Dentmas.id – Dunia teknologi dan keuangan China baru saja dikejutkan oleh aksi luar biasa dari produsen chip memori asal negeri Tirai Bambu, CXMT atau ChangXin Memory Technologies. Pasalnya, perusahaan yang masih sangat muda di lantai bursa ini secara mengejutkan berhasil menyalip raksasa digital Tencent dan merebut mahkota sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di China. Peristiwa monumental itu terjadi pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026, dan langsung mengguncang sentimen investor di kawasan Asia.
Yang membuat kisah ini begitu mencengangkan adalah rentang waktu yang ditempuh CXMT untuk mencapai puncak. Bagaimana tidak, perusahaan baru saja resmi melantai di Bursa Efek Shanghai pada 27 Juli 2026. Namun, dalam hitungan hari yang sangat singkat, tepatnya hanya 17 hari setelah masa penawaran saham perdana atau IPO, nilai market cap sudah melesat ke angka yang sulit dibayangkan, yakni sekitar 524 miliar dolar AS. Jika dirupiahkan, jumlah itu setara dengan Rp 9.342 triliun, sebuah angka yang fantastis untuk perusahaan yang baru berstatus perusahaan publik.
Lebih menarik lagi, lonjakan nilai tersebut terjadi di saat yang bersamaan dengan koreksi bursa, sehingga membuat prestasi ini terasa semakin istimewa. Saham CXMT dan Tencent memang sama-sama terkoreksi pada hari yang sama. Namun, penurunan saham Tencent terbukti jauh lebih dalam, terutama setelah perusahaan yang dikenal dengan aplikasi WeChat itu mengumumkan rencana belanja modal besar-besaran untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Pengumuman itu justru membuat investor khawatir terhadap margin keuntungan Tencent, sehingga sahamnya pun melorot. Di sisi lain, saham CXMT masih mampu bertahan di level atas berkat sentimen positif dari investor yang sudah terlebih dahulu membanjiri saham perusahaan ini.
Sejak hari pertama diperdagangkan, saham CXMT memang sudah menunjukkan performa gila-gilaan. Rekor fantastis pun langsung tercipta ketika sahamnya meroket hingga 466 persen pada debut perdananya. Tingginya animo pasar tidak hanya tercermin dari lonjakan harga, tetapi juga dari besarnya dana segar yang berhasil dikantongi. Melalui aksi korporasi tersebut, mereka berhasil mengumpulkan dana segar sekitar 8,5 miliar dolar AS atau setara Rp 153 triliun. Dana itu menjadi salah satu yang terbesar di sektor teknologi China tahun ini.
Tidak hanya itu, respons dari para investor ritel juga sangat luar biasa. Jumlah permintaan pembelian saham CXMT tercatat hingga 212 kali lipat dari jumlah saham yang ditawarkan. Angka ini menjadi bukti nyata betapa besarnya kepercayaan publik terhadap prospek bisnis di masa depan, terutama di tengah gempuran kebutuhan komputasi modern.
Kebagian Cuan Manis dari Gelombang AI
Lalu, apa rahasia di balik kesuksesan instan ini? Jawabannya terletak pada momentum besar industri kecerdasan buatan. Sebagai informasi, CXMT adalah produsen utama DRAM atau Dynamic Random-Access Memory, yaitu jenis chip memori yang menjadi komponen vital bagi komputer, pusat data, dan server server canggih. Saat ini, kebutuhan akan DRAM melonjak drastis seiring dengan perlombaan perusahaan teknologi global untuk membangun infrastruktur AI yang mumpuni.
Kondisi pasar yang sedang panas ini pun dimanfaatkan CXMT dengan sangat cerdik. Perusahaan yang berbasis di Hefei, Anhui ini mulai menuai berkah besar melalui kontrak-kontrak strategis untuk memasok DRAM server ke sejumlah raksasa teknologi. Pada Juni lalu, CXMT dilaporkan telah menandatangani kesepakatan monumental senilai 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 53 triliun dengan Tencent sendiri. Ironisnya, meskipun Tencent kini tergeser oleh CXMT dalam hal nilai pasar, kedua perusahaan justru terikat dalam hubungan bisnis yang kuat.
Belum genap sebulan berlalu, CXMT kembali menorehkan prestasi dengan mengamankan kontrak besar lainnya dari ByteDance, induk usaha dari platform video pendek fenomenal, TikTok. Nilai kontrak jangka panjang ini bahkan melonjak lebih tinggi, mencapai lebih dari 7 miliar dolar AS atau setara Rp 124 triliun untuk periode lima tahun ke depan. Kerja sama dengan dua raksasa digital ini secara langsung mendongkrak pendapatan CXMT.
Terbukti, kontribusi produk server terhadap pendapatan CXMT terus menunjukkan peningkatan signifikan. Data keuangan perusahaan menyebutkan, pada tahun 2024, produk server hanya menyumbang sekitar 8,4 persen dari total pendapatan. Namun, angka tersebut melonjak tajam menjadi 26,5 persen pada tahun 2025. Ini artinya, dalam waktu singkat, lini bisnis server telah menjadi motor utama pertumbuhan keuangan CXMT.
Berdasarkan data penjualan yang tertera dalam prospektus IPO, CXMT kini telah menguasai sekitar 7,67 persen pangsa pasar DRAM global pada tahun 2025. Pencapaian ini cukup impresif mengingat industri ini sebelumnya didominasi oleh pemain-pemain besar dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Lebih menggembirakan lagi, kondisi keuangan CXMT menunjukkan pemulihan yang sangat cepat. Pada kuartal I tahun 2026, CXMT berhasil mencatatkan laba operasional sebesar 35,43 miliar yuan atau sekitar Rp 93,7 triliun. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, perusahaan masih membukukan kerugian operasional hingga 2,83 miliar yuan atau sekitar Rp 7,48 triliun. Lompatan laba ini jelas menjadi daya tarik utama bagi para spekulan dan investor jangka panjang.
Masih Ada PR Besar, Target 2030 Mulai Disiapkan
Meskipun berhasil melampaui Tencent dalam hal kapitalisasi pasar, CXMT belum bisa berpuas diri. Pasalnya, di level global, mereka masih tertinggal jauh dari dua pemain utama industri DRAM, yaitu Micron Technology dan SK hynix. Saat ini, kapitalisasi pasar CXMT yang menyentuh 524 miliar dolar AS ternyata masih sekitar setengah dari nilai Micron yang mencapai 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp 17,82 kuadriliun. Begitu pula dengan SK hynix yang nilainya mencapai 880 miliar dolar AS atau setara Rp 15,68 kuadriliun, masih sekitar 60 persen lebih besar dibandingkan CXMT.
Namun, ambisi CXMT tidak berhenti di situ. Perusahaan telah menetapkan target ambisius untuk merebut 30 persen pangsa pasar DRAM global pada tahun 2030 mendatang. Untuk mewujudkan mimpi besar ini, manajemen CXMT berencana membangun fasilitas produksi skala besar keenam mereka. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya produksi agar lebih kompetitif.
Kendati begitu, jalan menuju puncak masih terjal. CXMT disebut masih menghadapi kendala serius dalam hal pengembangan teknologi chip. Perusahaan mengakui bahwa mereka belum memiliki peralatan litografi EUV atau Extreme Ultraviolet Lithography yang saat ini sudah menjadi senjata utama para pesaingnya. Peralatan ini sangat krusial untuk memproduksi chip dengan ukuran nanometer yang lebih kecil, efisien, dan bertenaga. Tanpa akses terhadap teknologi mutakhir tersebut, CXMT harus bekerja ekstra keras melalui jalur inovasi mandiri agar tidak tertinggal dalam perlombaan teknologi yang semakin ketat ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










