Dentmas.id – Dunia kecerdasan buatan kembali diguncang! Raksasa semikonduktor asal Amerika, Qualcomm, secara mengejutkan mengumumkan bahwa mereka resmi mencaplok startup perangkat lunak AI bernama Modular. Bukan main-main, perusahaan yang fokus pada infrastruktur kecerdasan buatan ini berhasil diboyong dengan harga selangit.
Dengan napas panjang dan perhitungan matang, Qualcomm akhirnya mengkonfirmasi akuisisi besar-besaran melalui skema transaksi saham atau all-stock deal yang nilainya tembus hampir 4 miliar dolar AS. Jika dirupiahkan, angka fantastis ini setara dengan sekitar Rp 71 triliun! Bayangkan, uang sebesar itu cukup untuk membangun puluhan pusat data canggih di seluruh Indonesia.
Melalui kesepakatan monumental ini, Qualcomm secara otomatis akan menguasai penuh teknologi perangkat lunak andalan Modular. Mereka tidak hanya membeli perusahaan, tetapi juga membeli masa depan pengembangan AI yang lebih terbuka dan fleksibel.
Gelontorkan Jutaan Saham, Ini Strategi Besar Qualcomm
Dalam langkah agresif ini, Qualcomm berencana menerbitkan hingga 19,2 juta lembar saham biasa sebagai kompensasi kepada para investor yang sebelumnya memegang saham Modular. Jumlah itu cukup besar dan menunjukkan betapa seriusnya mereka menggarap lini bisnis baru ini.
Mengacu pada perhitungan ketat dari outlet media ternama Reuters, dengan patokan harga penutupan saham Qualcomm, nilai transaksi jumbo ini mencapai sekitar 3,92 miliar dolar AS atau setara Rp 70 triliun. Angka yang hampir sama dengan PDB sebuah negara kecil!
Meski kabar akuisisi ini terdengar menggembirakan, pasar saham justru bereaksi berbeda. Saham Qualcomm tercatat ambrol sekitar 4 persen pada perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu Amerika Serikat. Apakah ini tanda keraguan investor atau justru momen koreksi biasa? Hanya waktu yang akan menjawab.
Proses akuisisi ini diperkirakan baru akan rampung pada paruh kedua 2026, tepatnya antara Juli hingga Desember mendatang. Jadi, kita masih harus bersabar menyaksikan bagaimana raksasa chip ini mengintegrasikan teknologi Modular ke dalam ekosistem mereka.
Bukan Sekadar Akuisisi, Ini Perang AI yang Sebenarnya!
Jangan salah sangka, kesepakatan ini bukan sekadar jual-beli perusahaan biasa. Qualcomm sedang memainkan strategi catur tingkat dewa untuk memperluas kerajaan bisnis kecerdasan buatan dan pusat data mereka. Langkah ini merupakan upaya serius untuk melepaskan ketergantungan selama ini pada bisnis chip smartphone yang mulai jenuh.
Yang lebih mencengangkan, Qualcomm dikabarkan tidak berhenti di Modular. Mereka disebut-sebut tengah dalam pembicaraan panas untuk mengakuisisi startup chip AI lainnya, yaitu Tenstorrent. The Information melaporkan pekan lalu bahwa nilai akuisisi ini bisa mencapai angka yang lebih gila lagi, yaitu antara 8 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp 143 triliun – Rp 179 triliun!
Saatnya CUDA Nvidia Bergetar!
Nah, inilah bagian paling menarik dari akuisisi ini. Perangkat lunak buatan Modular dirancang khusus untuk menjalankan proses inferensi model AI. Proses inferensi sendiri adalah tahap krusial ketika model AI menghasilkan jawaban, prediksi, atau rekomendasi berdasarkan data yang diterima. Singkatnya, ini adalah “otak” yang membuat AI benar-benar bekerja.
Keunggulan utama Modular adalah teknologinya dapat digunakan pada berbagai jenis chip dari berbagai vendor. Mulai dari Nvidia, AMD, hingga produsen chip lainnya. Sifatnya yang universal ini menjadi senjata pamungkas yang selama ini tidak dimiliki oleh platform CUDA milik Nvidia.
Dengan mengakuisisi Modular, Qualcomm secara resmi memiliki perangkat lunak yang siap menggedor dominasi CUDA. Selama ini, CUDA menjadi fondasi utama kekuatan Nvidia di industri AI karena platform ini dirancang hanya bekerja pada chip Nvidia. Sifatnya yang eksklusif membuat pengembang sulit beralih ke perangkat keras lain.
Namun, Modular hadir dengan semangat yang berbeda. Mereka mendukung chip dari berbagai vendor, sehingga pengembang tidak lagi terikat pada satu ekosistem saja. Akuisisi ini jelas membuka peluang emas bagi Qualcomm untuk mengganggu pasar dan menantang supremasi Nvidia yang sudah bertahun-tahun kokoh.
“Qualcomm bertaruh bahwa dengan memiliki perangkat lunak yang mampu menjalankan proses inferensi AI secara lebih efisien di atas perangkat keras, perusahaan dapat memperoleh posisi di pasar pusat data,” ujar analis Emarketer, Jacob Bourne. Artinya, mereka tidak hanya ingin bersaing di level perangkat keras, tetapi juga menguasai lapisan perangkat lunak yang lebih menguntungkan.
Visi Masa Depan AI yang Lebih Inklusif
CEO Qualcomm, Cristiano Amon, dengan percaya diri menyatakan bahwa perusahaannya sangat yakin masa depan AI akan bergantung pada platform yang ramah bagi pengembang dan dapat berjalan di berbagai lingkungan komputasi. Ini adalah pernyataan berani yang sekaligus menjadi kritik halus terhadap pendekatan tertutup yang selama ini diterapkan Nvidia.
Menurut Amon, pendekatan terbuka ini akan memberikan keleluasaan penuh kepada pelanggan dan pengembang untuk menentukan bagaimana dan di mana mereka ingin menerapkan teknologi AI. Mereka tidak akan lagi terjebak dalam satu ekosistem vendor tertentu, sebuah kebebasan yang sangat didambakan oleh banyak perusahaan teknologi saat ini.
Tentu saja, langkah Qualcomm ini bukan tanpa risiko. Mengintegrasikan perusahaan baru, mengadopsi teknologi baru, dan mengubah strategi bisnis selalu memiliki tantangan tersendiri. Namun, satu hal yang pasti: persaingan di industri AI kini semakin panas dan menarik untuk disimak.
Dengan portfolio chip yang kuat dan sekarang didukung oleh perangkat lunak AI yang fleksibel, Qualcomm menunjukkan taringnya sebagai pesaing serius Nvidia. Pertarungan sengit di pusat data dan infrastruktur AI baru saja dimulai, dan kita semua akan menyaksikan siapa yang akan keluar sebagai pemenang di era kecerdasan buatan ini!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










