Dentmas.id – Dunia teknologi dan musik kembali diguncang! Pengembang chatbot AI ternama, Claude, yang dikembangkan oleh Anthropic, kini terjerat pusaran hukum yang semakin dalam. Kali ini, raksasa penerbitan musik dunia, Sony Music Publishing dan Warner Chappell Music, kompak melayangkan gugatan dahsyat yang menuduh perusahaan AI tersebut melakukan pelanggaran hak cipta terhadap puluhan ribu karya musik legendaris. Gugatan ini bahkan secara blak-blakan melabeli praktik Anthropic sebagai “pencurian kekayaan intelektual terbesar dan paling terang-terangan yang masih berlangsung dalam sejarah” — sebuah pernyataan bom yang langsung mengguncang industri!
Berbagai lagu ikonik pun turut disebut dalam berkas gugatan, mulai dari “Paper Rings” milik Taylor Swift yang mendunia, lagu Natal abadi “All I Want for Christmas Is You” yang dipopulerkan oleh Mariah Carey, hingga energi funk dari “Uptown Funk” yang dinyanyikan Mark Ronson featuring Bruno Mars. Tak ketinggalan, deretan lagu legendaris lainnya seperti “Ain’t No Mountain High Enough”, “Eye of the Tiger”, “Livin’ on a Prayer”, “September”, hingga “Hallelujah” juga masuk dalam daftar karya yang diklaim dilanggar hak ciptanya. Bayangkan, puluhan ribu lagu bersejarah kini menjadi pusat sengketa raksasa ini!
Gugatan bernomor besar ini resmi didaftarkan pada Jumat (28/8/2026) di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California. Bukan hanya Anthropic sebagai korporasi yang diseret ke meja hijau, dua pendiri sekaligus pucuk pimpinan perusahaan, CEO Anthropic Dario Amodei dan co-founder Benjamin Mann, juga dijadikan tergugat individu. Langkah ini tentu semakin memanaskan suasana karena menunjukkan betapa seriusnya para penggugat dalam menuntaskan perkara ini.
Sony Music Publishing dan Warner Chappell menuding Anthropic—perusahaan yang baru berdiri pada 2021—secara ilegal memperoleh dan menyalin ribuan karya musik berhak cipta guna mengembangkan kecerdasan buatan Claude. Menurut isi gugatan, karya-karya tersebut tidak hanya sekali disalin, melainkan berulang kali digunakan, baik sebagai bahan baku pelatihan model AI Claude maupun muncul kembali dalam output yang dihasilkan oleh model tersebut. Artinya, setiap kali pengguna berinteraksi dengan Claude, ada potensi konten berlisensi digunakan secara tidak sah!
Tuntutan Ganti Rugi Fantastis: Rp 2,6 Miliar Per Lagu!
Para penggugat yang diwakili Sony Music Publishing dan Warner Chappell telah mengidentifikasi “puluhan ribu” komposisi musik yang diduga dilanggar hak ciptanya oleh Anthropic. Kedua perusahaan penerbitan musik raksasa ini menuntut ganti rugi mencapai 150.000 dolar AS untuk setiap karya yang terbukti dilanggar secara sengaja. Jika dikonversi menggunakan kurs 1 dolar AS setara Rp 17.757 saat berita ini ditulis, angkanya melonjak menjadi sekitar Rp 2,66 miliar untuk setiap lagu! Sungguh angka yang membuat siapa pun geleng-geleng kepala.
Bukan berhenti di situ, penggugat juga meminta tambahan ganti rugi hingga 25.000 dolar AS atau kurang lebih Rp 444 juta untuk setiap dugaan penghapusan informasi manajemen hak cipta. Mengingat jumlah karya yang dipermasalahkan mencapai puluhan ribu, potensi total ganti rugi secara teoretis bisa melambung hingga miliaran dolar AS apabila seluruh klaim penggugat dikabulkan oleh majelis hakim. Fantastis! Ini bukan sekadar gugatan biasa, ini adalah perang terbuka yang bisa mengubah peta bisnis AI selamanya!
Sony dan Warner juga meminta pengadilan untuk mengeluarkan perintah penghancuran terhadap seluruh salinan karya yang dianggap melanggar hak cipta. Selain itu, mereka menuntut Anthropic untuk menyerahkan catatan lengkap mengenai data apa saja yang digunakan selama proses pelatihan Claude. Permintaan ini jelas merupakan pukulan telak karena akan membuka tabir rahasia di balik dapur pengembangan AI milik Anthropic.
Claude Ketahuan Bisa Keluarkan Lirik Utuh! Bahaya!
Masalah krusial lain yang turut dipersoalkan adalah kemampuan Claude dalam menghasilkan kembali lirik lagu secara utuh. Gugatan dengan tegas menyatakan bahwa Claude dapat mereproduksi lirik milik para penerbit musik tersebut secara verbatim alias kata demi kata dalam setiap jawabannya. Ini bukan lagi sekadar kemiripan, melainkan penjiplakan terang-terangan!
Sony dan Warner menuduh Anthropic memperoleh materi lirik berhak cipta itu melalui berbagai cara, dengan salah satu metode yang paling disorot adalah scraping lirik dari situs berlisensi seperti MusixMatch dan LyricFind. Tindakan ini dinilai sangat merugikan karena mengabaikan hak-hak legal pemilik karya.
Meskipun Anthropic sebenarnya dikabarkan telah menambahkan sejumlah guardrail atau mekanisme pengaman setelah menghadapi gugatan hak cipta sebelumnya, Sony dan Warner mengeklaim bahwa perlindungan tersebut masih bisa dilewati dengan cukup mudah. Caranya pun sederhana, yaitu dengan memberikan perintah atau prompt baru berulang kali kepada Claude. Celah keamanan ini membuat seluruh upaya pencegahan menjadi sia-sia!
Anthropic Dukung AI Etis, Tapi…
Menariknya, Sony dan Warner menyatakan bahwa mereka sebenarnya mengakui potensi besar teknologi AI yang dikembangkan secara etis. Kedua perusahaan ini bahkan telah memberikan lisensi untuk penggunaan sejumlah komposisi musik dalam pengembangan AI. Namun, mereka menegaskan bahwa pengembangan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dan berdasarkan kesepakatan yang jelas dengan pemegang hak cipta. Intinya, inovasi tidak boleh mengorbankan hak-hak kreator!
Kasus Claude Makin Panjang dan Berliku!
Gugatan Sony dan Warner ini jelas menambah panjang daftar sengketa hak cipta yang menghantui Anthropic. Sebelumnya, Universal Music Publishing Group, Concord Music Group, dan ABKCO lebih dulu menggugat Anthropic pada Oktober 2023 terkait sekitar 500 lagu. Ketiganya kemudian melancarkan gugatan kedua pada Januari 2026 yang mencakup lebih dari 20.000 karya dengan tuntutan mencapai lebih dari 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 53,27 triliun! Bayangkan, angka yang bahkan sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang!
Belum cukup, BMG turut menggugat Anthropic pada Maret 2026 terkait 493 komposisi musik. Giliran Round Hill Music yang menyusul dengan gugatan lainnya pada 17 Agustus, seperti yang dihimpun dari Music Business Worldwide. Semakin hari, tumpukan masalah hukum Anthropic kian menggunung, membuat masa depan Claude AI berada di ujung tanduk.
Satu hal yang pasti, kasus ini akan menjadi presiden penting bagi industri AI dan hak cipta di seluruh dunia. Apakah Anthropic mampu bertahan dari badai gugatan ini, atau justru menjadi pelajaran berharga bagi para pengembang AI lainnya? Kita tunggu saja kelanjutan drama hukum yang mencekam ini!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










