Dentmas.id – Dulu sempat bikin heboh karena nekat potong ribuan karyawan demi AI, sekarang IBM malah kebakaran jenggot! Raksasa teknologi Amerika Serikat ini ternyata balik arah total. Mereka justru siap merekrut karyawan entry level dalam jumlah yang jauh lebih besar. Bedanya? Syaratnya sudah berubah total mengikuti zaman.

Ingatkah kalian dengan akhir tahun lalu? Perusahaan yang sudah berdiri sejak 1911 itu diam-diam melakukan pemutusan hubungan kerja. Dampaknya memang cuma kurang dari 1 persen karyawan. Tapi kalau dihitung, angka itu setara dengan sekitar 2.700 orang yang harus kehilangan pekerjaan. Mereka beralasan ingin meningkatkan produktivitas lewat kecerdasan buatan.
Tapi sekarang ceritanya benar-benar berbeda. Untuk tahun 2026 mendatang, IBM berencana melipatgandakan perekrutan level awal di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat! Bandingkan dengan sebelumnya yang justru memangkas. Perubahan haluan ini tentu bikin banyak orang mengernyitkan dahi.
Memang belum ada informasi pasti kapan lowongan ini bakal dibuka. Juga belum jelas berapa angka pastinya. Tapi yang sudah dikonfirmasi, perekrutan besar-besaran ini bakal menyebar di berbagai divisi. Bloomberg baru-baru ini melaporkan kabar mengejutkan ini ke publik.
Nickle LaMoreaux, Chief Human Resources Officer IBM, buka suara mengenai perubahan strategi ini. Ia menjelaskan bahwa perekrutan sekarang bakal menyasar posisi yang selama ini sering disebut paling terancam digantikan AI. Tapi ada yang menarik di sini. IBM ternyata sudah merombak total deskripsi pekerjaan level awal mereka. Semua dibuat lebih relevan dengan era baru yang serba cerdas buatan.
Pekerjaan Entry Level Dulu vs Sekarang, Jauh Berbeda!
Sebagai informasi, entry level job sebenarnya adalah posisi tingkat awal. Biasanya dirancang untuk individu yang masih minim pengalaman, bahkan boleh tanpa pengalaman sama sekali. Fresh graduate paling cocok mengisi posisi ini. Mereka yang ingin switch career juga sering memanfaatkan jalur ini. Tanggung jawabnya terbatas dan biasanya langsung dapat pelatihan di tempat kerja.
LaMoreaux dengan gamblang menjelaskan perubahan besar ini. Menurutnya, pekerjaan entry level dua hingga tiga tahun lalu sebagian besar kini memang bisa dikerjakan AI. Coba bayangkan, tugas rutin seperti coding dasar ternyata mudah sekali diotomatisasi. Hal inilah yang mendorong IBM mengubah total fokus peran tersebut.
Mereka sekarang lebih menonjolkan kemampuan yang tidak mudah diotomatisasi. Kemampuan berinteraksi dengan klien menjadi prioritas utama. Memahami kebutuhan bisnis secara mendalam juga jadi syarat penting. Semua ini sulit ditiru oleh mesin secanggih apa pun.
Bahkan di divisi sumber daya manusia, peran staf entry level juga berubah drastis. Mereka kini bertugas mengoreksi keluaran chatbot HR. Mereka juga berkomunikasi langsung dengan manajer ketika sistem otomatis tidak mampu menjawab secara tepat. Manusia tetap dibutuhkan sebagai pengawas dan penyempurna kerja AI.
AI Tidak Sepenuhnya Menggantikan Manusia, Justru Bergeser Perannya
Langkah berani IBM ini muncul di tengah kekhawatiran global bahwa AI akan memangkas peluang kerja bagi lulusan baru. Banyak eksekutif teknologi bahkan memprediksi masa depan suram. Mereka bilang sebagian besar pekerjaan kantoran level awal berpotensi hilang dalam beberapa tahun ke depan. Prediksi ini bikin cemas para mahasiswa yang hampir lulus.
Tapi di sisi lain, ternyata ada pandangan yang lebih optimis. Talenta muda justru dinilai lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Mereka tumbuh besar bersama internet dan gadget. Adaptasi terhadap AI tentu lebih mudah dibanding generasi sebelumnya.
IBM sendiri melakukan perhitungan matang. Mereka menilai memangkas perekrutan level awal mungkin menghemat biaya dalam jangka pendek. Tapi risikonya terlalu besar. Akan tercipta kekosongan talenta menengah di masa depan. Coba bayangkan, tanpa jalur pembinaan internal, perusahaan akan lebih bergantung pada perekrutan dari luar. Biayanya pasti lebih mahal dan butuh waktu adaptasi lebih lama.
Keputusan ini membuktikan satu hal penting. Meski AI semakin canggih, kebutuhan terhadap sumber daya manusia ternyata tidak sepenuhnya hilang. Yang terjadi justru perubahan bentuk. Alih-alih menghapus peran karyawan entry level, IBM memilih menyesuaikannya dengan tuntutan era AI. Mereka juga memastikan regenerasi talenta tetap berjalan di tengah transformasi teknologi yang cepat.
Perusahaan Lain Jera PHK Demi AI, Ada yang Menyesal
Ternyata IBM tidak sendirian mengalami dilema ini. Beberapa perusahaan teknologi lain juga memangkas karyawan demi mengerahkan AI. Tapi yang menarik, Klarna jadi salah satu perusahaan yang menyesali keputusannya.
Perusahaan teknologi finansial asal Swedia itu nekat memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 lalu. Mereka digantikan oleh kecerdasan buatan. Secara hitungan kasar, upaya itu memang menghemat anggaran hingga sekitar dua juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 32,7 miliar. Tapi penggunaan AI ternyata tidak membantu banyak meningkatkan produktivitas. Kualitas produk bagi pelanggan juga tidak membaik secara signifikan.
Mereka mengaku berlebihan menggunakan AI demi memangkas biaya operasional. Sekarang Klarna kembali merekrut karyawan. Lowongan pekerjaan sudah dipajang di situs web resmi perusahaan. Mereka terang-terangan menyesal mengganti karyawan dengan AI.
Sedikit berbeda dengan Salesforce. Mereka melakukan PHK terhadap 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada awal September 2025. Pemangkasan ini membuat jumlah staf dukungan pelanggan menyusut hingga hampir 50 persen. Dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 karyawan.
CEO Salesforce Marc Benioff dengan blak-blakan mengatakan posisi yang ditinggalkan akan digantikan oleh AI. Agen AI akan mengambil alih sebagian besar interaksi dengan pelanggan. Menurutnya, ini terbukti meningkatkan produktivitas perusahaan. Meski jumlah karyawan berkurang signifikan, Salesforce tetap mempertahankan kombinasi tenaga manusia dan AI. Tenaga manusia yang tersisa akan bekerja di bawah program “omni channel supervisor”. Program ini membantu agen AI dan tenaga manusia bekerja sama dengan harmonis.
Jadi kesimpulannya, tren menggantikan manusia dengan AI ternyata tidak semulus yang dibayangkan. IBM yang sempat PHK ribuan karyawan kini kebakaran jenggot mencari talenta baru. Klarna menyesal dan balik arah merekrut lagi. Salesforce pun tetap mempertahankan kombinasi manusia dan mesin. Tetap butuh manusia di balik layar, ya!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










