Dentmas.id — Siapa sih yang nggak kenal Steve Jobs? Bos besar Apple yang legendaris ini nggak cuma dikenal karena iPhone atau MacBook, tapi juga karena kisah-kisah di balik layar yang bikin orang geleng-geleng kepala. Salah satunya, cerita di Pixar, studio animasi di balik film Toy Story yang fenomenal. Bayangin, Jobs pernah pecat dua anggota dewan direksi Pixar cuma karena mereka nggak pernah berani beda pendapat dengannya. Keren, kan? Tapi, ada apa sih di balik keputusan ekstrem ini?
Gaya Kepemimpinan yang Bikin Deg-degan

Menurut Ed Catmull, salah satu pendiri Pixar, Jobs punya prinsip yang kuat soal inovasi. Buat dia, kalau kamu cuma mengangguk dan bilang “iya” setiap kali dia ngomong, artinya kamu nggak bawa apa-apa ke meja. “Kalau mereka nggak pernah nggak setuju, berarti mereka nggak ngasih kontribusi apa-apa,” kata Catmull, mengenang gaya kepemimpinan Jobs. Cerita ini muncul dari diskusi arsip tentang Steve Jobs, seperti dirangkum dari AppleInsider (22/9/2025).
Di Pixar, ada forum khusus bernama Braintrust, tempat para kreator debat sengit soal proyek film. Bukan buat pamer siapa yang paling jago, tapi buat memastikan cerita atau adegan di film itu works di layar. Jobs ngerti banget pentingnya diskusi terbuka ini. Baginya, ketidaksepakatan itu kayak bahan bakar buat lahirnya ide-ide cemerlang. Makanya, dia nggak suka sama orang yang cuma nyanyi lagu “yes, boss” tanpa kasih masukan kritis.
Tapi, Jobs juga sadar kalau kehadirannya sendiri bisa bikin suasana kaku. Bayangin, dia punya aura yang begitu kuat, satu komentar aja bisa bikin diskusi berubah arah. Ed Catmull pernah cerita, ada aturan tak tertulis di Braintrust: orang paling berkuasa di ruangan harus diam dulu selama 10 menit pertama. Tujuannya? Biar suara anggota lain nggak tenggelam. Bahkan, pernah suatu kali Catmull minta Jobs nggak usah datang ke rapat, karena takut idenya bakal mendominasi. Dan tahu nggak? Jobs ngerti dan nerima aturan itu. Keras, tapi bijak juga ternyata!
Perjalanan Pixar di Tangan Jobs
Cerita Jobs dan Pixar dimulai dari langkah besar di tahun 1986. Waktu itu, Jobs beli divisi komputer grafis milik Lucasfilm dengan harga sekitar 10 juta dolar AS. Awalnya, Pixar lebih dikenal sebagai perusahaan yang jual perangkat keras dan perangkat lunak grafis. Tapi, lambat laun, mereka mulai bikin film animasi pendek yang bikin orang-orang di industri perfilman melongo.
Puncaknya datang di tahun 1995, saat Pixar ngerilis Toy Story, film animasi panjang pertama yang dibuat full pakai komputer. Film ini nggak cuma sukses di box office, tapi juga jadi tonggak baru dalam dunia perfilman. Toy Story bikin nama Steve Jobs makin bersinar, bukan cuma sebagai tech genius, tapi juga sebagai orang yang bisa nyatuin teknologi, seni, dan bisnis hiburan.
Kesuksesan Pixar ini akhirnya bikin Disney kepincut. Pada tahun 2006, Disney akuisisi Pixar dengan nilai fantastis, sekitar 7,4 miliar dolar AS. Dari kesepakatan ini, Jobs jadi pemegang saham individu terbesar di Disney. Gila, kan? Dari beli divisi kecil dengan 10 juta dolar, Jobs bawa Pixar ke level yang nggak kebayang sebelumnya.
Pelajaran dari Gaya Jobs
Kisah Jobs di Pixar ini nggak cuma soal keberhasilan bisnis, tapi juga soal kepemimpinan yang unik. Dia nggak cuma ngotot sama visinya, tapi juga ngasih ruang buat orang lain buat bersinar—asal mereka berani speak up. Pecat karyawan yang cuma bilang “iya” mungkin kedengeran kejam, tapi di balik itu, ada pesan kuat: inovasi lahir dari diskusi, bukan dari anggukan kosong.
Jobs juga nunjukin sisi rendah hati yang jarang orang lihat. Dia sadar kalau pengaruhnya bisa bikin orang lain takut ngomong jujur, makanya dia rela ngalah dan ngikutin aturan Braintrust. Ini bukti bahwa meski keras, dia punya kepekaan buat ngasih ruang buat ide-ide segar.
kunjungi laman berita terbaru dan seru di Exposenews.id
Apa yang bisa kita petik dari cerita ini? Pertama, jangan takut buat beda pendapat, apalagi kalau itu demi kebaikan proyek atau tim. Kedua, kalau kamu punya power besar, kadang mundur selangkah justru bikin orang lain maju dua langkah. Dan terakhir, inovasi nggak datang dari zona nyaman. Harus ada gesekan, harus ada debat, dan harus ada keberanian buat ngomong apa adanya.
Jadi, lain kali kamu di rapat atau diskusi kelompok, inget kata-kata Jobs: jangan cuma bilang “iya”. Berani beda, berani kasih masukan, karena siapa tahu, idemu bisa jadi game-changer berikutnya. Oh ya, kalau pengen tahu lebih banyak soal kisah-kisah inspiratif kayak gini, pantengin terus dentmas.id, ya!






