50 pada Februari 2026. Keputusan Nvidia ini tentu memicu gelombang kejut di seluruh ekosistem produsen dan distributor komponen komputer.
Nvidia bahkan sempat memberi tahu mitra produksi mereka mengenai rencana kenaikan harga RTX 5090 sebesar 300 dolar AS pada 13 Mei 2026. Namun, prediksi mereka ternyata tidak sepenuhnya akurat, karena harga di pasaran terus merangkak naik hingga mencapai titik tertingginya pada Agustus 2026 ini. Pasar seolah bergerak lebih cepat dari ekspektasi, menciptakan dinamika harga yang sulit diprediksi.
Peneliti komputer terkemuka, Daniel Lemire, mengungkapkan pandangannya yang cukup mengejutkan tentang situasi ini. Ia menyebut lonjakan harga memori yang terjadi saat ini sebagai “anomali sejarah” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut analisisnya, tren kenaikan harga yang drastis ini secara efektif menghapus puluhan tahun tren penurunan harga komponen memori yang selama ini berlangsung stabil dan eksponensial.
Bayangkan, selama bertahun-tahun kita terbiasa melihat harga komponen komputer yang semakin murah seiring perkembangan teknologi. Namun, kini kita justru menyaksikan fenomena sebaliknya yang tidak terduga. Keadaan ini tentu menjadi tantangan besar bagi seluruh ekosistem teknologi, baik bagi produsen, distributor, maupun konsumen akhir yang harus menyesuaikan diri dengan realitas baru yang penuh ketidakpastian.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










