Dentmas.id – Tunggu-tunggu akhirnya berakhir juga! Drama panjang pemblokiran TikTok di Amerika Serikat (AS) tampaknya sudah menemukan titik terang yang sangat menggembirakan. Pasalnya, AS dan China konon kabarnya baru saja menandatangani sebuah kesepakatan bersejarah terkait nasib TikTok di Negeri Paman Sam pada Kamis (22/1/2026). Alhasil, platform media sosial raksasa itu pun bisa bernafas lega karena terhindar dari ancaman mati suri di pasar terbesarnya.
Kesepakatan Rahasia Akhirnya Terbongkar
Tentu saja, sebuah sumber pejabat tinggi Gedung Putih dengan yakin mengonfirmasi kabar gembira ini. Menurutnya, kedua negara adidaya itu secara resmi telah membubuhkan tanda tangan pada dokumen kesepakatan divestasi atau pemisahan bisnis TikTok di AS. Hebatnya, bisnis TikTok selanjutnya akan diambil alih oleh sebuah perusahaan patungan baru yang sepenuhnya beroperasi di Amerika. Dengan demikian, operasional TikTok nantinya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ByteDance, perusahaan induk asal China yang selama ini menuai kecurigaan.
Sayangnya, detail-detail super rahasia dari kesepakatan monumental ini masih belum diumbar ke publik. Meski begitu, sebuah sumber dalam yang dikutip oleh media ternama Semafor memberikan bocoran menarik. Sumber tersebut menyebutkan bahwa seluruh proses finalisasi kesepakatan ini dipastikan akan rampung hanya dalam hitungan minggu ini saja. Bayangkan, perundingan alot yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya mencapai garis finish!
Pemain Baru di Balik Layar TikTok AS
Nah, perlu kamu ketahui bahwa latar belakang dari kesepakatan ini adalah Undang-Undang Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act. Inti dari UU ini sebenarnya sederhana: mereka memaksa ByteDance untuk melepas kendali atas TikTok di AS, baik dengan menjadikannya perusahaan mandiri maupun menjualnya ke perusahaan yang jelas-jelas bukan berasal dari China. Pada akhirnya, pilihan jatuh pada skema divestasi yang lebih rumit namun mengakomodir banyak kepentingan.
Sebelumnya, CEO TikTok, Shou Chew, sebenarnya sudah memberikan isyarat melalui memo internalnya di akhir 2025 lalu. Dalam memo itu, Chew mengungkapkan bahwa bisnis TikTok di AS nantinya akan dijalankan oleh sebuah konsorsium mega kuat. Konsorsium tersebut akan dipimpin oleh raksasa teknologi Oracle dan firma investasi papan atas, Silver Lake. Bahkan, Chew juga menyebut bahwa ByteDance sudah lebih dulu menandatangani perjanjian pembentukan entitas baru untuk memuluskan jalan TikTok di AS.
Pembagian Kue Saham dan Nilai Fantastis
Lalu, bagaimana pembagian kekuasaannya? Berdasarkan ketentuan perjanjian yang berhasil diintip, ByteDance akan tetap mempertahankan hampir 20 persen saham di entitas baru tersebut. Sementara itu, konsorsium pimpinan Oracle akan menguasai porsi 15 persen saham. Tak ketinggalan, sederet investor kelas kakap lainnya juga ikut meramaikan konsorsium ini. Di antaranya adalah MGX, perusahaan investasi Uni Emirat Arab yang fokus pada AI, serta taipan-taipan seperti Michael Dell, Lachlan, dan Rupert Murdoch.
Pertanyaan besarnya: berapa sih nilai TikTok AS setelah didivestasi? Meski angka pastinya masih jadi misteri, Wakil Presiden AS, JD Vance, sudah lebih dulu memproyeksikan nilai yang fantastis. Menurutnya, TikTok AS kelak akan bernilai sekitar 14 miliar dolar AS atau jika dirupiahkan mencapai angka gila-gilaan: sekitar Rp 235,5 triliun! Coba bayangkan, transaksi sebesar itu pasti akan tercatat dalam sejarah ekonomi digital dunia.
Misteri Algoritma dan Sikap Dingin Para Pihak
Namun, satu misteri paling besar masih tersisa: bagaimana nasib algoritma ajaib TikTok yang membuat kita semua kecanduan? Walaupun laporan-laporan sebelumnya sempat beredar, dikabarkan bahwa Oracle dan kawan-kawan akan menerima salinan kode algoritma tersebut dari ByteDance. Selanjutnya, algoritma legendaris itu akan melalui proses tinjauan dan pelatihan ulang secara ketat agar benar-benar sesuai dengan selera dan regulasi pengguna AS. Nah, memo dari bos TikTok akhir tahun lalu juga menegaskan bahwa entitas baru inilah yang akan memegang kendali penuh atas perlindungan data, moderasi konten, hingga keamanan algoritma.
Terlepas dari semua laporan yang menggemparkan itu, anehnya pihak-pihak kunci seperti Departemen Keuangan AS, Gedung Putih, Oracle, hingga Silver Lake sama sekali belum memberikan tanggapan resmi. Begitu pula dengan juru bicara kedutaan besar China untuk AS yang tampaknya memilih bermain aman. Mereka hanya berkomentar singkat bahwa posisi China terkait TikTok memang sudah konsisten dan jelas sejak awal. “Saya tidak punya hal baru lainnya untuk dibagikan sekarang,” begitulah kira-kira pernyataan diplomatis yang dihimpun dari Semafor.
Jadi, apa arti semua ini buat kita sebagai pengguna? Kesepakatan ini jelas merupakan kompromi politik-ekonomi yang sangat rumit, namun menunjukkan keahlian para negosiator dari kedua negara. Proses panjang dan transparansi informasi parsial yang ada menunjukkan adanya otoritas dari lembaga-lembaga yang terlibat. Niat baik untuk melindungi data pengguna AS, meski diwarnai kepentingan geopolitik, tetap menjadi dasar utama. Pengalaman pengguna global TikTok akhirnya menjadi pertimbangan utama, sehingga platform ini tidak dihilangkan begitu saja. Dengan kata lain, TikTok telah melalui ‘operasi besar’ untuk bertahan, dan kita semua akan menunggu bagaimana wajah barunya di AS nanti. Satu hal yang pasti: dunia digital sekali lagi membuktikan bahwa ia lebih kuat dari sekat-sekat perang dagang mana pun!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










