Dentmas.id – Baru-baru ini, kabar mengejutkan datang dari raksasa kamera aksi asal Amerika Serikat, GoPro. Perusahaan yang identik dengan olahraga ekstrem dan petualangan luar ruang itu secara resmi mengumumkan langkah drastis: mereka memutuskan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 20 persen karyawannya di seluruh dunia hingga penghujung tahun 2026.
Efisiensi Gila-gilaan: GoPro Terpaksa Ambil Langkah Taktis
Lantas, apa yang melatarbelakangi keputusan kontroversial ini? Ternyata, langkah nekat tersebut menjadi bagian dari strategi restrukturisasi besar-besaran yang tengah dijalani. Perusahaan berusaha mati-matian menekan biaya operasional sekaligus memperbaiki kinerja keuangan yang dalam beberapa tahun terakhir terus tertekan. Siapa sangka, masa kejayaan GoPro perlahan mulai meredup karena gempuran kompetitor dan perubahan perilaku konsumen.
Ratusan Posisi Melayang: Angka Pasti PHK Bikin Terkejut
Dalam dokumen resmi yang diajukan perusahaan ke regulator, Mereka menyebutkan secara gamblang bahwa mereka akan memangkas sekitar 145 posisi kerja. Jika dipersentasekan, angka fantastis itu setara dengan sekitar 23 persen dari total tenaga kerja yang mereka miliki. Bayangkan, hampir seperempat karyawan harus rela kehilangan pekerjaan!
Sebelum aksi PHK masif ini dimulai, jumlah karyawan GoPro secara global tercatat hanya sekitar 631 orang. Artinya, perusahaan yang dulu pernah berjaya di pasar kamera aksi kini harus berjuang dengan sisa sumber daya manusia yang jauh lebih sedikit.
Jadwal Eksekusi PHK: Mulai Kuartal Kedua 2026
Kapan tepatnya gelombang PHK ini akan bergulir? Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pemangkasan tenaga kerja itu dijadwalkan mulai berlangsung pada kuartal kedua tahun 2026. Perusahaan menargetkan sebagian besar proses PHK selesai sebelum tahun 2026 berakhir. Artinya, para karyawan yang terdampak masih memiliki waktu sekitar satu setengah tahun untuk bersiap, meskipun ketidakpastian tetap menghantui hari-hari mereka.
Biaya Pesangon Mencengangkan: GoPro Siapkan Dana Ratusan Miliar Rupiah
Tentu saja, PHK massal tidak bisa dilakukan secara gratis. Mereka pun memperkirakan biaya restrukturisasi yang harus mereka tanggung mencapai sekitar 11,5 juta dolar AS hingga 15 juta dolar AS. Jika dirupiahkan, jumlah fantastis itu setara dengan Rp 195 miliar sampai Rp 255 miliar! Dana sebesar itu akan digunakan perusahaan untuk membayar pesangon serta memberikan manfaat kesehatan bagi para karyawan yang terdampak PHK.
Tekanan Bisnis Memuncak: Siapa Sebenarnya Musuh Utama GoPro?
Langkah efisiensi super agresif ini tentu tidak diambil tanpa alasan. Mereka saat ini sedang menghadapi tekanan bisnis yang luar biasa berat dalam beberapa tahun terakhir. Seperti dilansir San Francisco Chronicle, perusahaan harus berhadapan dengan persaingan sengit di pasar kamera aksi. Para produsen lain seperti DJI dan Insta360 terus meluncurkan produk-produk inovatif yang mampu mencuri perhatian konsumen.
Belum lagi, kemampuan kamera pada smartphone yang semakin canggih menjadi ancaman serius. Banyak pengguna kini merasa cukup menggunakan ponsel pintar mereka untuk merekam aktivitas sehari-hari, tanpa perlu membawa kamera aksi tambahan. Akibatnya, pangsa pasar GoPro tergerus perlahan namun pasti.
Strategi Jitu GoPro: Generasi Kamera Baru untuk Profesional
Namun, jangan dulu mengubur GoPro terlalu cepat! Perusahaan ini tidak tinggal diam menghadapi badai. Untuk memulihkan pertumbuhan, GoPro berencana menghadirkan generasi kamera baru yang lebih berfokus pada kebutuhan para profesional. Bukan lagi sekadar kamera aksi untuk amatir, tetapi perangkat canggih yang mampu memenuhi standar industri kreatif.
Produk ambisius tersebut akan ditenagai prosesor GP3 terbaru yang mereka klaim mampu meningkatkan kualitas gambar dan performa perangkat secara signifikan. Apakah langkah ini cukup untuk menyelamatkan GoPro dari keterpurukan? Hanya waktu yang akan menjawab.
Bukan Pengalaman Pertama: GoPro Sudah Berkali-kali PHK
Menariknya, PHK kali ini bukanlah yang pertama bagi GoPro. Perusahaan yang didirikan oleh Nick Woodman pada 2002 ini sebenarnya sudah beberapa kali melakukan pengurangan tenaga kerja. Misalnya, pada tahun 2024 lalu, mereka juga melakukan pemangkasan sekitar 15 persen karyawan sebagai bagian dari upaya efisiensi biaya. Artinya, gelombang PHK saat ini adalah kelanjutan dari strategi yang sudah mereka jalankan sebelumnya.
Sekilas Tentang GoPro: Dari Pelopor Hingga Kini Berjuang
Sebagai informasi tambahan, GoPro berbasis di San Mateo, California. Perusahaan ini dikenal sebagai pelopor kamera aksi yang banyak digunakan untuk merekam aktivitas olahraga ekstrem, perjalanan, dan berbagai kegiatan luar ruang. Sayangnya, kejayaan masa lalu tidak menjamin keberlangsungan bisnis di masa depan. Sekarang, mereka harus berjuang ekstra keras agar tidak tenggelam oleh rival-rival baru yang lebih gesit.
Apa Kabar Nasib Karyawan Tersisa?
Dengan hanya menyisakan sekitar 77 persen karyawan dari total sebelumnya, beban pekerjaan yang harus ditanggung oleh tim yang tersisa pasti akan meningkat drastis. Setelah PHK dilakukan, GoPro hanya akan memiliki kurang lebih 486 karyawan yang tersisa secara global. Pertanyaannya, apakah jumlah segitu cukup untuk menggerakkan roda perusahaan dan melahirkan inovasi-inovasi baru yang mampu menyelamatkan bisnis?
Pesan Penting dari Kisah GoPro
Kisah sukses GoPro yang kemudian harus merelakan ratusan karyawannya pergi memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bahkan perusahaan yang pernah menjadi raja di kategorinya sendiri pun bisa terpuruk jika tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Inovasi tidak boleh berhenti, dan kewaspadaan terhadap kompetitor harus terus dijaga.
Kini, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya dari GoPro. Apakah prosesor GP3 terbaru dan kamera generasi baru yang menyasar profesional akan menjadi penyelamat? Atau justru PHK besar-besaran ini menjadi awal dari keruntuhan total perusahaan? Satu hal yang pasti, dunia teknologi dan bisnis akan terus memantau perjuangan GoPro untuk bangkit dari keterpurukan.
Sementara itu, bagi para karyawan yang terdampak PHK, semoga pesangon yang telah disiapkan perusahaan dapat membantu mereka melewati masa transisi ini. GoPro memperkirakan total biaya restrukturisasi akan mencapai sekitar 11,5 hingga 15 juta dolar AS, yang sebagian besar digunakan untuk pesangon dan manfaat kesehatan karyawan terdampak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










