Dentmas.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (IDX: GOTO) berhasil membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026, sekaligus mempertahankan tren positif setelah juga mencatatkan keuntungan pada kuartal sebelumnya. Pencapaian gemilang ini didorong oleh pertumbuhan eksplosif bisnis GoPay, lonjakan pendapatan sebesar 31% menjadi Rp5,7 triliun, serta peningkatan Core Gross Transaction Value (GTV) yang melesat hingga 83% secara tahunan (YoY). Sungguh kabar menggembirakan bagi para pemegang saham dan pengguna setia ekosistem GoTo!
Di tengah perubahan regulasi komisi transportasi online yang mulai berlaku pada Juli 2026, GoTo justru menunjukkan transformasi bisnis yang semakin matang dan adaptif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, lini Financial Technology (Fintech) berhasil menjadi penyumbang profitabilitas terbesar, bahkan melampaui bisnis On-demand Services yang selama ini identik dengan layanan Gojek. Sebuah pergeseran strategis yang patut diacungi jempol!
Berikut lima sorotan utama dari laporan kinerja GoTo pada kuartal II 2026 yang wajib Anda ketahui:
1. GoTo Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Berturut-turut
Setelah berhasil membukukan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I 2026, GoTo kembali mencetak laba bersih Rp252 miliar pada kuartal kedua. Ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan setelah beberapa tahun fokus melakukan efisiensi dan meningkatkan profitabilitas. Bayangkan, perusahaan yang dulu dikenal dengan strategi “bakar uang” kini mampu menunjukkan kinerja keuangan yang solid dan berkelanjutan!
Tak hanya laba bersih yang menggembirakan, pendapatan bersih perusahaan juga meningkat 31% YoY menjadi Rp5,7 triliun. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan tumbuh 137% YoY hingga menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Wow, pertumbuhan yang luar biasa! Core GTV juga meningkat signifikan menjadi Rp164 triliun, naik 83% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka-angka ini jelas menunjukkan bahwa strategi bisnis GoTo mulai membuahkan hasil yang manis.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi perusahaan mulai membuahkan hasil. “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Hans dengan penuh optimisme. Pernyataan ini tentu memberikan angin segar bagi para investor dan pengguna setia GoTo.
2. GoPay Resmi Jadi Mesin Profit Baru GoTo
Salah satu perubahan terbesar dalam laporan keuangan kali ini adalah bergesernya sumber profit utama GoTo. Untuk pertama kalinya, bisnis Fintech melalui GoPay berhasil menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi dibanding bisnis On-demand Services. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi diversifikasi bisnis yang dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil yang signifikan.
EBITDA yang disesuaikan pada segmen Fintech melonjak fantastis 447% YoY menjadi Rp481 miliar, sementara pendapatan bersih naik 53% YoY menjadi lebih dari Rp2 triliun. Di sisi pengguna, jumlah Monthly Transacting Users (MTU) mencapai 28,8 juta, meningkat 29% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat Indonesia yang mempercayakan transaksi digitalnya kepada GoPay.
Aktivitas transaksi pun semakin tinggi dan menggembirakan. Jumlah transaksi tumbuh 91% YoY menjadi 2,4 miliar transaksi, sementara Core GTV Fintech meningkat menjadi Rp157 triliun. Nilai buku pinjaman juga naik 58% menjadi Rp11 triliun, dengan kualitas kredit yang diklaim tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan yang begitu pesat ini menjadi bukti bahwa layanan keuangan digital semakin diminati oleh masyarakat.
Melihat tren pertumbuhan yang begitu positif, GoTo menaikkan target EBITDA bisnis Fintech sepanjang 2026 menjadi Rp1,7–1,8 triliun, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp1,4–1,5 triliun. Langkah ini menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek bisnis Fintech ke depan.
3. Bisnis Gojek Hadapi Aturan Komisi Baru
Meski perhatian banyak tertuju pada GoPay, lini On-demand Services yang menaungi Gojek masih menunjukkan kinerja positif yang patut diapresiasi. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp3,6 triliun, naik 20% YoY, sementara EBITDA yang disesuaikan meningkat 41% menjadi Rp464 miliar. Jumlah pesanan selesai juga naik 3% dibanding tahun lalu. Bukti bahwa layanan transportasi online masih menjadi andalan masyarakat Indonesia.
Namun, perusahaan mengakui fokusnya kini lebih mengarah pada peningkatan margin dibanding mengejar volume transaksi. Strategi ini diambil menjelang penerapan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan menetapkan struktur komisi baru untuk layanan transportasi roda dua daring. Tentu ini menjadi tantangan baru bagi bisnis Gojek ke depan.
Menurut Hans Patuwo, dampak regulasi tersebut baru akan mulai terlihat pada laporan kuartal III 2026. “Setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” katanya meyakinkan. Namun sebagai langkah antisipasi, GoTo menurunkan target EBITDA bisnis On-demand Services menjadi Rp1,4–1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Penyesuaian ini diambil untuk menghadapi dinamika regulasi yang baru.
4. Jumlah Pengguna Terus Bertambah hingga 71 Juta
Ekosistem GoTo juga semakin besar dari sisi pengguna. Sepanjang kuartal II 2026, jumlah Annual Transacting Users (ATU) mencapai 71 juta, meningkat 19% dibanding tahun sebelumnya. Artinya, lebih dari sepertiga populasi dewasa Indonesia kini menggunakan layanan dalam ekosistem GoTo, baik untuk transportasi, pembayaran digital, maupun layanan lainnya. Sungguh pencapaian yang luar biasa!
GoTo juga mencatat pertumbuhan pelanggan dengan tingkat pengeluaran tinggi (affluent) sebesar 21% YoY, yang menjadi salah satu faktor utama peningkatan profitabilitas. Di sisi lain, perusahaan mulai mengalihkan fokus pada produk yang lebih terjangkau untuk menjangkau segmen mass market, terutama setelah aturan komisi baru diterapkan. Strategi ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan inklusivitas layanan.
5. GoTo Siapkan Pembatalan 32 Miliar Saham Tresuri
Selain mengumumkan hasil keuangan yang menggembirakan, GoTo juga mengungkapkan rencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri, setara sekitar 2,7% dari total saham beredar. Langkah strategis ini masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Tentu ini menjadi kabar baik bagi para pemegang saham yang akan mendapatkan peningkatan nilai kepemilikan.
Di sisi lain, perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2–3,4 triliun untuk sepanjang 2026. Penyesuaian hanya dilakukan pada komposisi kontribusi masing-masing lini bisnis, yakni meningkatkan target Fintech dan menurunkan target On-demand Services sebagai respons terhadap regulasi baru. Langkah ini menunjukkan fleksibilitas dan ketangguhan perusahaan dalam menghadapi perubahan.
Hans menegaskan GoTo juga akan terus berinvestasi dalam ekosistemnya, termasuk memperluas berbagai program bagi mitra pengemudi seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, program beasiswa, hingga umrah gratis. Menurutnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak yang berada dalam ekosistem GoTo. Sebuah komitmen sosial yang patut diapresiasi!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










