Dentmas.id – Lanskap industri teknologi dan finansial di Asia Tenggara mendadak geger akibat pengumuman spektakuler yang terbukti merubah peta persaingan. Raksasa penyedia layanan ride-hailing dan pengiriman, Grab, secara mengejutkan resmi mengeksekusi akuisisi saham mayoritas pada platform buy now pay later (BNPL) kenamaan asal Singapura, yaitu Atome Financial. Langkah amat berani ini langsung memicu sorotan tajam bagi kalangan pengamat ekonomi digital karena transaksi megah tersebut berpotensi besar mengacak-acak tatanan pasar pinjaman konsumen regional.

Tanpa ragu sedikit pun, pihak Grab merogoh kocek sangat dalam dengan menggelontorkan dana segar fantastis mencapai 1,49 miliar dollar AS, atau setara dengan Rp26,4 triliun. Angka yang terbilang amat mencengangkan ini digelontorkan demi mengamankan porsi kepemilikan saham terbesar di dalam tubuh platform kredit konsumer populer tersebut.
Berdasarkan dokumen resmi serta rilis pers yang dipublikasikan oleh pihak Grab, manajemen perusahaan memborong secara langsung sebanyak 60 persen saham Atome. Kesepakatan strategis ini berhasil disepakati setelah mereka melakukan negosiasi alot bersama entitas induk Atome, yakni Advance Intelligence Group, beserta konsorsium investor lainnya.
Menariknya lagi, rencana ekspansi Grab tidak berhenti sampai di situ saja. Pihak Grab ternyata sudah menandatangani komitmen lanjutan untuk mencaplok sisa 40 persen saham Atome dalam kurun waktu sekitar dua tahun setelah gelombang transaksi pertama ini rampung diselesaikan. Lantas, pemindahan sisa kepemilikan saham tersebut bakal dijalankan memakai skema khusus yang terikat ketat pada performa bisnis Atome ke depan.
Indikator keberhasilan dalam skema transaksi lanjutan itu mencakup pencapaian target pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), serta total pundi-pundi pendapatan bersih yang mampu dibukukan oleh Atome.
Melalui penerapan kalkulasi skema yang sangat kompleks tersebut, nilai valuasi keseluruhan dari Atome diperkirakan melambung tinggi hingga berada pada kisaran dua miliar sampai 4,5 miliar dollar AS—kira-kira setara Rp35,5 triliun hingga Rp79,8 triliun. Lebih lanjut, tim manajemen Grab memasang target bahwa seluruh proses akuisisi raksasa ini dapat diselesaikan secara penuh pada kuartal ketiga 2027.
Strategi Cerdas Menguasai Pasar dan Pangkas Kerugian
Bagi Grab sendiri, keputusan korporasi yang terbilang sangat agresif ini memberikan fondasi yang jauh lebih kokoh di dalam ranah bisnis penyaluran pinjaman dana konsumen, terutama untuk menguasai pasar utama di kawasan Asia Tenggara.
Bahkan, manuver pencaplokan ini diyakini bakal sangat membantu Grab dalam memperluas jangkauan portofolio layanannya. Alhasil, mereka tidak cuma bisa mendongkrak laju pertumbuhan bisnis inti secara masif, tetapi juga sanggup menjaring jutaan pengguna baru yang membutuhkan akses pembayaran fleksibel.
Dengan nada optimis, Grab memproyeksikan portofolio pinjaman kotor milik mereka bakal melesat pesat hingga melampaui angka enam miliar dollar AS pada 2028 mendatang setelah mengombinasikan lini bisnis Atome. Sasaran baru ini jelas mengalami lonjakan yang sangat signifikan jika kita bandingkan dengan target lama mereka yang cuma mematok angka lebih dari tiga miliar dollar AS sampai akhir 2026.
Presiden sekaligus Chief Operating Officer Grab, Alex Hungate, membeberkan alasan krusial di balik keputusan besar ini. Kendati Grab sebelumnya sudah meracik dan mengoperasikan fitur paylater milik mereka sendiri di kawasan Malaysia serta Singapura, kehadiran Atome dipastikan bakal memacu akselerasi ekspansi bisnis finansial mereka ke pasar-pasar potensial lain seperti Filipina, Indonesia, dan Thailand secara jauh lebih cepat.
Padahal, jika kita menengok ke belakang, Grab sebenarnya sudah berkecimpung di dalam dunia pembayaran secara bertahap sejak 2019. Pada saat itu, mereka meluncurkan fasilitas cicilan tanpa bunga khusus bagi para konsumen melalui kongsi usaha patungan (joint venture) bersama raksasa penyedia kartu kredit asal Jepang, Credit Saison.
Akan tetapi, Hungate secara blak-blakan mengungkapkan bahwa keputusan memborong Atome merupakan jalan pintas yang jauh lebih efektif bagi Grab untuk langsung memperbesar skala bisnisnya. Langkah cerdas ini dinilai sanggup menghindarkan perusahaan dari pembuangan waktu bertahun-tahun hanya demi membangun model risiko kredit mandiri dari nol, sekaligus menghindari potensi kerugian awal yang biasanya selalu menghantui fase pengembangan awal.
Di samping itu, Hungate menambahkan bahwasanya Grab dapat mengoptimalkan keberadaan tiga ekosistem bank digital berlisensi yang telah mereka miliki saat ini. Integrasi tersebut diyakini ampuh untuk memangkas biaya pendanaan (cost of funds) secara drastis atas seluruh aset pinjaman yang dikelola oleh Atome.
Langkah raksasa ini tergolong sangat realistis mengingat Grab kini sudah menancapkan taringnya di lebih dari 900 kota yang tersebar di Asia Tenggara. Tidak hanya itu, mereka juga sudah mengantongi lisensi operasional penuh untuk menjalankan lembaga pemberi pinjaman digital di tiga negara kunci, yaitu Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Target Keuangan Grab Langsung Direvisi Naik secara Fantastis!
Buntut dari pengumuman akuisisi yang sangat mengejutkan ini, manajemen Grab pun secara percaya diri merevisi naik seluruh target kinerja finansial jangka panjang mereka hingga 2028. Perusahaan kini menargetkan perolehan EBITDA yang disesuaikan mampu menyentuh angka 1,7 miliar dollar AS (sekitar Rp30,1 triliun), disertai proyeksi laju pertumbuhan pendapatan tahunan yang konsisten melampaui 30 persen pada rentang 2025 sampai 2028.
Lebih detail lagi, Chief Financial Officer Grab, Peter Oey, menerangkan bahwa bilamana seluruh tahapan integrasi ini mampu berjalan mulus sesuai jadwal, Atome Financial bersama dengan seluruh divisi layanan keuangan Grab diprediksi sanggup menyumbangkan angka EBITDA yang disesuaikan hingga 500 juta dollar AS (setara Rp8,8 triliun) pada 2028.
Sementara itu, sebagaimana dikutip dari laporan berita The Straits Times, penggabungan kedua entitas ini bakal melipatgandakan nilai total portofolio pinjaman kotor Grab hingga menembus angka lebih dari enam miliar dollar AS (atau setara dengan Rp106,5 triliun).
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









