Dentmas.id – Tiga youtuber papan atas dari Amerika Serikat baru saja melayangkan gugatan keras kepada Snap, perusahaan induk Snapchat. Mereka menuduh Snapchat dengan sengaja melanggar hak cipta secara besar-besaran. Lebih celaka lagi, Snap diduga secara diam-diam memanfaatkan video-video kreator ini sebagai “bahan bakar” untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) milik mereka. Bayangkan saja, karya yang mereka susah payah buat ternyata diambil begitu saja untuk kepentingan komersial perusahaan raksasa!

Baca Juga: Sebelum Jadi Ikon Minimalis, Logo Apple Justru Penuh Gambar dan Kata
Kreator Besar dengan Jutaan Subscriber Jadi Korban
Ketiga youtuber ini bukanlah pemain kecil, lho! Totalnya, mereka menghimpun sekitar 6,2 juta subscriber yang setia. Mari kita kenali siapa saja mereka: pertama, ada channel “h3h3” yang sangat populer dengan 5,52 juta subscriber. Kemudian, dua channel niche golf yang juga besar, yaitu MrShortGame Golf dan Golfholics. Jadi, gugatan ini benar-benar datang dari kreator yang memiliki pengaruh dan basis penonton yang sangat solid.
Baca Juga: Langkah Berani Modder China: Rakit Ulang PS5, Xbox, dan Switch 2 Jadi Konsol Hybrid
Lantas, apa buktinya? Ketiganya dengan yakin menduga bahwa Snap secara ilegal “memberi makan” sistem AI-nya dengan konten mereka. Hasilnya, AI tersebut kemudian Snap gunakan untuk fitur-fitur canggih seperti “Imagine Lens”. Fitur ini, seperti yang kita tahu, memungkinkan para pengguna Snapchat mengedit gambar hanya dengan perintah teks. Jadi, bisa dibilang, kreativitas para youtuber inilah yang membuat fitur Snapchat menjadi semakin pintar dan menarik.
Dataset Akademis Disalahgunakan untuk Bisnis?
Nah, ini yang semakin membuat tuduhan ini terdengar kuat. Snap diduga memakai sebuah dataset raksasa bernama HD-VILA-100M. Dataset ini berisi jutaan video yang sudah dilengkapi dengan deskripsi teksnya. Awalnya, dataset ini dirancang dan dilisensikan hanya untuk tujuan akademis dan penelitian murni. Namun, Snap secara licin diduga menyalahgunakannya untuk tujuan komersial. Tindakan ini jelas-jelas melanggar ketentuan layanan YouTube dan batasan lisensi yang ada.
Baca Juga: Peringatan CEO Nvidia, Jensen Huang di WEF: Negara yang Abai Bangun AI Akan Tertinggal
Intinya, mereka memakai barang yang “bukan untuk dijual” untuk mencari keuntungan. Menariknya, Snap tidak sendirian menjadi sasaran kemarahan para kreator ini. Mereka juga menggugat perusahaan-perusahaan teknologi lain seperti Nvidia, Meta, hingga ByteDance dengan kasus yang serupa. Ini menunjukkan bahwa masalah penyalahgunaan konten untuk AI bukanlah kasus isolasi, melainkan sebuah pola yang dilakukan banyak perusahaan besar. Mereka seolah-olah menganggap konten di internet sebagai “buffet gratis” untuk teknologi AI mereka.
Baca Juga: Dokumen Ungkap, Microsoft Beri FBI Akses ke Data Terenkripsi BitLocker
Gugatan Besar yang Bisa Ubah Masa Depan Konten Digital
Gugatan class action yang serius ini rencananya akan diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Pusat California. Tuntutan mereka sangat jelas: mereka menuntut ganti rugi atas kerugian yang mereka alami. Tidak hanya itu, mereka juga meminta perintah pengadilan untuk menghentikan semua dugaan pelanggaran hak cipta ini di masa depan. Jadi, tujuan mereka bukan sekadar uang, tapi juga memperbaiki ekosistem digital agar lebih adil untuk kreator.
Perlu kita catat, kasus ini menambah panjang daftar perlawanan para kreator konten terhadap perusahaan pengembang AI. Belakangan ini, gugatan serupa juga dilayangkan oleh berbagai pihak, mulai dari penerbit buku, penulis, koran, hingga seniman visual. Menurut organisasi nirlaba Copyright Alliance, sudah ada lebih dari 70 kasus pelanggaran hak cipta yang menjerat perusahaan-perusahaan AI.
Baca Juga: Pandangan Mulai Buram Setelah Seharian di Depan Layar? Waspadai Computer Vision Syndrome!
Artinya, gelombang protes terhadap praktik “menjarah” konten ini semakin besar! Bagaimana hasilnya nanti? Memang, belum ada kepastian karena perjalanan hukum masih panjang. Sebagai contoh, dalam gugatan sekelompok penulis kepada Meta, hakim memutuskan untuk berpihak pada Meta. Namun, di kasus lain seperti antara Anthropic dan sekelompok penulis, justru dicapai kesepakatan damai dimana Anthropic setuju membayar penggugat. Hasil yang beragam ini membuat akhir dari gugatan youtuber versus Snap dkk ini menjadi sangat menarik untuk diikuti.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










