Dentmas.id – Di tengah panasnya persaingan kecerdasan buatan global, Mark Zuckerberg justru melontarkan pendapat kontroversial yang bertolak belakang dengan sikap pemerintah negaranya sendiri. Bos Meta itu dengan tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat sebaiknya menghentikan niat memblokir teknologi AI buatan China jika ingin memenangkan pertarungan teknologi abad ini.
Pernyataan mengejutkan ini mengalir dalam wawancara eksklusif Zuckerberg dengan media ternama Financial Times yang terbit pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, pendiri Facebook itu dengan gamblang mengkritik kebijakan pembatasan yang justru dianggapnya kontraproduktif bagi kemajuan teknologi AS sendiri.
Blokade Justru Bikin AS Tertinggal, Kata Bos Meta
Menurut pandangan Zuckerberg, kebijakan pelarangan terhadap produk AI China sama sekali bukanlah senjata ampuh untuk menghadapi persaingan yang kian memanas. Ia malah mendorong perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk melakukan introspeksi dan mengidentifikasi secara sistematis berbagai hambatan internal yang selama ini menghalangi laju inovasi di negeri Paman Sam.
Pernyataan berani ini muncul pada momen krusial ketika Washington tengah sibuk memperdebatkan arah kebijakan AI mereka. Isu tentang bagaimana merespons perkembangan pesat perusahaan AI China pun menjadi topik hangat di koridor kekuasaan AS. Bahkan, beberapa petinggi di pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menuding perusahaan AI China, Moonshot AI, secara diam-diam memanfaatkan model AI buatan perusahaan AS untuk melatih produk terbarunya, Kimi K3. Meski demikian, Moonshot AI dengan tegas membantah tudingan miring tersebut.
Tak berhenti di situ, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada laboratorium AI China apabila terbukti melakukan pencurian kekayaan intelektual. Ancaman sanksi ini pun menambah daftar panjang ketegangan teknologi antara dua negara adidaya tersebut.
Robot China Dilarang, AS Kian Ketar-ketir
Menariknya, pernyataan Zuckerberg ini disampaikan sehari setelah pemerintah AS secara mengejutkan mengumumkan larangan impor robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri. Keputusan ini secara otomatis memukul sebagian besar produk dari China yang selama ini membanjiri pasar AS. Pemerintah AS beralasan bahwa perangkat-perangkat canggih tersebut menimbulkan “risiko yang tidak dapat diterima” terhadap keamanan nasional mereka. Selain robot, kebijakan larangan ini juga mencakup power inverter atau konverter daya yang digunakan pada infrastruktur energi terbarukan dan jaringan listrik.
Langkah kontroversial Washington ini menjadi batu loncatan terbaru bagi upaya AS memperkuat industri dalam negeri sekaligus mengamankan rantai pasok teknologi strategis. Semua ini terjadi di tengah persaingan yang semakin sengit dengan China dalam pengembangan AI dan teknologi mutakhir lainnya, sebagaimana dihimpun dari laporan CNN pada Kamis (30/7/2026).
Peringatan Keras: AI Supercerdas Jangan Dimonopoli!
Di luar isu blokade teknologi, Zuckerberg juga baru saja menuangkan pemikirannya dalam opini tajam di The Wall Street Journal (WSJ). Dalam tulisannya, ia mengupas tuntas tentang fase berikutnya dari kecerdasan buatan yang disebutnya “supercerdas” atau superintelligence. Pendiri Facebook itu dengan lantang menyatakan bahwa teknologi AI seharusnya terbuka dan dapat diakses oleh semua kalangan agar mampu mendorong inovasi serta menciptakan peluang-peluang baru yang tak terbatas.
Pertanyaan paling krusial di era AI, menurut Zuckerberg, bukan lagi tentang kapan superintelligence akan hadir. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah siapa yang nantinya akan memegang kendali akses terhadap teknologi tersebut. “Akankah superintelligence dipusatkan dan dibatasi hanya untuk segelintir institusi, atau justru menjadi alat yang memberdayakan semua orang?” tulisnya dengan nada kritis dalam opini tersebut.
Dalam tulisannya yang menggugah itu, bos Meta ini mengusulkan pendekatan revolusioner yang berfokus pada pemberdayaan individu. Baginya, AI seharusnya berfungsi sebagai alat untuk membantu manusia berinovasi, bukan menjadi teknologi yang terkonsentrasi di tangan segelintir pihak yang berkuasa. Ia pun dengan berani mengkritik pandangan sebagian pengembang AI yang menganggap teknologi tersebut sangat berbahaya sehingga harus dikendalikan oleh segelintir perusahaan atau lembaga saja.
Zuckerberg dengan tegas mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan pemusatan kekuasaan jarang sekali membawa dampak positif bagi masyarakat luas. “Harapan bahwa kekuasaan absolut akan bertindak demi kepentingan umat manusia tidak pernah benar-benar menghasilkan masa depan yang aman maupun positif,” ujarnya dengan nada skeptis.
Pendiri Facebook itu meyakini bahwa kemajuan teknologi selama ini justru lahir ketika lebih banyak orang memiliki akses terhadap alat dan sumber daya yang sama. Ia mencontohkan berbagai inovasi besar, mulai dari pesawat terbang hingga komputer pribadi, yang ternyata berasal dari individu maupun kelompok kecil, bukan institusi besar. Karena itu, ia menegaskan bahwa AI supercerdas harus menjadi alat yang dapat membantu setiap orang mewujudkan ide dan mengembangkan potensinya tanpa batasan.
Zuckerberg juga mengingatkan risiko mengerikan jika teknologi tersebut hanya dimiliki oleh segelintir perusahaan atau institusi. Menurut analisisnya, pihak yang menguasai AI supercerdas berpotensi memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi, sains, hingga politik. Hal ini pada akhirnya dapat membatasi kebebasan masyarakat dalam menentukan masa depannya sendiri. Untuk mengatasi ancaman tersebut, ia mendukung adanya koordinasi erat antara pemerintah dan berbagai institusi dalam menerapkan AI secara bertanggung jawab.
Di tengah tensi geopolitik yang memanas, pernyataan Zuckerberg ini jelas memberikan warna baru dalam perdebatan kebijakan AI global. Sikapnya yang terbuka dan inklusif menjadi antitesis dari kebijakan proteksionisme yang tengah digalakkan pemerintah AS. Pertanyaannya kini, akankah Washington mendengarkan suara salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh di dunia ini? Atau justru akan terus memaksakan kebijakan blokade yang berisiko mengisolasi diri sendiri dari arus utama inovasi global? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










