Dentmas.id – Indonesia kini diam-diam tengah bersiap mengeksekusi langkah berani dan strategis untuk memensiunkan seluruh infrastruktur jaringan seluler 2G di tanah air. Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) saat ini mematangkan pembahasan strategis tersebut secara intensif bersama jajaran pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Digital. Meskipun begitu, proses diskusi penting ini memang masih berada dalam tahap penyamaan persepsi awal, sehingga para pemangku kepentingan industri belum memukulkan palu keputusan resmi terkait tanggal pasti pemutusan sinyal legendaris tersebut.
Ketua Umum ATSI, Marwan O. Baasir, menegaskan bahwa industri telekomunikasi nasional memang harus merancang persiapan matang ini sejak dini demi melesatkan laju transformasi digital serta meningkatkan efisiensi operasional jaringan komunikasi nasional.
“Pihak kami memang sedang merajut diskusi mendalam pada level awal bersama jajaran pemerintah. Pasalnya, tatkala kita ingin memacu pertumbuhan ekosistem digital secara masif dan merata, maka kita wajib menggembleng kesiapan infrastruktur sejak awal, termasuk merumuskan estimasi tenggat waktu transisi serta menentukan skema program insentif yang paling tepat,” ungkap Marwan memberikan pandangan kepakarannya.
Kendati teknologi canggih berkecepatan tinggi seperti 4G LTE dan 5G sudah menyelimuti berbagai sudut kota besar, kenyataannya jaringan 2G masih setia melayani kebutuhan komunikasi harian bagi jutaan pelanggan seluler di wilayah pelosok nusantara.
Waduh! Ternyata Masih Ada 29 Juta Ponsel yang Bergantung Pada Sinyal Jadul Ini!
Oleh sebab itu, melimpahnya populasi pengguna aktif ini menjadi alasan paling krusial mengapa regulator dan para operator seluler tidak boleh menyuntik mati jaringan 2G secara gegabah atau mendadak tanpa peta jalan migrasi yang matang.
Berdasarkan kaji ulang teknis dari tim ahli ATSI, para pakar memperkirakan bahwa sekitar 8 hingga 10 persen dari total pengguna layanan seluler tanah air masih menambatkan aktivitas harian mereka pada pemancar sinyal 2G generasi lama.
Bahkan, jika kita menilik rekapan data resmi registrasi kartu SIM berbasis biometrik sejak awal tahun 2026 sampai Agustus 2026, tercatat ada 297 juta nomor aktif di seluruh Indonesia. Dari total angka fantastis tersebut, kalkulasi presisi ATSI menunjukkan bahwasanya ada kurang lebih 29 juta pelanggan yang masih menggantungkan nasib komunikasinya pada jaringan generasi kedua ini.
Rata-rata masyarakat memanfaatkan koneksi tua ini guna menunjang kebutuhan lalu lintas komunikasi paling mendasar, khususnya menyambung panggilan suara konvensional (voice call) dan mengirim pesan singkat (SMS) tanpa lalu lintas data internet.
Oleh karena itu, kenyataan riil di lapangan ini menuntut strategi migrasi yang benar-benar rapi dan terstruktur, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat kelas bawah yang belum sanggup membeli gawai modern berteknologi 4G apalagi 5G.
Selain masalah besarnya jumlah basis pengguna, tantangan nyata dalam mengeksekusi pemadaman sinyal ini ternyata meluas ke sektor-sektor kritis lainnya.
Faktor bentang alam dan kondisi geografis kepulauan Indonesia yang sangat ekstrem, terutama pada pulau-pulau terluar dan daerah terpencil, menjadi fokus perhatian utama ATSI dalam merancang skema penghentian sinyal secara bertahap.
Marwan membeberkan fakta lapangan bahwasanya sebagian besar masyarakat di kawasan Indonesia Timur masih sangat mengandalkan feature phone murah meriah yang cuma bisa menangkap gelombang sinyal 2G untuk terhubung dengan kerabat.
Rahasia Besar Terbongkar! Ini Alasan Kenapa Sinyal 2G Harus Dimusnahkan Demi 4G dan 5G Super Cepat!
Di samping berbagai tantangan sosial dan ekonomis tersebut, langkah mematikan jaringan 2G justru menyimpan potensi keuntungan teknis yang sangat besar karena sanggup melonggarkan pita spektrum frekuensi demi menggelar layanan internet pita lebar (broadband) yang jauh lebih melesat.
Marwan menjelaskan secara terperinci bahwa alokasi pita frekuensi radio pada rentang 900 MHz—yang selama bertahun-tahun mengusung trafik 2G—dapat dialihkan secara optimal (refarming) guna memperkuat kapasitas jaringan 4G LTE maupun memancarkan sinyal 5G.
Dengan demikian, pemanfaatan ulang sumber daya frekuensi yang terbatas ini akan mendongkrak efisiensi spektrum industri telekomunikasi sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan konektivitas digital era modern secara efisien.
Kendati menjanjikan lompatan kualitas sinyal yang dahsyat, ATSI tetap berhati-hati dalam menakar momentum waktu terbaik sembari aktif menelaah studi kasus dan rekam jejak negara-negara tetangga yang sudah sukses mengeksekusi pemadaman 2G.
Gak Bikin Kantong Bolong! Pemerintah Wajib Turun Tangan Kasih Bantuan Insentif!
Seandainya pemangku kebijakan resmi mengetok palu pemadaman 2G di masa depan, maka agenda pendampingan proses transisi pelanggan otomatis menjadi pekerjaan rumah paling mendesak yang wajib tuntas dengan cepat.
Maka dari itu, ATSI mendorong pihak pemerintah agar merilis regulasi pendukung serta menyalurkan insentif khusus supaya masyarakat lapisan bawah bisa memeluk teknologi baru tanpa harus tercekik beban biaya yang besar.
Salah satu terobosan opsi kebijakan yang mengemuka mencakup pengetatan serta pembatasan peredaran ponsel pintar yang masih hanya beroperasi di jaringan 2G sesaat setelah regulasi penghentian meluncur secara resmi ke publik.
Bukan hanya itu, ekosistem industri gadget nasional juga wajib memperbanyak pasokan smartphone 4G LTE serta 5G entry-level yang membanderol harga sangat murah dan bersahabat bagi dompet rakyat.
Melalui langkah harmonisasi ini, masyarakat pengguna ponsel 2G bakal memiliki kemudahan akses untuk memboyong perangkat baru pengganti yang terjangkau tanpa perlu kehilangan akses komunikasi harian mereka.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.







