Dentmas.id – Dunia maya kembali diguncang skala besar! Kini terungkap bahwa Meta, raksasa media sosial itu, diduga kuat menyembunyikan temuan krusial dari riset internalnya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, riset tersebut membuktikan bahwa produk-produk andalannya, Facebook dan Instagram, secara nyata dapat merusak kesehatan mental penggunanya. Selanjutnya, tuduhan serius ini bermula dari dokumen pengadilan versi lengkap yang belum disunting, yang dengan gencar diajukan dalam gugatan class action oleh puluhan distrik sekolah di Amerika Serikat.
Riset kontroversial yang menjadi pusat badai ini bernama Project Mercury, yang secara mengejutkan telah Meta jalankan sekitar lima tahun silam. Yang bikin merinding, studi ini justru menemukan fakta yang berlawanan dengan narasi publik Meta selama ini. Sebagai contoh, pengguna yang berhenti memakai Facebook dan Instagram hanya dalam waktu satu minggu saja melaporkan penurunan signifikan pada tingkat depresi, kecemasan, perasaan kesepian, dan bahkan berkurangnya kebiasaan buruk untuk membandingkan diri dengan orang lain. Alih-alih bersikap transparan dengan mempublikasikan temuan ini atau melanjutkan penelitian, Meta justru memilih untuk menghentikan proyek tersebut secara tiba-tiba.
Bantahan Meta yang Justru Kontradiktif

Di sisi lain, Meta mencoba membela diri dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Perusahaan itu beralasan bahwa hasil penelitian Project Mercury mereka anggap tidak objektif karena sudah “terkontaminasi” oleh pemberitaan negatif media mengenai dampak buruk media sosial. Namun, klaim ini langsung dipatahkan oleh laporan internal perusahaan sendiri! Menurut Reuters, staf peneliti internal Meta yang bertanggung jawab atas Project Mercury justru telah menyampaikan kepada para pimpinan puncak, bahwa temuan mereka bersifat kausal.
Dengan kata lain, para peneliti internalnya sendiri menyimpulkan bahwa penggunaan produk Meta-lah yang diduga menjadi penyebab langsung munculnya segala dampak negatif tersebut. Nah, jika isi dokumen pengadilan ini terbukti akurat, hal ini secara telak menyatakan bahwa pernyataan Meta di hadapan Kongres AS adalah kebohongan belaka. Ingatlah, pada kesempatan sebelumnya, perusahaan dengan santainya mengklaim bahwa mereka tidak memiliki alat atau kemampuan untuk mengukur apakah platformnya berdampak buruk bagi remaja perempuan.
Fitur Keamanan yang Sengaja Dilemahkan
Tak berhenti di situ, gugatan ini juga mengungkap sederet tuduhan lain yang lebih mencengangkan lagi terkait keselamatan pengguna muda di platform Meta. Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah dugaan bahwa Meta dengan sengaja merancang fitur-fitur keamanan untuk remaja agar tidak efektif dan sulit digunakan. Selain itu, dokumen itu juga menuduh bahwa Meta menerapkan batas “pelanggaran” yang sangat longgar sebelum mereka mau menindak akun-akun bermasalah.
Sebagai bukti nyata ketidakseriusan, dalam salah satu contoh yang menghebohkan, sebuah akun yang diduga kuat melakukan perdagangan seks harus tertangkap basah hingga 17 kali sebelum akhirnya dihapus dari platform! Lebih parah lagi, dokumen yang sama turut menyinggung temuan lain yang mengungkap bahwa keterlibatan remaja di platform justru melonjak ketika algoritma menyajikan lebih banyak konten berbahaya. Namun, meski telah mengetahui pola berbahaya ini, Meta disebut dengan sengaja melanjutkan praktik ini semata-mata untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis mereka.
Prioritas Zuckerberg yang Dipertanyakan
Yang tak kalah mengejutkan, dokumen tersebut juga mengungkap prioritas CEO, Mark Zuckerberg, pada tahun 2021 yang dinilai sangat keliru. Dia disebut lebih memprioritaskan pembangunan Metaverse yang masih abstrak dibandingkan dengan keselamatan nyata pengguna remaja di platformnya saat ini. Bahkan, ia juga dituding telah dengan tegas menolak permintaan pendanaan untuk program kegiatan keselamatan anak, sebagaimana dihimpun dari Neowin.
Tentu saja, Meta melalui juru bicaranya, Andy Stone, membantah habis-habisan seluruh tuduhan mengerikan dalam gugatan tersebut. Dia berkilah bahwa dokumen yang diajukan berisi kutipan yang sudah dipilih-pilih serta memuat opini yang keliru. Stone juga dengan tegas menegaskan bahwa penghentian Project Mercury bukanlah bentuk penutupan fakta, melainkan murni karena metodologinya yang mereka nilai cacat.
Sebagai bentuk klarifikasi, ia juga menyatakan bahwa kebijakan saat ini adalah menghapus akun-akun perdagangan seks segera setelah dilaporkan, serta memastikan fitur keselamatan remaja berjalan dengan efektif. Adapun sidang terkait gugatan panas ini dijadwalkan akan berlangsung pada 26 Januari 2026 mendatang, di Pengadilan Distrik California Utara. Sementara itu, Meta sendiri dikabarkan telah mengajukan mosi agar dokumen internal yang dikutip dalam gugatan tersebut dicoret dari daftar bukti pengadilan, sebuah langkah yang justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










