Jakarta, dentmas.id – Taiwan lagi bikin gebrakan! Negeri kecil yang jadi raja chipset dunia ini dengan tegas menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk bagi-bagi kapasitas produksi chip. Wakil Perdana Menteri Taiwan, Cheng Li-chiun, langsung angkat bicara, “Kami nggak pernah janji buat bagi produksi chipset 50:50 sama AS. Tenang aja, bro!” ucapnya usai pulang dari negosiasi di AS, seperti dilansir Kompas.com pada 6 Oktober 2025.
Permenitnaan ini bukan main-main. AS, lewat Menteri Perdagangan mereka, Howard Lutnick, sempat bikin heboh dengan ngomongin konsep Silicon Shield. Apa sih itu? Ini kayak “perisai” Taiwan di panggung dunia karena mereka punya Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), raksasa chipset yang nguasain pasar global. Chip buatan TSMC ada di mana-mana, mulai dari smartphone, laptop, sampe mobil listrik. Jadi, posisi Taiwan ini kuat banget, apalagi di tengah tensi geopolitik sama China.
Lutnick bilang, AS pengen setengah dari produksi chipset TSMC biar bisa “melindungi” Taiwan. “Kalau kalian pegang 95 persen, gimana caranya aku bantu lindungin kalian?” katanya dalam wawancara sama News Nation. Maksudnya, kalau AS punya setengah kapasitas produksi, mereka bisa lebih leluasa ngatur strategi, terutama kalau China bikin ulah. Tapi, Taiwan kayaknya nggak mau disetir gitu aja. Mereka sadar, chip adalah kartu as mereka di meja geopolitik.
Latar Belakang Drama Chipset
Kenapa sih chip ini jadi rebutan? TSMC adalah jawaranya. Mereka produksi chip dengan teknologi canggih, sampe level 5 nanometer, yang bikin gadget kita makin kenceng dan efisien. Bayangin, hampir semua brand teknologi besar—Apple, NVIDIA, Qualcomm—ngandelin TSMC. Jadi, siapa yang ngontrol TSMC, dia yang pegang kendali ekonomi digital dunia.
AS sendiri lagi getol bangun industri chip di dalam negeri lewat CHIPS Act, tapi tetep aja ketergantungan sama Taiwan. Makanya, mereka pengen TSMC buka lebih banyak pabrik di AS atau paling nggak alihin sebagian produksi ke sana. Tapi, Taiwan nggak gitu antusias. Selain soal bisnis, ini juga soal keamanan nasional. Kalau produksi chip dibagi-bagi, Silicon Shield Taiwan bisa melemah, dan itu bikin mereka rentan, apalagi sama tetangganya, China.
Ketegangan Geopolitik: China Masuk Frame
Bicara soal China, hubungan mereka sama Taiwan memang lagi panas-panasnya. Beijing ngotot bilang Taiwan bagian dari wilayah mereka, sementara Taiwan bersikukuh mereka negara berdaulat. Presiden China, Xi Jinping, bahkan pernah bilang siap pakai “cara apa aja” buat satuin Taiwan, termasuk opsi militer. Nah, di tengah situasi ini, AS jadi semacam “kawan dekat” Taiwan, meski nggak punya hubungan diplomatik resmi. AS sering kasih dukungan lewat perdagangan, terutama di sektor chip.
Tapi, hubungan AS-China juga nggak kalah ribet. Beberapa tahun terakhir, keduanya sempat perang tarif dan saling tuding soal teknologi. AS juga pernah tekan Taiwan buat batasi ekspor chip ke perusahaan China kayak Huawei dan SMIC. Jadi, permintaan AS kali ini bikin Taiwan was-was. Kalau nurutin AS, bisa-bisa mereka kehilangan keunggulan kompetitif. Kalau nggak nurut, hubungan sama AS bisa renggang. Dilema banget, kan?
Respons Taiwan: Kami Bukan Pushover!
Penolakan Taiwan nggak cuma dari Wakil PM Cheng Li-chiun. Beberapa politisi lain juga ikut bersuara, meski belum jelas apakah TSMC langsung terlibat dalam negosiasi ini. Yang pasti, Taiwan nggak mau kehilangan Silicon Shield mereka. Ini bukan cuma soal duit, tapi juga soal posisi tawar di dunia. Kalau produksi chip dialihin ke AS, Taiwan bisa kehilangan pengaruh, dan itu riskan banget di tengah ancaman dari China.
TSMC sendiri udah punya rencana ekspansi ke AS, kayak bangun pabrik di Arizona. Tapi, itu lebih ke diversifikasi, bukan berarti mereka mau bagi kuota produksi seenaknya. Lagian, buat TSMC, produksi di Taiwan jauh lebih efisien karena infrastruktur dan tenaga kerja udah top-notch. Pindahin produksi ke AS artinya nambah biaya, dan itu nggak gampang.
Apa Artinya Buat Kita?
Buat kita di Indonesia, drama ini mungkin terasa jauh, tapi dampaknya nyata. Chip dari TSMC ada di gadget yang kita pake sehari-hari. Kalau pasokan chip terganggu gara-gara ketegangan geopolitik, harga gadget bisa melambung. Belum lagi, Indonesia juga lagi coba masuk ke pasar semikonduktor, jadi kita perlu ngeliatin gimana “pemain besar” kayak Taiwan dan AS mainkan kartunya.
Selain itu, ini juga pelajaran soal kedaulatan teknologi. Taiwan pinter banget ngejaga Silicon Shield mereka sebagai alat tawar. Indonesia bisa belajar dari sini buat bangun industri teknologi yang kuat, biar nggak cuma jadi penutup pasar, tapi juga pemain kunci.
Apa Selanjutnya?
Sementara ini, Taiwan keliatannya bakal tetep main keras. Mereka sadar betul kalau chip adalah senjata utama mereka. AS mungkin bakal terus desak, tapi Taiwan nggak bakal gampang ngalah. Di sisi lain, China pasti ngintip situasi ini sambil nyiapin strategi sendiri. Yang jelas, dunia teknologi lagi di persimpangan seru, dan Taiwan masih jadi pusat perhatian.
Jadi, apa kabar Silicon Shield? Masih kuat, bro! Tapi, dengan semua drama ini, kita cuma bisa nunggu apa langkah selanjutnya dari Taiwan, AS, dan China. Stay tuned, ya!
kunjungi laman berita ekslusif di Indonesiaartnews.or.id










