Dentmas.id – Dalam langkah berani yang menyita perhatian dunia, Studio Ghibli bersama para raksasa penerbitan Jepang secara resmi menyerukan agar OpenAI, sang pengembang ChatGPT, segera menghentikan eksploitasi karya mereka untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) tanpa meminta izin terlebih dahulu. Content Overseas Distribution Association (CODA), yang bertindak sebagai wakil resmi para studio dan penerbit besar, dengan tegas menyampaikan permintaan ini melalui sebuah surat terbuka. Surat tersebut secara eksplisit menegaskan bahwa praktik pelatihan AI menggunakan materi berhak cipta tanpa izin merupakan sebuah pelanggaran hukum yang nyata. “Kami dengan jelas menilai,” tulis CODA, “bahwa dalam kasus seperti Sora, proses replikasi selama machine learning dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta.”
Dari Foto Profil Hingga Video Deepfake: Akar Kekhawatiran Industri Kreatif
Sebagai studio legendaris di balik mahakarya seperti Spirited Away dan My Neighbor Totoro, Ghibli kini memimpin perlawanan ini. Aksi protes ini sendiri bukanlah tanpa sebab, melainkan muncul sebagai respons langsung terhadap maraknya tren di mana pengguna ChatGPT dengan leluasa menciptakan ulang foto diri mereka dalam gaya visual khas Ghibli. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman sendiri sempat memamerkan foto profil ‘bergaya Ghibli’ di akun X-nya, sebuah tindakan yang justru memantik perhatian publik. Kekhawatiran ini kemudian membubung tinggi seiring dengan diluncurkannya Sora, model AI generatif video dari OpenAI, yang dikhawatirkan akan melahirkan konten-konten baru yang meniru atau memanipulasi karakter ikonik berhak cipta, termasuk tokoh populer hingga figur publik yang telah meninggal.
Jalan Panjang Perlawanan: Dari Surat Terbuka Hingga Meja Hijau
Surat dari CODA ini secara efektif memperpanjang daftar panjang kreator dan institusi yang menentang keras praktik pelatihan AI. Mereka menganggap praktik ini sebagai bentuk perampasan hak intelektual yang sistematis. Di tengah hiruk-pikuk perdebatan global tentang batas etika dan hukum teknologi generatif, surat ini menjadi tamparan keras bagi industri AI.
Namun, karena sifatnya hanya berupa imbauan, OpenAI memiliki kebebasan penuh untuk memilih mengindahkan permintaan ini atau mengabaikannya sama sekali. Apabila OpenAI bersikeras, pihak seperti Studio Ghibli mungkin tidak memiliki pilihan lain kecuali membawa persoalan ini ke meja hijau.
Jalan hukum di Amerika Serikat ternyata masih diselimuti kabut ketidakpastian. Hingga saat ini, belum ada regulasi jelas yang secara spesifik mengatur penggunaan karya berhak cipta untuk pelatihan AI. Sebuah laporan dari Tech Crunch mengungkapkan bahwa hanya sedikit preseden hukum yang dapat dijadikan pedoman oleh para hakim.
Sebaliknya, CODA dengan lantang menegaskan bahwa situasinya sangat berbeda di Jepang. Di negara tersebut, penggunaan tanpa izin dapat langsung dianggap sebagai pelanggaran tanpa toleransi.
Reaksi Keras Maestro Ghibli dan Masa Depan Pertarungan Hak Cipta AI
Sosok maestro di balik kesuksesan Ghibli, Hayao Miyazaki, memang belum secara langsung menyoroti fenomena AI yang meniru gayanya. Namun, reaksinya terhadap animasi AI hampir sepuluh tahun lalu sudah sangat gamblang memperlihatkan sikapnya. Dengan perasaan jijik yang mendalam, Miyazaki pernah berkomentar, “Saya merasa ini adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.”
Pernyataan keras ini secara tidak langsung mencerminkan jiwa dan filosofi yang diusung oleh studio animasi tersebut. Sementara itu, OpenAI semakin terjerat dalam berbagai gugatan serupa terkait dugaan pelanggaran hak cipta.
Lebih dari 400 pembuat film, aktor, dan musisi baru-baru ini secara kolektif menyuarakan penolakan mereka. Mereka secara tegas menuntut agar perusahaan AI menghentikan penggunaan konten mereka tanpa izin. Tidak berhenti di situ, pada bulan April 2025, gugatan besar juga dilayangkan oleh Ziff Davis, sebuah konglomerat media yang membawahi puluhan brand ternama.
Menghadapi semua tuntutan ini, OpenAI tetap bersikukuh pada pendiriannya. Perusahaan yang berbasis di AS itu membela diri dengan argumen fair use atau ‘penggunaan wajar’, sambil tetap menyatakan komitmennya untuk mendukung inovasi di bidang AI.
Bahkan, OpenAI secara aktif mendorong pemerintah Amerika Serikat untuk melonggarkan aturan yang membatasi penggunaan materi berhak cipta. Mereka berargumen bahwa kebijakan yang lebih fleksibel dapat membantu Amerika Serikat tetap unggul dalam persaingan AI global.
Inti permasalahan ini berpusat pada konsep Fair Use, sebuah doktrin dalam hukum hak cipta AS. Isu hak cipta menjadi tantangan besar yang tak terelakkan bagi pengembang AI, karena model-model seperti ChatGPT pada dasarnya “diberi makan” oleh miliaran data dari internet.
Akibatnya, pemilik hak cipta merasa dirugikan karena karya mereka digunakan tanpa kompensasi. Meski dibayangi banyak gugatan, OpenAI tetap bersikeras bahwa strategi fair use mereka tidak hanya menguntungkan para kreator, tetapi juga vital bagi dominasi AS di kancah AI.
Pertarungan antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan ini jelas belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Exposenews.id










