Dentmas.id — Dunia hukum baru saja diguncang! OpenAI resmi meluncurkan platform kecerdasan buatan (AI) yang menyasar langsung para pengacara dan pekerja industri hukum. Platform tersebut mereka namai Astra for Law. Lalu, apa yang membuat AI ini begitu spesial hingga banyak kalangan menyorotnya?
Pertama-tama, mari kita lihat fungsi utamanya. OpenAI membangun platform ini untuk membantu para profesional hukum mengerjakan riset hukum, menganalisis perkara maupun kontrak, menyusun dokumen, bahkan menciptakan aplikasi AI yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tiap firma. Dengan kata lain, AI ini ibarat asisten super yang siaga 24 jam di meja kerja pengacara.
Ditenagai Model Terbaru OpenAI
Menariknya, Astra for Law berdiri di atas fondasi GPT-6 Astra, yakni model AI termutakhir dan tercanggih milik OpenAI. Meski demikian, OpenAI tidak asal menumpangkan teknologinya. Sebaliknya, mereka melengkapinya dengan pengaturan, tools, dan instruksi istimewa agar model benar-benar paham seluk-beluk pekerjaan hukum profesional.
Salah satu senjata andalannya terletak pada indeks pencarian hukum khusus. Komponen ini memungkinkan Astra for Law mencari sumber hukum yang relevan, lalu menjadikannya fondasi untuk analisis. Sebagai gambaran sederhana, ketika seorang pengacara menangani suatu perkara, AI ini dapat membantu menelusuri putusan pengadilan dengan kasus serupa. Lebih jauh lagi, AI juga dipakai untuk mengidentifikasi bagian putusan mana yang relevan, sekaligus menilai seberapa kuat sumber hukum itu untuk perkara yang sedang diperjuangkan.
Dibelah Data Hukum AS yang Luar Biasa Lengkap
Nah, di sinilah kekuatan sesungguhnya terasa. Untuk menopang kemampuan tersebut, OpenAI mengisi indeks pencarian Astra for Law dengan beragam sumber hukum Amerika Serikat. Cakupannya terbentang luas, mulai dari putusan pengadilan, undang-undang, regulasi, sampai keputusan administratif.
Menurut keterangan OpenAI, seluruh sumber itu berasal dari korpus (kumpulan data teks atau bahasa, baik lisan maupun tulisan) yang menampung lebih dari 230 juta URL. Lebih hebatnya lagi, tim menghadirkan sumber-sumber baru setiap hari tanpa henti.
Selain itu, OpenAI juga menjalin kerja sama dengan Free Law Project, organisasi nirlaba yang berdiri di balik basis data hukum CourtListener. Berkat kolaborasi ini, koleksi putusan di CourtListener ikut menghuni indeks pencarian Astra for Law. Bahkan, jumlahnya mencapai lebih dari 99,9 persen putusan preseden AS yang telah dipublikasikan. Bayangkan, hampir seluruh sejarah hukum AS kini tersimpan dalam satu genggaman AI!
Namun, OpenAI mencuitkan satu penegasan penting. Mereka menegaskan bahwa sistem ini tidak dirancang untuk menggusur basis data hukum profesional yang selama ini dipakai banyak firma. Sebaliknya, indeks pencarian pada Astra for Law justru dimaksudkan untuk melengkapi konten berlisensi dan layanan khusus dari penyedia lain, semisal Thomson Reuters. Jadi, bukan perebutan kursi, melainkan pelengkap yang cerdas.
Hasil Uji yang Bikin Alis Terangkat
Lalu, seberapa jago AI ini dalam praktik? OpenAI menaruh Astra for Law di ruang uji dengan cara mengajukan 200 pertanyaan hukum di AS. Proses pengujian tersebut memanfaatkan private validation set dari Vals AI Legal Research Bench, tolok ukur yang mengukur kemampuan AI dalam menemukan sumber serta bagian dokumen yang relevan, kemudian merangkai jawaban berdasarkan hasil riset.
Dan hasilnya? Pada tingkat reasoning effort tertinggi, Astra for Law lolos pemeriksaan ketepatan keseluruhan pada 54 persen pertanyaan. Sebagai pembanding, GPT-6 Astra yang mengandalkan pencarian web hanya membukukan angka 38,7 persen pada ujian yang sama. Selisihnya terasa jauh, bukan?
Kemenangan itu tidak berhenti di situ. OpenAI mengklaim bahwa Astra for Law berhasil menemukan 24 persen lebih banyak kasus rujukan untuk pertanyaan yang berfokus pada putusan pengadilan, apabila dibandingkan dengan GPT-6 Astra berpencarian web. Sementara itu, pada uji dengan tingkat reasoning effort yang setara, Astra for Law tercatat sanggup menemukan hingga 54 persen lebih banyak bagian teks yang relevan dari putusan pengadilan yang tepat.
Siap Menyatu dengan Sistem Firma Hukum
Selanjutnya, ada kabar yang akan menyenangkan para firma hukum. OpenAI merancang Astra for Law agar dapat disesuaikan dengan sistem yang sudah berjalan di masing-masing firma. Untuk mewujudkannya, OpenAI menyiapkan 26 plugin buatan mitra yang menghubungkan ChatGPT dengan berbagai perangkat khusus industri hukum, termasuk Relativity dan Clio.
Tak berhenti di sana, perusahaan teknologi hukum semacam Harvey dan Legora pun disebut dapat memanfaatkan Astra for Law melalui API untuk membangun produk dan alur kerja versi mereka sendiri. Artinya, ekosistem ini terbuka lebar bagi inovasi lebih banyak pihak.
Sayangnya, bagi sebagian orang, momen ini masih harus menunggu. Pada tahap awal, Astra for Law hanya tersedia bagi sejumlah firma hukum terpilih melalui program Trusted Access di ChatGPT dan Codex. Jadi, bukan siapa-siapa bisa langsung mencobanya.
Kalau kamu termasuk yang beruntung mendapatkan akses, coba perhatikan penamaannya. Di model picker, AI ini akan tampil dengan nama “GPT-6 Astra Law”. Adapun di ranah API, namanya menjadi gpt-6-astra-law, sebagaimana dihimpun dari OpenAI.
Pada akhirnya, kehadiran Astra for Law menandai babak baru persaingan AI di industri hukum. Pertanyaannya sekarang: apakah para pengacara siap berbagi meja kerja dengan mesin secerdik ini? Tunggu saja kelanjutannya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










