Dentmas.id – Integritas akademik di era digital benar-benar mengalami guncangan hebat! Bagaimana tidak, sebuah skandal kecurangan canggih yang melibatkan kecerdasan buatan (AI) baru saja meledak dan menerjang sejumlah universitas paling bergengsi di Korea Selatan. Lebih mencengangkan lagi, skandal memalukan ini secara simultan menjerat tiga raksasa pendidikan, yaitu Seoul National University, Yonsei University, dan Korea University.
Kecurangan Massal di Yonsei University: 190 Mahasiswa Terjebak!

Selanjutnya, insiden paling spektakuler dan terstruktur ternyata terjadi di Yonsei University. Sungguh mengejutkan, sekitar 190 mahasiswa akhirnya tertangkap basah melakukan kecurangan sistematis selama ujian tengah semester (UTS) untuk mata kuliah pemrosesan bahasa alami. Lebih lanjut, mata kuliah daring yang diikuti oleh 600 mahasiswa ini ternyata menggunakan sistem ujian pilihan ganda yang dengan mudah mereka manfaatkan untuk kecurangan massal. Pada akhirnya, masalah besar ini pun terbongkar setelah sebuah jajak pendapat di forum online mahasiswa Yonsei secara mengejutkan menunjukkan bahwa 190 dari 353 responden dengan berani mengaku telah menggunakan metode tidak sah selama ujian berlangsung.
Menanggapi hal ini, seorang profesor pengampu mata kuliah tersebut langsung berjanji akan mengambil tindakan tegas tanpa kompromi. Sebagai konsekuensinya, mahasiswa yang bersedia menyerahkan diri akan menerima nilai nol di UTS, namun mereka berhasil terhindar dari sanksi lanjutan yang lebih berat. Sebaliknya, bagi mereka yang nekat tidak mengaku, ancaman skorsing berat sesuai peraturan kampus telah menanti.
Kecurangan Tersebar: SNU dan Korea University Ikut Terjebak!
Di sisi lain, kasus serupa juga turut mencuat dengan keras di Seoul National University (SNU). Terutama dalam UTS mata kuliah statistik pada Oktober lalu, sejumlah mahasiswa SNU ketahuan menggunakan tools AI untuk menyelesaikan soal-soal ujian. Yang membedakan, ujian di SNU justru dilakukan secara tatap muka di dalam kelas, dan peringatan larangan penggunaan AI sebelumnya telah diberikan secara eksplisit. Akibatnya, pihak universitas kini sedang mempertimbangkan dengan serius untuk membatalkan seluruh hasil UTS dan segera melakukan ujian ulang yang lebih ketat.
Bukan hanya itu, gelombang kecurangan lain juga berhasil terpantau di Korea University. Lebih parah lagi, sekitar 500 dari 1.400 mahasiswa mata kuliah Massive Open Online Class (MOOC) tertangkap basah bertukar jawaban dalam group chat secara massal saat ujian sedang berlangsung.
Suara Mahasiswa: Menuntut Keadilan dan Mengakui Realita AI
Meskipun banyak mahasiswa yang jujur menuntut sanksi tegas bagi semua pelaku, mereka secara terbuka mengakui bahwa penggunaan alat digital, termasuk AI, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan belajar zaman sekarang. “AI adalah alat yang sangat diperlukan mahasiswa saat ini,” ujar Woo Jung-sik, mahasiswa senior Hanyang University, seperti dikutip dari KoreaTimes. Pernyataan ini jelas menggambarkan realitas yang tidak bisa lagi dipungkiri.
Namun, di lain pihak, banyak mahasiswa di komunitas Korea University justru mengkritik tajam pihak fakultas karena dinilai baru bertindak setelah skandal pecah. Mereka dengan lantang menilai, memberikan hukuman tanpa didahului aturan yang jelas terkait integritas akademik di pembelajaran jarak jauh adalah sebuah ketidakadilan yang nyata.
Baca Juga: OpenAI Dengarkan Keluhan Pengguna, Sekarang Bisa Nonaktifkan “Ciri Khas” Em Dash di ChatGPT
Sorotan Pakar: Sistem Pendidikan Tradisional Sudah Usang!
Selanjutnya, Professor Park Joo-ho dari Hanyang University dengan tegas menekankan bahwa skandal ini sebenarnya menunjukkan tantangan yang jauh lebih dalam, yaitu sistem pendidikan tradisional yang dinilainya tidak lagi relevan di era AI. “Pada era AI yang berubah cepat ini, tugas yang dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan AI telah kehilangan maknanya,” timpal seorang mahasiswa senior bernama Kim, memperkuat pernyataan profesor tersebut.
Sebagai kesimpulan, para ahli akhirnya menyimpulkan bahwa universitas-universitas di Korea Selatan harus segera dan tanpa ditunda lagi menetapkan panduan akademik yang jelas dan rinci mengenai penggunaan AI. “Mustahil melarang total penggunaan AI,” kata Professor Song Ki-chang dengan tegas. Namun, dia juga memperingatkan bahwa tanpa standar yang jelas dan tegas, ketergantungan mahasiswa pada AI bisa dengan cepat berubah menjadi masalah serius yang menggerogoti fondasi pendidikan.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










