Dentmas.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) secara resmi memanggil raksasa teknologi, Meta. Panggilan ini jelas menjadi buntut dari laporan menghebohkan mengenai dugaan kebocoran data pribadi 17,5 juta pengguna Instagram di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), Meta pun harus segera mempertanggungjawabkan kejadian ini kepada pemerintah.
Awal Mula Temuan Kebocoran Data

Awalnya, perusahaan keamanan siber Malwarebytes-lah yang membongkar fakta mengejutkan ini. Mereka menemukan banyak pengguna, termasuk di Indonesia, tiba-tiba mendapatkan email permintaan reset password untuk akun Instagram mereka sendiri tanpa alasan yang jelas. Dugaan sementara, insiden ini berpotensi mengguncang 17,5 juta akun secara global. Lebih lanjut, Malwarebytes menduga kuat kebocoran ini bersumber dari pihak ketiga di luar sistem Instagram.
Klarifikasi dan Penjelasan Resmi Meta
Merespons temuan kritis ini, Komdigi dengan sigap menggelar pertemuan klarifikasi bersama Meta pada 14 Januari 2026. Selanjutnya, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar, membeberkan penjelasan resmi dari Meta. Dalam pertemuan tersebut, Meta berkeras bahwa mekanisme reset password yang berjalan adalah prosedur internal standar melalui saluran resmi Instagram. Meta dengan tegas mengklaim, mekanisme ini sama sekali tidak memberikan akses kata sandi pengguna kepada pihak manapun.
Alexander pun mengutip pernyataan resmi Komdigi, “Tidak ada password pengguna yang dapat diakses atau diperoleh oleh pihak mana pun selain oleh pemilik akun itu sendiri. Selain itu, kami juga tidak menemukan indikasi penyalahgunaan fitur reset password untuk pengambilan data oleh pihak eksternal.” Meski begitu, proses pendalaman masih terus berlanjut dan hasilnya akan menjadi dasar evaluasi lanjutan.
Alexander menegaskan, kewenangan untuk memanggil dan meminta klarifikasi dari PSE seperti Meta telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019. Di sisi lain, ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah termakan oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Tak lupa, ia mendorong semua orang untuk terus meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga keamanan akun digitalnya masing-masing.
Analisis dan Peringatan dari Pakar Keamanan
Lalu, bagaimana tanggapan Meta sendiri? Ternyata, Meta sudah lebih dulu buka suara mengenai gugatan ini. Melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (11/1/2026), Instagram mengakui adanya masalah yang memungkinkan pihak eksternal mengirimkan permintaan reset password ke sejumlah pengguna. Akan tetapi, mereka bersikukuh bahwa sistem inti Instagram tetap aman dan tidak terjadi kebocoran data. “Kami sudah memperbaiki masalah yang memungkinkan pihak luar mengirim permintaan email terkait pengaturan ulang kata sandi,” tegas Instagram melalui platform X. “Tidak ada pelanggaran terhadap sistem kami dan akun Instagram Anda aman. Anda bisa mengabaikan email tersebut. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” tambah pernyataan itu.
Menariknya, klarifikasi Meta ini justru sejalan dengan analisis mendalam dari Malwarebytes. Perusahaan keamanan siber itu menduga, kebocoran data ini sangat mungkin bersumber dari celah API Instagram yang terjadi pada 2024. Dataset raksasa itu kemudian diduga dipublikasikan ulang oleh oknum tak bertanggung jawab di dark web pada 7 Januari 2026. Dalam unggahannya, oknum itu bahkan mengklaim dataset tersebut berisi lebih dari 17 juta data pengguna dalam format JSON dan TXT, dengan target pengguna dari berbagai negara. Berdasarkan contoh data yang ditampilkan, Malwarebytes membenarkan bahwa informasi yang bocor adalah data mentah Instagram, seperti username, alamat email, nomor telepon, hingga user ID.
Struktur data yang sangat rapi dan konsisten itu dinilai sangat menyerupai respons API. Oleh karena itu, dugaan bahwa data dikumpulkan melalui celah API, integrasi pihak ketiga, atau konfigurasi sistem yang tidak aman pun semakin menguat. Malwarebytes juga memberikan peringatan serius: lonjakan notifikasi reset password ini bisa dimanfaatkan untuk serangan phishing yang lebih ganas. Pasalnya, karena password tidak bocor, para hacker akan terus-menerus membanjiri inbox korban dengan email reset password palsu. Aktivitas jahat ini berpotensi besar mengelabui korban sehingga akunnya akhirnya bisa diambil alih. Perlu diingat, phishing adalah trik penipuan digital di mana pelaku menyamar sebagai lembaga resmi melalui email untuk mencuri informasi pribadi korbannya, biasanya dengan mengarahkan korban ke situs palsu.
Langkah Penting untuk Melindungi Akun Anda
Lantas, bagaimana cara melindungi diri? Tenang, ada beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan. Pertama-tama, jika Anda mendapatkan email reset password padahal tidak memintanya, sebaiknya email itu langsung Anda abaikan saja. Kedua, meski Instagram menyatakan tidak ada pelanggaran data, Anda harus proaktif menambahkan lapisan keamanan ekstra. Salah satu cara terpenting adalah dengan segera mengaktifkan fitur otentikasi dua langkah (2FA). Fitur ini akan membuat akun Anda jauh lebih sulit diretas.
Selanjutnya, lakukan pemeriksaan rutin terhadap perangkat yang terhubung ke akun Instagram Anda. Dengan cara ini, Anda bisa memantau dan mengusir pihak tak dikenal yang mungkin menyusup ke akun Anda. Terakhir dan tak kalah krusial, selalu waspada terhadap tautan mencurigakan di email. Jangan pernah sekalipun Anda mengklik tautan dari sumber yang tidak Anda kenal atau tidak Anda harapkan. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, keamanan akun digital Anda bisa lebih terjaga. Bagaimanapun, di era serba digital ini, kewaspadaan adalah tameng terbaik kita.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










